Desemberku tiba
Aku senang akhirnya aku harus menghancurkan sisa kenangan yang kian menyusahkan.
Bersama semua keceriaan di malam tahun baru yang kian mendekat, aku harus belajar melepasmu dan berharap akan ada permulaan indah di depan sana.
Seperti akhir desemberku yang diterangi lampu-lampu kembang api yang pecah membabi buta bersama bintang di langit sana.
Tuan, ingin sekali aku merekatkan semua kenangan pada bara kembang api yang melesat cepat hingga berhamburan lepas di langit sana.
Pecah dan hilang kemudian di telan malam.
Kau pula.
Saat riuh tepuk tangan makin ramai merayakan kemenangan akan semua kenangan-kenangan yang siap untuk ditinggalkan, aku pula siap meninggalkan kamu.
Bersamaan tawaku yang melayang tak karuan menikmati malam pelepasan itu.
Semua kian kabur dalam ingatan.
Saat malam makin malam, semua riuh perlahan hilang.
Tawa-tawa perayaan tadi menyusut dan melemah hingga tak lagi terdengar.
Semua gemerlap kembang api yang berhamburan tiba-tiba melesat diam
Semua hening seperti malam-malam biasa.
Akupun sadar bahwa semua riuh tadi berganti gemuruh kerinduan padamu
Bahwa kenangan itu akan tetap menjadi kenangan yang pekat dan menggebu
Bahwa semua cerita itu akan tetap menyatu dalam aku
Bersamaan rindu yang kian menyusup penuh, aku pernah mencoba melupakanmu.
Desemberku tiba, dan aku masih tinggal di masa itu.
0
Ada yang Diam-diam
Ada yang diam-diam tersipu melengkungkan bibirnya dengan kaku, saat kikuk jumpa pertama denganmu. Begitu syahdu.
Ada yang kemudian duduk diam, usai dibuatmu lemas kakinya tak karuan, saat kau tegak menatapnya dengan pelan.
Ada yang diam-diam mengharap temu, saat gelak tawa lalu kemudian samar dan dirindukan.
Ada yang diam-diam tak henti melirik handphone. Berharap matanya mengeja nama yang bertengger disana. Lalu tiada.
Ada yang gentar hatinya menunggumu melaju. Saat pintu rumah terbuka begitu mudah. Kau sudah diambangnya.
Ada yang kemudian berselimut takut. Sesaat dengan perlahan kau mulai diam-diam menghilang. Dia gusar tak karuan.
Ada yang sebegitu mudah meniti jalan baru, sesaat ketika nyaman sudah digenggam. Dan kau menjauh perlahan.
Percayalah, tuan.
Meski melangkah paling hati-hati, ada saatnya hati terluka lagi. Terjatuh padamu, dan menjadikanmu obat takutku adalah salah. Menjadikanmu tujuan agar kaki akhirnya lelah bermain-main dimasa lalu, bahwa duniaku bukan hanya tentang itu. Sudah berakhir.
Semoga kau tak lekang menjauh sebab mencari nyaman-nyaman yang lain. Akhirnya aku harus mundur dan kembali pada jalanku sendiri. Terima kasih singgah sebentar, nyamanku.
Aku Siapkan Secangkirnya, Kau Siapkan Sebongkahnya
Pernah kulihat damainya jemari bunda menari-nari di ujung secangkir kopi ayah.
Pahitnya lari terbirit dan berganti manis sampai ubunku.
Hangatnya menyapu basah embun yang melenggang santai lalu hilang.
Tiap fajar dan petang.
Yah, damai itu kusaksikan indah di ujung inderaku.
Kurekam jelas fasihnya bunda memperlakukan ayah seraja itu.
Untuk apa? untuk kamu tuanku.
Nanti.
Sosok bunda mengalir dalam aku, dan kamu jadi tuanku.
Siap kurajaimu seperti ayah dirajai bunda.
Tenang sayang, kopiku tak kalah manisnya dibanding punya bunda.
Kuseduh kopi bersama cinta yang larut bersama air, tersaji rapi sekali.
Cintanya tak benar larut sayang, ia tenggeram bersama tegukkan kopi yang merajalela sampai tubuhmu.
Sampai kau minta itu berulang kuberi.
Sabar, sayang. Itu nanti.
Tapi, aku ingin ada wangian cinta saat kuseduh kopi bersamanya.
Wangian berwarna merah dan cantik sekali walau berduri.
Sungguh kau pasti tahu, tuanku.
Supaya kenyang pula daku oleh cintamu.
Fajar dan petang.
Kusiapkan kau secangkirnya, kau siapkan sebongkah mawarnya.
Deal?
Pahitnya lari terbirit dan berganti manis sampai ubunku.
Hangatnya menyapu basah embun yang melenggang santai lalu hilang.
Tiap fajar dan petang.
Yah, damai itu kusaksikan indah di ujung inderaku.
