Hayy…. Iya kamu, kamu yang tiba-tiba tiada bisa aku pungkiri begitu saja hadir dalam setiap hariku. Bagaimana tidak, kita saling mengenal semenjak satu sekolah dan aku pun mulai benar-benar mengenalmu semenjak saat itu. Iya, saat kita dipaksa saling mengenal atas dasar pertemanan temanku. Aku tak begitu mengenalmu ketika awal masuk sekolah, justru aku tidak menghiraukanmu sedikitpun. Tapi hanya karna kamu adalah temannya temanku, akupun mulai mengenalmu mungkin bisa dikatakan lebih jauh.
Semenjak saat itu, ada hal berbeda yang aku tangkap dari sorot matamu. Ahh, entahlah apapun itu, aku sudah bisa mengartikan dari setiap sorot matamu yang memandangku. Dalam setiap pandang dimana kita tak sengaja bertabrak pandang, aku bisa merasakan hal yang berbeda. Matamu menatap tajam kedalam mataku, dan aku tau disitu tersirat sebuah makna yang sulit untuk dijelaskan. Entahlah, akupun saat itu malas untuk menjelaskannya pada bayanganku sendiri ketika aku bercermin dan tak sengaja mengingatmu kala itu. Seakan bayangmu menghantui pada setiap malam dimana akulah tokoh yang tersisksa selalu teringat bayangmu yang maya itu.
Yaaa, semakin hari semakin yakin bahwa kamu selalu menjadi-jadi dalam setiap malamku, aku menyimpanmu dalam setiap malam sepiku, walau secara berterus aku selalu berusaha mengubris semua bayanganmu itu. Tapi yang kudapatkan, kamu justru semakin menguat dalam pikiranku. Ahh, tak apalah pikirku, mungkin ini hal biasa dan seiring waktu berjalan semua akan hilang. Akupun mengizinkanmu mengobrak-abrik pikiranku dengan semua bayanganmu, kamu berhasil menguasai pikiranku dan membuat aku tak berdaya dengan semua bayangmu yang benar-benar terasa penat disana, dihatiku.
Kudapati kamu berhasil masuk kehatiku, tanpa bisa mengelaknya akupun membiarkan hal itu terjadi. Entahlah semua ini datang begitu saja, begitu sulit aku menjelaskannya. Dan aku sempat mengelak dengan mengatakan bahwa aku tidak sama sekali mempedulikan rasa ini. Tapi berjalannya waktu, rasa itu semakin menjadi-jadi dan membuat aku merasa benar-benar tersiksa atas ini. Kamu berhasil berkuasa didalam hatiku.
Memang, sejak awal berjumpa, ada hal yang sulit aku jelaskan. Bukan, bukan soal rasa tapi hal lain yang entahlah artinya apa. Hingga sampai saat ini akupun tak mengerti, mengapa waktu membawaku hingga mengenalmu lebih jauh seperti ini. Secuil pun, tak pernah aku meminta untuk mengenalmu seperti ini. Kamu tau kenapa? Aku hanya takut menjadi sakit seperti perempuan selayaknya. Aku takut mengenalmu dalam dengan alasan aku takut sakit. Bukankah itu masih manusiawi?
Semenjak mengenalmu, berbeda dengan mengenal lelaki lain sebelumnya. Ada hal aneh yang tersirat disini, dihatiku. Setiap kita bertabrak pandang, sedetik kemudian yang aku rasakan didadaku adalah detakan jantungku yang berdetak cepat. Setiap kita tak sengaja saling berpapasan, aku selalu menunggu lengkung bibirmu menyapaku dan membuat aku tersenyum pula. Ahh, kamu memang tak pernah bisa mengartikan pandanganku yang berpusat padamu. Kala dari kejauhan, mataku berkeliaran panjang menelusuri pandangku pada setiap sorot yang bisa dijangkau mataku. Aku mencarimu kala itu, mataku asyik bermain-main dengan bolanya menyeleksi wajah yang ketika pandangku terhenti padamu takkan kubiarkan melirik hal lain apapun disekitarku. Aku berpusat padamu.
Kamu tak seperti aku, yang mudah saja peka dengan semua apa yang ada didekatku. Terkadang, aku membatin dan memintamu untuk bisa sedikit saja peka dengan apa yang aku rasakan. Tapi, ahh sudahlah mungkin memang akulah yang diminta Tuhan untuk memiliki perasaan aneh seperti ini. Hingga aku tetap membiarkan perasaan ini tetap tumbuh dan menjadi sejadi-jadinya.
Harusnya aku tak pernah mengenalmu jika seperti ini akhirnya, harusnya dari awal kita tak pernah saling mengenal jika hanya aku yang benar-benar merasakan hal ini, seharusnya hanya Tuhan yang tau dan menyimpan rahasia besar ini, hanya Tuhan harusnya yang bisa mengartikan perasaan aneh ini. Dalam kelemahanku ini pun aku masih sempat mengatakan dan meminta Tuhan untuk mencabut perasaan yang tak pernah aku undang ini. Aku meminta Tuhan mengambilnya secara paksa dariku, aku meminta Tuhan menyingkirkannya dari hatiku. Karna buatku, aku sudah lelah dengan rasa ini, aku lelah dengan rasa yang tidak jelas ini, aku hanya ingin merasakan perasaan yang sewajarnya saja. Dan menurutku, rasa ini sudah tidak wajar. Rasa ini menggerogoti hati ini dan membuat aku benar-benar lemah.
Taukah? Pada setiap malam, ada hal yang tak pernah aku inginkan. Bayangmu. Aku tak menginginkan hal itu mengganggu tidurku, sekalipun aku tertidur tak jarang kamu merasuk dan mengusik tidur lelapku dan aku terganggu akan itu. Semudah itu, kamu menghantui aku. Atas nama perasaan, lalu kamu seenaknya saja menjadi-jadi dalam fikiranku. Memangnya kamu itu siapa? Bisakah sedikit saja jangan menggangguku, karna aku ingin tenang dengan perasaan sebatas teman saja, bukan perasaan selain teman. Sebenarnya, aku ingin mengenalmu hanya sebatas teman. Teman. Tapi ternyata, perasaan lain lebih dulu datang dibanding perasaan sebatas teman tadi. Dan tiada perasaan lain yang bisa mengalahkan perasaan sebatas teman selain CINTA. Aku mencintaimu, teman.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diposting oleh






0 komentar:
Posting Komentar