0

Meninggalkanku yang Sedang Cintanya, Kamu. TEGA?

Malam itu, kuputuskan untuk menghubungimu lagi. Setelah tiada kutemukan hadirmu disudut ruanganku, tiada kutemukan namamu dilayar handphoneku, dan setelah tiada kurasakan desah suaramu melekat dipendengaranku. Aku kehilanganmu.

Berjarak beberapa hari setelah malam yang memecah bahagia yang biasa kita rajut bersama, semenjak saat itu aku merasakan ada yang benar-benar hilang. Malam yang biasa kita gunakan untuk merangkai tawa kini berbalas sepi sendiri. Tidak lagi kutemukan hadirmu disudut malamku. Kamu menghilang dan seolah tiada ingat dengan khayalan besar kita berdua. Kamu dan aku menjadi KITA. Kamu ingat itu?

Namun, yang kudapatkan hanya kosong. Kehampaan yang menggambarkan tanda tanya, takku temukan jawaban atas semua tanyaku. Seketika itu, kamu seolah menjadi lelaki bisu yang hanya bisa menatapku tanpa bisa melakukan apapun itu. Bodoh! Hanya satu kata yang kutangkap dari raut wajahmu itu, "Maaf". Ahh sudahlah, aku tak benar benar yakin kamu meminta maaf atas kesalahanmu ini. Iya, ini semua salahmu!

Kamu tetap diam, dan seolah berkata "aku akan pergi tanpa penjelasan". Hey! Kamu fikir kamu ini siapa? semudah itu datang dan pergi sesuka hati. Kamu ingat bahwa ini adalah hati, bukan persimpangan jalan yang bisa kapan saja kamu lewati. Kamu tau???!

Kamu, kamu tinggalkan dimana sebuah cinta yang dulu pernah kita ukir dalam jarak yang memeluk kita erat, dalam ceritamu yang melukiskan seorang perempuan tulus bernama aku? Kamu masih ingat dimana kamu meletakkan cinta untukkku? Disudut hatimu yang mana? Ingatkah?

Hanya satu kata saja, "pergi". Iya, itu memang hanya satu kata. Tak serumit rumus matematika, tak sepusing rumus fisika yang diturunkan, tak sedalam puisi-puisi sastra. Mudah bukan? Ya, Iya. Berlaku juga untuk yang ditinggalkan? Tidak! Kamu pergi dariku dan aku harus menata ulang semua perasaan-perasaan ini yang bahkan aku sudah lupa dimana kuletakkan perasaan sebatas teman untukmu. Aku sudah terbiasa dengan perasaan-perasaan yang mungkin salah ini, aku sudah terbiasa memilikinya dan diawali beberapa tahun yang lalu. Aku memilihmu untuk menghuni hati.

Heyy... Rasanya aku ingin bertanya baik-baik lagi denganmu mengenai masalah ini, mengenai kita. Aku ingin menatapmu saat ini juga dan mengumbarnya tepat didepan matamu. Aku ingin mendengar bahwa kamu benar-benar tidak peduli denganku (lagi). Kamu tau kenapa? Aku hanya ingin hatiku jera dan memutuskan untuk pergi pula meninggalkan kamu yang sudah lebih dulu meninggalkan aku.

Aku mencintaimu, semenjak mataku buta akan lelaki lain. Aku mencintaimu, semenjak aku tau aku seakan menjadi perempuan yang kamu sayang karna perasaan teramat dalam milikku ini. Aku mencintaimu, semenjak kata tak lagi bermakna. Aku mencintaimu, semenjak rasa menjadi sangat istimewa. Aku mencintaimu, semenjak malam terasa siang dan siang terasa malam. Aku mencintaimu, semenjak membawa namamu didalam bukuku. Aku mencintaimu, semenjak mengadukanmu pada Tuhan. Aku mencintaimu, semenjak aku sadar bahwa aku perempuan biasa dan ingin menjadi sempurna ketika dicintai olehmu, cinta. Aku mencitaimu, semenjak malam yang tiada henti memutarmu dalam lelapku. Aku mencintaimu, semenjak aku membawa-bawa bayangmu dalam hariku. Aku mencintaimu, semenjak kuputuskan hanya kamu yang akan aku perkenalkan dengan ayahku. Aku mencintaimu, semenjak aku tau bahwa aku mencintaimu. Aku mencintaimu tanpa tanda tanya, tapi aku mencintaimu dengan penuh kejelasan. Kamu paham?

Hingga akhirnya, kamu memutuskan untuk meninggalkan perempuan seperti aku, perempuan yang hanya bisa mengatakan mencintaimu namun kamu abaikan. Dengan puing-puing perasaan ini, harus kubawa kemana sisa-sisa perasaan yang masih cantik dan enggan beranjak pergi? Harus kubuang kemana sedang akupun masih menginginkannya tetap tinggal. Kamu meninggalkanku? Meninggalkan aku, perempuan yang pernah kamu cinta atas dasar ketulusan. TEGA?

0 komentar:

Posting Komentar

Back to Top