Kurekam jelas fasihnya bunda memperlakukan ayah seraja itu.
Untuk apa? untuk kamu tuanku.
Nanti.
Sosok bunda mengalir dalam aku, dan kamu jadi tuanku.
Siap kurajaimu seperti ayah dirajai bunda.
Tenang sayang, kopiku tak kalah manisnya dibanding punya bunda.
Kuseduh kopi bersama cinta yang larut bersama air, tersaji rapi sekali.
Cintanya tak benar larut sayang, ia tenggeram bersama tegukkan kopi yang merajalela sampai tubuhmu.
Sampai kau minta itu berulang kuberi.
Sabar, sayang. Itu nanti.
Tapi, aku ingin ada wangian cinta saat kuseduh kopi bersamanya.
Wangian berwarna merah dan cantik sekali walau berduri.
Sungguh kau pasti tahu, tuanku.
Supaya kenyang pula daku oleh cintamu.
Fajar dan petang.
Kusiapkan kau secangkirnya, kau siapkan sebongkah mawarnya.
Deal?
Kelak Lumpuh Berlalu
Kelak berlalu.
Yang menjadi masa lalu tinggal lalu.
Lantas, apa yang ditunggu?
Daku hanya perlu melaju jangan ragu.
Oh, sungguh.
Jika melajuku bisa melaju.
Sudah dari dulu daku rela beradu padu menyisir rapuh.
Melenggang hilang bak gerimis petang menjauh.
Nyatanya, kelakku susah berlalu.
Sudah kenyang ia lantaran cintanya terlalu.
Tersebab lukisan luka begitu utuh mendayu maju.
Menerkam siapa-siapa yang siap begitu.
Dakupun mati rindu, sungguh.
Entah siapa yang begitu terlalu.
Apa luka, kamu, atau daku.
Kemudian, aku menunggu untuk bisa melaju.
Menunggu bisa mensejajarkan langkah denganmu tuanku.
Meski begitu, aku tetap berhenti di kamu. Dengan kamu yang terus melaju tanpa aku.
Begitulah rupanya tuanku.
Kelakku memang susah dilalu.
Oh, smoga kau tak begitu.
Tak perlulah seperti aku yang lumpuh untuk melaju.
Tuanku.
Dia Mulai Lagi
Dia mulai lagi.
Setiap pagi, menanti aksara padat menyusut manis berkali-kali.
Membiarkan fikirnya mengembang pada gores cerita yany ia buat sendiri. Melukis berlembar-lembar yang akan ia baca lagi dan lagi.
Dia mulai lagi.
Berdegup sendiri dan mengurung diam dalam-dalam. Menghapus luka yang terus berlari sendiri. Mendekap kuat sepi hingga dapat tertawa dengan rapi.
Dia mulai lagi.
Membuka hati pada hati yang bertepi. Mencari jalan agar lukanya renyah dimakan musim kali ini. Melarikan rapuh menjemput senyum yang pernah mati.
Dia mulai lagi.
Dia mulai berani, jatuh cinta lagi.
Ini Perihal Rinduku
Ini perihal rinduku yang tak berkesudahan.
Menyusup rapi dalam tegarku yang tinggal setengah.
Rapuh dan melunturkan kuat menahannya.
Beginikah rasanya, tuan?
Bisakah kau jelaskan siapa pemilik rindu ini?
Tiap-tiap yang datang dan pergi melenggang samar hingga hilang bak kabut pagi ini.
Meninggalkan gigil kerinduan pada hati yang siap mengembang.
Tuan, lelah rasanya.
Membiarkan rindu ini berkembang pesat sendirian.
Semakin ditahan, makin melahirkan rindu-rindu kecil akan dirimu.
Suaramu, tawamu, lelucon konyolmu yang kerap kali kau tancapkan pada obrolan-obrolan lalu.
Bahkan aku rindu caramu melukis sakit sedalam itu.
Kau pergi dan hanya meninggalkan bekas kerinduan yang tak terjamah oleh yang lain.
Bisakah datang menghapusnya?
Membuat rindu kian samar hingga jadi damai.
Ah, jikalau kau datang malah membuat gentar hatiku menahanmu menetap.
Hingga kadar rinduku pun makin menjadi saat kau pilih akan pergi lagi.
Sudahlah, biar rindunya menggebu dalam sendiriku.
Biar ia mati nanti.
Sekali lagi, ini perihal rinduku yang tak berkesudahan.
Menyusup rapi dalam tegarku yang tinggal setengah.
Rapuh dan melunturkan kuat menahannya.
Beginikah rasanya, tuan?
Bisakah kau jelaskan siapa pemilik rindu ini?
Tiap-tiap yang datang dan pergi melenggang samar hingga hilang bak kabut pagi ini.
Meninggalkan gigil kerinduan pada hati yang siap mengembang.
Tuan, lelah rasanya.
Membiarkan rindu ini berkembang pesat sendirian.
