0

Lalu, Bagaimana dengan Perempuan Tulus Bernama AKU?



Dan waktu pun berjalan selayaknya, aku menyadari bahwa cinta ini tak cukup untuk dipendam semata. Beberapa tahun lamanya, ia masih saja tetata rapi dalam balutan kasih. Entahlah, aku tak pernah tau bahwa hatiku punya resep rahasia menjaga cinta ini hingga saat ini dan aku mulai berani mengumbarnya lewat sebuah buku yang sengaja aku coret dengan tanganku berisikan tentang cinta, tentang aku dan kamu, tentang perasaanku, tentang kesedihan dan kebahagiaan akan cinta yang aku miliki ini.Sejak saat itu, aku tau bahwa waktu sedang berpihak padaku, pada cinta milikku. Kau melirikku setengah mencinta, dan aku tau itu.
Aku milikmu, mulai saat itu. Lengkung bibirku sumringah membawa aku merasakan berjuta rasa yang begitu sulit untuk aku ungkapkan dengan kata. Lihat! Seharusnya saat itu kamu bisa melihat wajahku, semestinya kamu bisa melihat betapa aku merasakan sesuatu hal yang entah harus aku sebut apa. Taukah kamu, dalam hari-hariku sebelumnya, aku tiada lelah membawa-bawa namamu dalam ceritaku pada Tuhan. Dalam setiap sujudku, bibirku seolah tak pernah lupa untuk menyebut 1 nama, bernama kamu. Tuhan pun tak pernah bosan mendengarkan setiap doa-doa yang aku lantunkan. Dan aku tau, Tuhan mengabulkannya saat ini.
Tak beberapa lama dari itu, aku menangkap hal aneh yang bisa aku baca dari sikapmu itu. Iya, sikap yang kau tunjukkan padaku beberapa waktu yang lalu dengan saat ini, berbeda. Aku bisa membaca itu, dan kamu tidak pernah memahami bahwa aku jauh lebih peka darimu.
Tidakkah kamu ingat, semua ucapan-ucapan yang sengaja kamu lontarkan meski lewat sebuah telpon genggam. Dari sini, meskipun kamu tak yakin bahwa aku begitu ingat smuanya dan mengharapkan sebuah tindakan yang kamu janjikan. Aku mengingat itu dan ingin sekali menagihnya sekarang. Ingatkah kamu pada perempuan yang kamu puji dengan sebuah ketulusannya? Ingatkah kamu pada perempuan yang menulis sebuah cerita nyata berisi perasaannya? Ingatkah kamu pada perempuan yang terlihat maya dari sana tapi terlihat nyata ketika kamu baca kata demi kata pada sebuah buku itu? Ingatkah kamu pada perempuan yang kamu cinta atas dasar sebuah ketulusan? Ingatkah kamu pada perempuan yang kamu bilang dia tak pantas menjadi pacar tetapi lebih pantas menjadi seorang istri bagimu? Ingatkah bahwa perempuan itu adalah aku? Ingat?
Aku merasakan satu persatu kata itu mulai hilang. Kata-kata kamu menyayangi aku dan mencintai aku sudah hilang sejak saat itu, yaa sejak saat kamu mulai mengabaikan semua perasaanku. Meski hal itu sudah perlahan luntur, tidakkah kamu tau, aku masih saja membawa namamu dalam perbincangan panjangku pada Tuhan. Aku masih memintanya pada Tuhan. Kamu tidak sadar?
Bukankah, aku sudah memperingatkan bahwa sebenarnya aku tidak berniat bersamamu! Lalu mengapa godaan itu ada saja datang dan memaksa aku untuk meng-IYAkan pertanyaanmu waktu itu. Konsekwensinya aku rasakan saat ini, hey. Pernah kuucapkan bahwa aku tak ingin bersamamu, bukan, bukan karna aku tak mencinta. Aku bilang aku hanya takut suatu saat waktu merampasmu secara paksa dariku sedang aku lagi cinta-cintanya padamu. Bukankah itu hal yang paling-paling menyakitkan?
Dan inilah yang aku rasakan, aku mulai muak dengan perasaanku ini. Aku mulai menikmati gerimis kecil yang aku cipta ketika malam kelam datang. Aku mulai terbiasa menghiasi malamku dengan sepi tanpa kehadiranmu di layar handphoneku. Aku mulai membiasakan diriku sendiri kala sepinya malam yang hanya bisa diobati oleh kamu. Sadarkah kamu hal itu? Rasanya, sakit.
Kamupun pergi ketika aku sedang cinta-cintanya. Tidakkah kamu menyadari sisa sisa perasaan yang masih menggunung dalam hatiku. Ia masih tertata rapi disini, dan kamu pergi menyisakan tangis yang mendalam. Aku tertegun pada malam-malam dimana kita terbiasa memulai percakapan panjang tentang khayalan-khayalan masa depan kita nanti. Aku membisu dengan kata yang sulit aku lontarkan, dengan mata terpenuhi genangan. Kamu merasakan apa yang aku rasakan?
Inilah yang selalu aku takutkan, kepergianmu. Aku tidak tau akan menjadi seperti apa rasa-rasa yang terbiasa aku simpan selama beberapa tahun belakangan ini. Aku tidak tau akan ku bawa kemana semua rasa yang mungkin salah bagimu ini. Aku tidak tau akan jadi seperti apa aku yang tidak pernah bisa melupakanmu semenjak aku mencintamu beberapa tahun yang lalu. Karna yang aku tau, aku tetap bisa menjaga perasaan ini hingga tahun ke 3 semenjak aku mencintaimu dalam diamku.

Harus seperti apa perempuan biasa seperti aku? ketika kamu memilih pergi darinya dan memutuskan untuk tidak kembali lagi? Harus seperti apa perempuan itu, hingga sedemikian rupa ia bisa lupa dalam sekejab semua tentangmu, tentang janji-janjimu, tentang khayalan-khayalan yang sudah terlanjur?
Kamu memilih pergi karna satu hal yang sulit aku pahami, kamu memilih sendiri dan tak ingin bersama siapapun kecuali dia. Iya, dia perempuan lamamu. Bagaimana aku tak sulit memahamimu, karna seharusnya kamu bersamaku disini, merangkai bahagia dan mulai melupakan dia. Karna aku tau, ada aku disini. Perempuan yang kamu bilang adalah perempuan yang tulus.

Kamu pergi dengan diam dan tiada kata yang bisa kamu ucapkan sebagai pesan terakhir. Seolah kamu tak ingin kebahagiaan mendekatiku, kamu pergi dengan menciptakan raut yang membuat aku merasa kamu membenci aku. Perempuan yang begitu kamu puji dengan ketulusannya dan saat ini kamu membencinya. Iya, dia adalah aku. Salahku apa?
Kamu terlihat bahagia disana, berbeda dengan aku, aku terlalu terbiasa dengan perasaan-perasaan yang sulit aku hilangkan ini. Aku terbiasa mencintamu walau dalam diam. Aku terbiasa memiliki perasaan yang sudah berusia panjang ini. Aku terbiasa mencintaimu dan sudah terbiasa tidak mencintai lelaki lain selain kamu selama beberapa tahun ini. Dan kamu malah memilih pergi meninggalkan aku?
Lalu bagaimana dengan perempuan tulus bernama aku????

0 komentar:

Posting Komentar

Back to Top