Teruntuk Kekasih Hati Bernama Luka
Semenjak kepergianmu waktu itu, tiada yang lebih bermakna selain sepi, tiapa yang lebih terasa ada selain sendiri, tiada yang mengisi selain hampa...
Aku tidak tau lebih pantas kusebut apa ini. Tertawa sendiri dalam gelap malam, menangis sejadi-jadinya dalam diam sendiri, dan tersenyum lega ketika hati tak lagi mampu berbohong. Aku mencintai sepi yang sedari dulu menemani hari, tapi aku lebih mencintai tawa ketika cinta mengusir sendiri, ya, itu semenjak ada dirimu....
Semenjak kepergianmu waktu itu, bibirku seolah fasih berkata sambil lalu, "aku takkan bisa tanpamu", terus seperti itu. Lalu apa yang kamu jawab? dengan cuma-cuma kamu menjawab, "kamu pasti bisa". Sadarkah itu bukan sebuah dukungan bagiku, melainkan sebuah kata penghancur tawa. Dan kamupun pergi....
Semenjak kepergianmu waktu itu, aku terasa dekat dengan malam, sepipun menjadi teman penenang, kelam pun sebagai penyempurna sendiri. Aku kehilangan sosok bernama bahagia. Pada setiap malam dengan setianya aku menemuimu dalam mimpi-mimpi yang terasa indah dialam bawah sadar, namun terasa menyakitkan dalam nyatanya. Karna sedikitpun kamu takkan bisa kupeluk lagi. Hatimu sudah entah dimana dan cintaku tak kuasa membimbingmu kembali.
Semenjak kepergianmu waktu itu, aku tau ada banyak yang hilang dari sini. Kurasakan berbagai perubahan yang dengan sendirinya terasa ada, dan aku hanya jadi penikmat perubahan yang hanya bisa diam ketika semua dengan sendirinya berubah. Namun kenapa tidak dengan rasaku? Rasaku yang sudah sedari dulu menenggelamkan benci yang sendirinya ada semenjak pertama mengenalmu. Perasaanku, sedikitpun tak melakukan perpindahan pada sosok lain yang benar-benar bernama bahagia, yang tidak dengan mudahnya meninggalkan cerita tulus sebagai permulaan rasa, yang dengan senantiasa berkata seadanya namun terealisasi dengan nyata. Tidak sepertimu. Tapi apa yang salah dengan rasaku ini? Tuhan ciptakan segenap rasa yang dengan kuatnya mampu mengalahkan benci padamu. Seolah-olah Tuhan hanya menciptakan perasaan cinta padamu, yang tidak dibuntuti rasa benci dibelakangnya.
Semenjak kepergianmu kekasih hati, aku merasakan tiada guna lagi menyimpan rapat-rapat rasa ini. Menguburnya lalu ketika ada saat yang tepat akan aku umbar kuat-kuat, aku rasa cukup! Cukup sampai disini, sampai pada saat ini, dimana aku merasakan itu sia-sia saja. Hingga kucoba menenggelamkan perasaan yang hanya tertuju padamu ini, aku gagal dan gagal selalu. Aku seperti menjadi perempuan malang yang menuntut untuk dikasihani olehmu.
Semenjak kepergianmu kekasih hati, apakah tidak ada lagi niatmu membuka lembar demi lembar kertas yang menjadi pengikat cinta kita waktu itu, yang dengan bangganya kamu memiliki perempuan tulus bernama aku, yang dengan ukiran kata-katamu yang sanggup menyayat keraguan dihatiku? Apakah tidak ada hal lain yang mampu mendorongmu memutar balik kesini, kebelakangmu, kearahku, wajahku, yang tersenyum basi sambil berkata, "akulah tempatmu"?
Semenjak kepergianmu kekasih hati, ada yang hilang juga ada yang membuat diri ini sadar. Entahlah ini benar adanya atau hanya firasat semata. Kepergianmu, atau bahkan bisa disebut kebalikkan buatku, itu karna aku harus bnyak belajar dari kepergianmu, dari perasaan besar yang sedari lama ada. Semenjak kehadiran cinta padamu, aku selalu menyebutnya itu adalah kebahagiaan, kamu adalah bahagiaku. Namun tidak untuk sekarang, seakan disetiap malam aku dibumbuhi fikiran-fikiran yang entah dari mana iru, bahwa sebenarnya namamu bukanlah kebahagiaan, melainkan luka.
Teruntuk kamu, kekasih hati bernama luka, aku mencintaimu biarpun namamu adalah luka, biarpun kamu mengukir luka, biarpun dengan mudahnya kamu menyayat luka. Teruntuk kamu kekasih yang pergi, kekasih hati bernama luka, semenjak kepergianmu kekasih aku seakan semakin terluka. Lukaku yang dulu adalah bahagia lalu bandingkanlah lukaku yang sekarang! Bahagia yang bersembunyi dibalik luka ini adalah bahagia palsu yang siap menenggelamkan sejuta tanya. Aku berpura-pura bahagia, sayang. Aku bahagia jika aku bersanding dengan luka, seandainya luka adalah kamu. Dan itu dulu, saat kamu masih disini, sayang.
Teruntuk kamu, kekasih hati yang pergi, kekasih hati bernama luka....
Semenjam kepergianmu, aku juga seakan kehilanhan luka yang biasa aku rasa bersamaan dengan bahagia. Aku semakin binbung, kusebut apa harusnya kamu?
Aku tidak pernah sesedih ini ketika mencintai orang dan tiada pernah sebahagia waktu itu ketika mencinta. Ahh iya, aku lupa, dalam cinta tiada yang salah soal sedih dan bahagia, soal tangia dan tawa. Semua itu seakan sudah menyatu dan tidak bisa dipisahkan.
Aku mencintaimu, kekasih hati bahkan saat kamu sudah pergi seperti ini. Aku mencintaimu kekasih hati bernama luka. Aku mencintaimu biarpun aku harus terus terluka, kekasih hati...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diposting oleh






2 komentar:
softwikia - ngena min :(
Makasih yaa. Scrolldown yaa biar baca postingan sebelumnya. Smoga slalu ngena :)
Posting Komentar