Semakin ditahan, makin melahirkan rindu-rindu kecil akan dirimu.
Suaramu, tawamu, lelucon konyolmu yang kerap kali kau tancapkan pada obrolan-obrolan lalu.
Bahkan aku rindu caramu melukis sakit sedalam itu.
Kau pergi dan hanya meninggalkan bekas kerinduan yang tak terjamah oleh yang lain.
Bisakah datang menghapusnya?
Membuat rindu kian samar hingga jadi damai.
Ah, jikalau kau datang malah membuat gentar hatiku menahanmu menetap.
Hingga kadar rinduku pun makin menjadi saat kau pilih akan pergi lagi.
Sudahlah, biar rindunya menggebu dalam sendiriku.
Biar ia mati nanti.
Sekali lagi, ini perihal rinduku yang tak berkesudahan.
Dia Pernah Begitu
Dia pernah begitu lumpuh.
Melangkah maju meski beradu padu dengan rindu.
Dia pernah begitu gusar,
menjahit satu persatu sayap-sayap yang kian runtuh begitu pilu.
Sendirian.
Dia pernah begitu terjatuh, hingga bening dimatanya tak lagi anggun terkurung di dalamnya.
Jatuhlah ia sampai tumpah ruah.
Dia pernah merasa begitu utuh, saat kau melenggang menjauh darinya.
Sekarang runtuh.
Dia pernah bertahan sendirian, meniti jalan menanti si tuan penghapus lara.
Lama sekali.
Dia pernah merasa begitu takut,
saat pintu hati terbuka mudah.
Lukisan luka lama memudar tapi diganti dengan luka baru.
Dia pernah merasa begitu sempurna,
saat sayap-sayap patah lalu kemudian dijahit manis olehmu.
Tuan si pemilik nyaman.
Dia pernah merasa begitu cemburu,
padamu tuan yang masih mencinta masa lalu.
Begitu terlalu.
Dia pernah mencoba menjauh, saat kau terlihat mundur perlahan,
ternyata sadar dia adalah dermaga persinggahan.
Tuan,
dia pernah sebegitu terluka,
untuk tidak melalui banyak hati,
untuk tidak terluka (lagi).
Melangkah maju meski beradu padu dengan rindu.
Dia pernah begitu gusar,
menjahit satu persatu sayap-sayap yang kian runtuh begitu pilu.
Sendirian.
Dia pernah begitu terjatuh, hingga bening dimatanya tak lagi anggun terkurung di dalamnya.
Jatuhlah ia sampai tumpah ruah.
Dia pernah merasa begitu utuh, saat kau melenggang menjauh darinya.
Sekarang runtuh.
Dia pernah bertahan sendirian, meniti jalan menanti si tuan penghapus lara.
Lama sekali.
Dia pernah merasa begitu takut,
saat pintu hati terbuka mudah.
Lukisan luka lama memudar tapi diganti dengan luka baru.
Dia pernah merasa begitu sempurna,
saat sayap-sayap patah lalu kemudian dijahit manis olehmu.
Tuan si pemilik nyaman.
Dia pernah merasa begitu cemburu,
padamu tuan yang masih mencinta masa lalu.
Begitu terlalu.
Dia pernah mencoba menjauh, saat kau terlihat mundur perlahan,
ternyata sadar dia adalah dermaga persinggahan.
Tuan,
dia pernah sebegitu terluka,
untuk tidak melalui banyak hati,
untuk tidak terluka (lagi).
Ada yang Diam-diam
Ada yang diam-diam tersipu melengkungkan bibirnya dengan kaku, saat kikuk jumpa pertama denganmu. Begitu syahdu.
Ada yang kemudian duduk diam, usai dibuatmu lemas kakinya tak karuan, saat kau tegak menatapnya dengan pelan.
Ada yang diam-diam mengharap temu, saat gelak tawa lalu kemudian samar dan dirindukan.
Ada yang gentar hatinya menahan rindu, saat sayap-sayap rapuh tak mampu menggiring rindu nan sayu.
Ada yang merasa begitu sempurna, saat luka mengubah tawa, sekarang rapuh jua.
Ada yang belum merasa usai, ketika dibuatnya patah hatimu nan gusar. Namun malah kau biarkan
Tuan, ada yang diam-diam memelukmu dari kejauhan. Menyebutmu ikhlas dalam doa yang damai.
Percayalah.
Sedang Apa Rupanya
Sedang apa rupanya kau di balik tawamu nan bisu itu?
Aku tak apa.
Sedang apa rupanya kau dibalik tawamu nan rapuh itu?
tersenyum dan menjawab lagi "aku tak apa"
Sedang apa rupanya kau dibalik tawamu nan palsu itu?
Diam dan tumpah ruahlah mutiaranya.
Mengapa diam?
Siapa yang salah ketika satu hati begitu mencinta namun kemudian patah dibuatnya? Saat semua luka kemudian sembuh sendirinya, dia hadir dan membawa gelak tawa. Aku kembali rapuh, saat itu juga.
Kembalilah sepertimu. Dia adalah yang pernah membuatmu begitu patah.
Berlabuhlah Selalu
Berlabuhlah terus di tempat-tempat baru
Jika bagimu lekat dengan bahagia
Tak apa, teruskanlah
Berlabuhlah selalu
Bukan apa-apa bagiku
Sungguh kau hidup dalam aksaraku
Mengendap lagi mengharu biru
Menghalau mimpiku pada yang tak sepertimu
Berlabuhlah selalu
Tak apa, tak lantas aku pantas karna itu
Aku seperti luka yang tak bisa sembuh
Usah menoleh karna itu
Berlabuhlah selalu kasih abadiku
Aku tak apa
Meski ia tumpah ruah
Tak lantas kau menoleh padaku, perempuan pecandu kamu
Jika bagimu lekat dengan bahagia
Tak apa, teruskanlah
Berlabuhlah selalu
Bukan apa-apa bagiku
Sungguh kau hidup dalam aksaraku
Mengendap lagi mengharu biru
Menghalau mimpiku pada yang tak sepertimu
Berlabuhlah selalu
Tak apa, tak lantas aku pantas karna itu
Aku seperti luka yang tak bisa sembuh
Usah menoleh karna itu
Berlabuhlah selalu kasih abadiku
Aku tak apa
Meski ia tumpah ruah
Tak lantas kau menoleh padaku, perempuan pecandu kamu
Ternyata Daku Sangat Kehilanganmu
Tulisan ini di tulis di tengah kesibukkanku menyelesaikan skripsiku. Lama sekali membuat blog ini tak berpenghuni, lama pula tak ku tegur sosokmu yang begitu tak kuanggap sebagai orang dekatku. Dan kesadaranku itu kemudian menyeruak dalam kesedihan yang begitu dalam....
Kamu apa kabar kawan? lama sekali kita tidak berbincang-bincang di sosmed. Kesibukan kita yang semakin memuncak membuat kita tak sadar bahwa kita sudah jauh. Jarak kita yang memang cukup jauh juga status kita yang hanya sebatas teman akrab. Ini bukan melulu soal hati yang patah, ini lebih dari sekedar sakit hati, ini tentang persahabatan yang tak jua aku sadari hingga kehilangan yang memelukku. Entah kau pula merasa sama, atau hanya aku yang menganggapmu sebagai sahabat jauhku....
Kita teman akrab, pernah sekelas di awal SMA, hanya 1 tahun saja. Iya, tapi aku menyadari kamu dekat denganku, kutegaskan lagi walaupun itu hanya satu tahun lamanya. Sosokmu begitu dekat, hingga tak 1 kelas lagi pun aku masih merasa dekat denganmu, entah apakah kaupun merasa sama? 3 tahun lamanya, kita pun harus melanjutkan study masing-masing. Terakhir pula aku bertemu denganmu dan sempat kuminta kau berfoto denganku. Sadar atau tidak, itulah foto terakhir aku bersama denganmu....
3 tahun lamanya pula, sore itu aku mendapatkan kabar tak baik. Kamu pergi, ya, kamu pergi selamanya. Bagaimana mungkin wanita sepertiku tak panas matanya, tak bergetar bibirnya, tak resah hatinya mendengar kabar yang begitu mengejutkan? Sangat berharap bahwa itu hanya berita kosong, sibuk kucari informasi dan kudapati bahwa hal itu benar adanya. Mataku memang hanya panas, tak sampai tumpah mutiaranya, tapi tak ada yang tau bahwa rasa yang aneh itu pun muncul dalam hatiku dan menetap di sana.
Malam pun tiba, terngiang-ngiang dalam fikiranku tentang kamu. Entahlah, begitu saja semuanya berlulu lalang dalam fikiranku, dalam ingatanku tentang masa kita dulu di SMA. Memang singkat sekali, tapi tak banyak yang tau, bahwa hal singkat itu sangat berkesan untukku. Kulihat semua foto-foto kita, semua chattingan kita, video buatanmu, kebaikkanmu, kekonyolanmu, aneh, cerdas, lucu, dan semua tentang kamu. Aku rindu menggodamu dengan memanggil sebutan "qaqa fegi", aku rindu chatting denganmu. Dan sekarang, ruang chatting itu kosong tak berpenghuni.
Malam itu juga, tak ada yang tau bahwa untuk pertama kalinya, aku ikhlas membiarkan mutiaraku mengalir adanya hanya untuk kamu. Tak ada yang tau kan bahwa aku merasa aneh malam itu juga, timbul perasaan yang begitu aneh dan aku sadar bahwa aku baru saja kehilangan orang sepertimu. Sudah kubilang, tak ada yang tau tentang keberkesananku selama kenal denganmu. Tak ada yang bisa aku lakukan malam itu, selain membiarkan bibirku komat-kamit berdoa untukmu di sana. Sahabatku, aku sangat ikhlas mendoakanmu hingga mutiaraku pun tak sanggup ditampung lagi. Taukah kamu bahwa itu bukti bahwa aku sangat merasa kehilanganmu.
Singkat sekali kawan, kamu pergi begitu cepat, kurang lebih 3 tahun kita tidak pernah bertemu usai acara perpisahan SMA. Semakin jauh sekali kamu sekarang kawanku yang hebat, bahkan kami tidak bisa melihatmu lagi untuk selamanya.
Sahabatku yang hebat, dulu kamu pernah berkata tentang tulisanku di blog ini, kamu bilang akan menjadikan sebuah komik. Rasanya sekarang aku ingin menagih itu darimu. Kamu ingat?
Esoknya, kuputuskan untuk datang ke rumahmu untuk memuaskan rindu yang kian memuncak hingga kau pun tak bisa merasakan rindu itu. Rasa tak sabar sekali aku ingin datang ke rumahmu, mengingat terakhir kali ke rumahmu adalah ketika buka bersama alumni kelas X. Kamu masih ingat? Hari itu, aku datang dengan perasaan yang tak karuan, takut, resah, haru. Suasana yang berbeda dari yang dulu. Rumahmu masih sama seperti dulu, tapi tak kudapati kamu yang dulu. Di sini seperti hampa, entahlah.
Kudapati kamu sudah tidur nyenyak sekali kawan, berselimut rapi seakan kau kedinginan. Kamu tak menyambut kedatangan kami kawan, kamu terbujur kaku. Sungguh, aku tak bisa menyaksikan ini, untung saja mataku bisa diajak berteman untuk tidak tumpah ruah airnya. Sungguh betapa tak lagi kami menyaksikan kekonyolanmu, kreatif, dan anehnya tingkahmu.
Pandangku tak lepas dari selimut yang menutupmu, rasanya ingin sekali membukanya dan membangunkanmu kawan. Penuh harapku pula saat itu kamu bangun kembali. Tapi kembali lagi kataku tadi, tak ada yang bisa aku lakukan selain membiarkan bibirku komat-kamit mendoakanmu di sana. Kemudian, kami memutuskan untuk melihatmu terakhir kalinya. Kawanku, kamu tampan sekali dengan wajah yang bersih berseri dengan senyum yang mengulum di bibirmu. Apakah itu tanda kamu sedang melihat pintu surga? Begitu ikhlas sekali kamu pergi kawan.
Aku melihat ibumu, ayahmu, dan kakakmu, mereka begitu tegar, kuat. Ibumu tak lagi menangis, pula ayah dan kakakmu dan alangkah lancangnya jika aku menangis di depan sana. Tapi saat kusaksikan ayahmu mengelus kening dan menciummu beberapa kali sambil berucap lembut, sungguh, mataku terasa panas dan ingin sekali menumpahkannya. Sempat kulihat teman yang lain, mereka jua sama sepertiku, ketika hampir saja tumpah, kukedipkan saja beberapa kali, syukur tak jadi.
Semua proses pemakaman kuikutkan, sangat jelas pula aku melihatmu untuk terakhir kali. Membiarkan memoriku merekam hal ini untuk dijadikan sebagai kenangan yang tak akan pernah aku lupakan. Duhai sahabatku, sungguh, tak sanggup sekali aku melihatmu terbujur kaku tak berdaya itu. Kamu sudah pergi dan sekarang hidup di alam lain. Sungguh kawan, kamu begitu sangat dekat denganku sekarang, dan masih tak bisa kupercaya, kamu benar-benar pergi dan daku benar-benar merasa kehilanganmu.....
Sudah kubilang, entah diposisikan apa aku di dalam kehidupanmu, teman biasa atau sahabatmu. Aku merasa begitu sangat kehilanganmu, dekat atau tidak lagi, akrab atau tidak kamu tetaplah sahabatku yang hebat, kreatif, aneh, cerdas, ketahuilah, aku sangat kehilanganmu....
Sekarang, tak ada yang bisa kami lakukan selain mendoakanmu, tak ada yang bisa membantu selain doa. Tak ada yang bisa mengobati rindu kami padamu selain doa pula. Kami sangat merindukanmu sobat. Kami sadar pula bahwa rindu itu akan menjadi-jadi ketika kepergianmu begitu cepat dan sangat tak disangka ini. Dimana kamu sekarang sahabat kamu yang hebat?
Sahabatku yang hebat, bagaimana kabarmu sekarang di sana? Masih ingat kami di sini?
Sahabatku yang kuat, bagaimana malammu di sana? Sendirian dan tak punya teman?
Sahabatku yang tampan, bagaimana kehidupanmu yang baru? Sebenarnya kamu pun belum usai bertemu denganmu dalam dimensi yang fana ini, tapi Pemilikmu sudah memelukmu sekarang.
Sahabatku yang baik, bagaimana kamu disana?
Sahabatku, betapa kamu harus tau, semua teman sekolahmu, teman kuliah, guru-guru, dosen, terlebih lagi keluargamu merasa sangat kehilanganmu. Kenapa kamu pergi? kenapa kamu meninggalkan cerita yang belum usai pula kamu tulis? Kenapa kamu menyelesaikan hidup yang belum kamu selesaikan pula?
Sahabatku, kami sangat merindukan karya-karyamu, kami sangat merindukan kekonyolanmu. Kuyakinkan diri bahwa kamu sejati dihati kami, kamu abadi.
Sahabatku, Fegi Yoza Agazi, sekarang kamu sudah pergi dan kami semua tak tau bagaimana cara berkomunikasi denganmu lagi. Kami tak kan pernah bisa melihatmu lagi, dan kami hanya bisa diberi 1 cara untuk mengobati rindu, yakni mendoakanmu. Sahabat kami, sungguh, betapa kusesali kepergianmu. Maafkan aku, sempat kesal dan marah ketika tak bisa kau membantuku untuk urusan skripsiku ini. Betapa egoisnya aku, memang. Dan sangat aku sesali, ketika sadar, bahwa kau pula tengah berjuang melawan penyakitmu. Maafkan aku....
Sahabatku, sungguh, tak tau lagi bagaimana caranya aku berkomunikasi memohon maaf atas kesalahan yang aku perbuat. Mungkin, inilah penyebab mengapa aku masih saja menangisimu setelah 2 hari berlalu. Aku masih merasa sangat kehilanganmu. Kamu tau? kamu sempat mampir dalam mimpi malamku ketika terakhir kali kamu menginap di rumahmu sendiri sebelum kamu pun pulang ke tempat keabadianmu. Kau nampak sama seperti awal SMA, konyol dan aneh. Aku ingin melihatmu lagi kawan, aku sangat merindukanmu.....
Sahabatku, sungguh, kau takkan bisa merasakan bagaimana tegangnya sidang skripsi, bagaimana kamu mempunyai pekerjaan yang membuatmu sukses, bagaimana nanti kamu melamar wanitamu, bagaimana nanti kamu akan menikah, bagaimana nanti kamu menjadi seorang ayah. Kamu tidak akan pernah merasakan hal itu.
Sahabatku, sekarang kau sibuk dengan urusan barumu di sana, dan kami pun harus tetap melanjutkan cerita dengan tidak meniadakanmu dalam kisah selanjutnya. Kamu abadi, sejadi di hati kami, kamu tetap hidup di hati kamu. Walau tak lagi bisa kita berkomunikasi, tapi kamu, karya-karya hebatmu sejati dalam kenangan kami. Tenang di sana, diampuni dosa-dosamu, serta diltempatkan di tempat yang layak di sisi-Nya. AAMIIN. Selamat jalan kawan, calon sarjana hebat. Kami akan sangat merindukanmu.
Sungguh, banyak sekali yang kamu tinggalkan kawanku yang hebat dan ternyata kami sangat kehilangan hal apapun yang menyangkut tentang dirimu. Kita keluarga, dan kami begitu menyayangimu.....
Teruntuk sahabat kami, Fegi Yoza Agazi Bin M. Zamil, Al Fatihah.........
Kamu apa kabar kawan? lama sekali kita tidak berbincang-bincang di sosmed. Kesibukan kita yang semakin memuncak membuat kita tak sadar bahwa kita sudah jauh. Jarak kita yang memang cukup jauh juga status kita yang hanya sebatas teman akrab. Ini bukan melulu soal hati yang patah, ini lebih dari sekedar sakit hati, ini tentang persahabatan yang tak jua aku sadari hingga kehilangan yang memelukku. Entah kau pula merasa sama, atau hanya aku yang menganggapmu sebagai sahabat jauhku....
Kita teman akrab, pernah sekelas di awal SMA, hanya 1 tahun saja. Iya, tapi aku menyadari kamu dekat denganku, kutegaskan lagi walaupun itu hanya satu tahun lamanya. Sosokmu begitu dekat, hingga tak 1 kelas lagi pun aku masih merasa dekat denganmu, entah apakah kaupun merasa sama? 3 tahun lamanya, kita pun harus melanjutkan study masing-masing. Terakhir pula aku bertemu denganmu dan sempat kuminta kau berfoto denganku. Sadar atau tidak, itulah foto terakhir aku bersama denganmu....
3 tahun lamanya pula, sore itu aku mendapatkan kabar tak baik. Kamu pergi, ya, kamu pergi selamanya. Bagaimana mungkin wanita sepertiku tak panas matanya, tak bergetar bibirnya, tak resah hatinya mendengar kabar yang begitu mengejutkan? Sangat berharap bahwa itu hanya berita kosong, sibuk kucari informasi dan kudapati bahwa hal itu benar adanya. Mataku memang hanya panas, tak sampai tumpah mutiaranya, tapi tak ada yang tau bahwa rasa yang aneh itu pun muncul dalam hatiku dan menetap di sana.
Malam pun tiba, terngiang-ngiang dalam fikiranku tentang kamu. Entahlah, begitu saja semuanya berlulu lalang dalam fikiranku, dalam ingatanku tentang masa kita dulu di SMA. Memang singkat sekali, tapi tak banyak yang tau, bahwa hal singkat itu sangat berkesan untukku. Kulihat semua foto-foto kita, semua chattingan kita, video buatanmu, kebaikkanmu, kekonyolanmu, aneh, cerdas, lucu, dan semua tentang kamu. Aku rindu menggodamu dengan memanggil sebutan "qaqa fegi", aku rindu chatting denganmu. Dan sekarang, ruang chatting itu kosong tak berpenghuni.
Malam itu juga, tak ada yang tau bahwa untuk pertama kalinya, aku ikhlas membiarkan mutiaraku mengalir adanya hanya untuk kamu. Tak ada yang tau kan bahwa aku merasa aneh malam itu juga, timbul perasaan yang begitu aneh dan aku sadar bahwa aku baru saja kehilangan orang sepertimu. Sudah kubilang, tak ada yang tau tentang keberkesananku selama kenal denganmu. Tak ada yang bisa aku lakukan malam itu, selain membiarkan bibirku komat-kamit berdoa untukmu di sana. Sahabatku, aku sangat ikhlas mendoakanmu hingga mutiaraku pun tak sanggup ditampung lagi. Taukah kamu bahwa itu bukti bahwa aku sangat merasa kehilanganmu.
Singkat sekali kawan, kamu pergi begitu cepat, kurang lebih 3 tahun kita tidak pernah bertemu usai acara perpisahan SMA. Semakin jauh sekali kamu sekarang kawanku yang hebat, bahkan kami tidak bisa melihatmu lagi untuk selamanya.
Sahabatku yang hebat, dulu kamu pernah berkata tentang tulisanku di blog ini, kamu bilang akan menjadikan sebuah komik. Rasanya sekarang aku ingin menagih itu darimu. Kamu ingat?
Esoknya, kuputuskan untuk datang ke rumahmu untuk memuaskan rindu yang kian memuncak hingga kau pun tak bisa merasakan rindu itu. Rasa tak sabar sekali aku ingin datang ke rumahmu, mengingat terakhir kali ke rumahmu adalah ketika buka bersama alumni kelas X. Kamu masih ingat? Hari itu, aku datang dengan perasaan yang tak karuan, takut, resah, haru. Suasana yang berbeda dari yang dulu. Rumahmu masih sama seperti dulu, tapi tak kudapati kamu yang dulu. Di sini seperti hampa, entahlah.
Kudapati kamu sudah tidur nyenyak sekali kawan, berselimut rapi seakan kau kedinginan. Kamu tak menyambut kedatangan kami kawan, kamu terbujur kaku. Sungguh, aku tak bisa menyaksikan ini, untung saja mataku bisa diajak berteman untuk tidak tumpah ruah airnya. Sungguh betapa tak lagi kami menyaksikan kekonyolanmu, kreatif, dan anehnya tingkahmu.
Pandangku tak lepas dari selimut yang menutupmu, rasanya ingin sekali membukanya dan membangunkanmu kawan. Penuh harapku pula saat itu kamu bangun kembali. Tapi kembali lagi kataku tadi, tak ada yang bisa aku lakukan selain membiarkan bibirku komat-kamit mendoakanmu di sana. Kemudian, kami memutuskan untuk melihatmu terakhir kalinya. Kawanku, kamu tampan sekali dengan wajah yang bersih berseri dengan senyum yang mengulum di bibirmu. Apakah itu tanda kamu sedang melihat pintu surga? Begitu ikhlas sekali kamu pergi kawan.
Aku melihat ibumu, ayahmu, dan kakakmu, mereka begitu tegar, kuat. Ibumu tak lagi menangis, pula ayah dan kakakmu dan alangkah lancangnya jika aku menangis di depan sana. Tapi saat kusaksikan ayahmu mengelus kening dan menciummu beberapa kali sambil berucap lembut, sungguh, mataku terasa panas dan ingin sekali menumpahkannya. Sempat kulihat teman yang lain, mereka jua sama sepertiku, ketika hampir saja tumpah, kukedipkan saja beberapa kali, syukur tak jadi.
Semua proses pemakaman kuikutkan, sangat jelas pula aku melihatmu untuk terakhir kali. Membiarkan memoriku merekam hal ini untuk dijadikan sebagai kenangan yang tak akan pernah aku lupakan. Duhai sahabatku, sungguh, tak sanggup sekali aku melihatmu terbujur kaku tak berdaya itu. Kamu sudah pergi dan sekarang hidup di alam lain. Sungguh kawan, kamu begitu sangat dekat denganku sekarang, dan masih tak bisa kupercaya, kamu benar-benar pergi dan daku benar-benar merasa kehilanganmu.....
Sudah kubilang, entah diposisikan apa aku di dalam kehidupanmu, teman biasa atau sahabatmu. Aku merasa begitu sangat kehilanganmu, dekat atau tidak lagi, akrab atau tidak kamu tetaplah sahabatku yang hebat, kreatif, aneh, cerdas, ketahuilah, aku sangat kehilanganmu....
Sekarang, tak ada yang bisa kami lakukan selain mendoakanmu, tak ada yang bisa membantu selain doa. Tak ada yang bisa mengobati rindu kami padamu selain doa pula. Kami sangat merindukanmu sobat. Kami sadar pula bahwa rindu itu akan menjadi-jadi ketika kepergianmu begitu cepat dan sangat tak disangka ini. Dimana kamu sekarang sahabat kamu yang hebat?
Sahabatku yang hebat, bagaimana kabarmu sekarang di sana? Masih ingat kami di sini?
Sahabatku yang kuat, bagaimana malammu di sana? Sendirian dan tak punya teman?
Sahabatku yang tampan, bagaimana kehidupanmu yang baru? Sebenarnya kamu pun belum usai bertemu denganmu dalam dimensi yang fana ini, tapi Pemilikmu sudah memelukmu sekarang.
Sahabatku yang baik, bagaimana kamu disana?
Sahabatku, betapa kamu harus tau, semua teman sekolahmu, teman kuliah, guru-guru, dosen, terlebih lagi keluargamu merasa sangat kehilanganmu. Kenapa kamu pergi? kenapa kamu meninggalkan cerita yang belum usai pula kamu tulis? Kenapa kamu menyelesaikan hidup yang belum kamu selesaikan pula?
Sahabatku, kami sangat merindukan karya-karyamu, kami sangat merindukan kekonyolanmu. Kuyakinkan diri bahwa kamu sejati dihati kami, kamu abadi.
Sahabatku, Fegi Yoza Agazi, sekarang kamu sudah pergi dan kami semua tak tau bagaimana cara berkomunikasi denganmu lagi. Kami tak kan pernah bisa melihatmu lagi, dan kami hanya bisa diberi 1 cara untuk mengobati rindu, yakni mendoakanmu. Sahabat kami, sungguh, betapa kusesali kepergianmu. Maafkan aku, sempat kesal dan marah ketika tak bisa kau membantuku untuk urusan skripsiku ini. Betapa egoisnya aku, memang. Dan sangat aku sesali, ketika sadar, bahwa kau pula tengah berjuang melawan penyakitmu. Maafkan aku....
Sahabatku, sungguh, tak tau lagi bagaimana caranya aku berkomunikasi memohon maaf atas kesalahan yang aku perbuat. Mungkin, inilah penyebab mengapa aku masih saja menangisimu setelah 2 hari berlalu. Aku masih merasa sangat kehilanganmu. Kamu tau? kamu sempat mampir dalam mimpi malamku ketika terakhir kali kamu menginap di rumahmu sendiri sebelum kamu pun pulang ke tempat keabadianmu. Kau nampak sama seperti awal SMA, konyol dan aneh. Aku ingin melihatmu lagi kawan, aku sangat merindukanmu.....
Sahabatku, sungguh, kau takkan bisa merasakan bagaimana tegangnya sidang skripsi, bagaimana kamu mempunyai pekerjaan yang membuatmu sukses, bagaimana nanti kamu melamar wanitamu, bagaimana nanti kamu akan menikah, bagaimana nanti kamu menjadi seorang ayah. Kamu tidak akan pernah merasakan hal itu.
Sahabatku, sekarang kau sibuk dengan urusan barumu di sana, dan kami pun harus tetap melanjutkan cerita dengan tidak meniadakanmu dalam kisah selanjutnya. Kamu abadi, sejadi di hati kami, kamu tetap hidup di hati kamu. Walau tak lagi bisa kita berkomunikasi, tapi kamu, karya-karya hebatmu sejati dalam kenangan kami. Tenang di sana, diampuni dosa-dosamu, serta diltempatkan di tempat yang layak di sisi-Nya. AAMIIN. Selamat jalan kawan, calon sarjana hebat. Kami akan sangat merindukanmu.
Sungguh, banyak sekali yang kamu tinggalkan kawanku yang hebat dan ternyata kami sangat kehilangan hal apapun yang menyangkut tentang dirimu. Kita keluarga, dan kami begitu menyayangimu.....
Teruntuk sahabat kami, Fegi Yoza Agazi Bin M. Zamil, Al Fatihah.........
Langganan:
Komentar (Atom)
Diposting oleh





