2

Teruntuk Kekasih Hati Bernama Luka


    Semenjak kepergianmu waktu itu, tiada yang lebih bermakna selain sepi, tiapa yang lebih terasa ada selain sendiri, tiada yang mengisi selain hampa...
Aku tidak tau lebih pantas kusebut apa ini. Tertawa sendiri dalam gelap malam, menangis sejadi-jadinya dalam diam sendiri, dan tersenyum lega ketika hati tak lagi mampu berbohong. Aku mencintai sepi yang sedari dulu menemani hari, tapi aku lebih mencintai tawa ketika cinta mengusir sendiri, ya, itu semenjak ada dirimu....

    Semenjak kepergianmu waktu itu, bibirku seolah fasih berkata sambil lalu, "aku takkan bisa tanpamu", terus seperti itu. Lalu apa yang kamu jawab? dengan cuma-cuma kamu menjawab, "kamu pasti bisa". Sadarkah itu bukan sebuah dukungan bagiku, melainkan sebuah kata penghancur tawa. Dan kamupun pergi....

    Semenjak kepergianmu waktu itu, aku terasa dekat dengan malam, sepipun menjadi teman penenang, kelam pun sebagai penyempurna sendiri. Aku kehilangan sosok bernama bahagia. Pada setiap malam dengan setianya aku menemuimu dalam mimpi-mimpi yang terasa indah dialam bawah sadar, namun terasa menyakitkan dalam nyatanya. Karna sedikitpun kamu takkan bisa kupeluk lagi. Hatimu sudah entah dimana dan cintaku tak kuasa membimbingmu kembali.

    Semenjak kepergianmu waktu itu, aku tau ada banyak yang hilang dari sini. Kurasakan berbagai perubahan yang dengan sendirinya terasa ada, dan aku hanya jadi penikmat perubahan yang hanya bisa diam ketika semua dengan sendirinya berubah. Namun kenapa tidak dengan rasaku? Rasaku yang sudah sedari dulu menenggelamkan benci yang sendirinya ada semenjak pertama mengenalmu. Perasaanku, sedikitpun tak melakukan perpindahan pada sosok lain yang benar-benar bernama bahagia, yang tidak dengan mudahnya meninggalkan cerita tulus sebagai permulaan rasa, yang dengan senantiasa berkata seadanya namun terealisasi dengan nyata. Tidak sepertimu. Tapi apa yang salah dengan rasaku ini? Tuhan ciptakan segenap rasa yang dengan kuatnya mampu mengalahkan benci padamu. Seolah-olah Tuhan hanya menciptakan perasaan cinta padamu, yang tidak dibuntuti rasa benci dibelakangnya.

    Semenjak kepergianmu kekasih hati, aku merasakan tiada guna lagi menyimpan rapat-rapat rasa ini. Menguburnya lalu ketika ada saat yang tepat akan aku umbar kuat-kuat, aku rasa cukup! Cukup sampai disini, sampai pada saat ini, dimana aku merasakan itu sia-sia saja. Hingga kucoba menenggelamkan perasaan yang hanya tertuju padamu ini, aku gagal dan gagal selalu. Aku seperti menjadi perempuan malang yang menuntut untuk dikasihani olehmu.

    Semenjak kepergianmu kekasih hati, apakah tidak ada lagi niatmu membuka lembar demi lembar kertas yang menjadi pengikat cinta kita waktu itu, yang dengan bangganya kamu memiliki perempuan tulus bernama aku, yang dengan ukiran kata-katamu yang sanggup menyayat keraguan dihatiku? Apakah tidak ada hal lain yang mampu mendorongmu memutar balik kesini, kebelakangmu, kearahku, wajahku, yang tersenyum basi sambil berkata, "akulah tempatmu"?

     Semenjak kepergianmu kekasih hati, ada yang hilang juga ada yang membuat diri ini sadar. Entahlah ini benar adanya atau hanya firasat semata. Kepergianmu, atau bahkan bisa disebut kebalikkan buatku, itu karna aku harus bnyak belajar dari kepergianmu, dari perasaan besar yang sedari lama ada. Semenjak kehadiran cinta padamu, aku selalu menyebutnya itu adalah kebahagiaan, kamu adalah bahagiaku. Namun tidak untuk sekarang, seakan disetiap malam aku dibumbuhi fikiran-fikiran yang entah dari mana iru, bahwa sebenarnya namamu bukanlah kebahagiaan, melainkan luka.

    Teruntuk kamu, kekasih hati bernama luka, aku mencintaimu biarpun namamu adalah luka, biarpun kamu mengukir luka, biarpun dengan mudahnya kamu menyayat luka. Teruntuk kamu kekasih yang pergi, kekasih hati bernama luka, semenjak kepergianmu kekasih aku seakan semakin terluka. Lukaku yang dulu adalah bahagia lalu bandingkanlah lukaku yang sekarang! Bahagia yang bersembunyi dibalik luka ini adalah bahagia palsu yang siap menenggelamkan sejuta tanya. Aku berpura-pura bahagia, sayang. Aku bahagia jika aku bersanding dengan luka, seandainya luka adalah kamu. Dan itu dulu, saat kamu masih disini, sayang.

    Teruntuk kamu, kekasih hati yang pergi, kekasih hati bernama luka....
Semenjam kepergianmu, aku juga seakan kehilanhan luka yang biasa aku rasa bersamaan dengan bahagia. Aku semakin binbung, kusebut apa harusnya kamu?
Aku tidak pernah sesedih ini ketika mencintai orang dan tiada pernah sebahagia waktu itu ketika mencinta. Ahh iya, aku lupa, dalam cinta tiada yang salah soal sedih dan bahagia, soal tangia dan tawa. Semua itu seakan sudah menyatu dan tidak bisa dipisahkan.
Aku mencintaimu, kekasih hati bahkan saat kamu sudah pergi seperti ini. Aku mencintaimu kekasih hati bernama luka. Aku mencintaimu biarpun aku harus terus terluka, kekasih hati...
0

Teruntuk Sahabat di Pulau Sebrang, Lombok. (Part II)


        Kamu masih ingat? Ketika kita sama-sama saling mengingatkan untuk sholat? Ketika kamu bercanda akan mengimamkan aku dari kejauhkan yang tiada bisa ditrawang oleh mataku? Aku masih ingat hingga saat ini, kawan. Terkadang aku tersenyum menertawakan tingkahku yang dengan gelinya mengkhayalkan kamu saat ini berada tepat dihadapanku. Kuyakinkan diriku aku tiada bisa berbuat apapun selain tersipu malu dan tertunduk kaku. Salah tingkah.

Kamu masih ingat? Ketika kita mengkhayalkan dan membicarakan pertemuan-pertemuan kedua kita? Bercerita satu sama lain dan aku tak segan menceritakan seseorang yang tiada pernah kamu mengenalnya. Ya, orang itu adalah dia, yang sedari awal tertulis diatas. Orang itu adalah dia, yang berhasil membuat rasaku menjadi istimewa. Hingga kamu pun hadir, dia masih saja bertengger sesuka hati direlung ini. Aku senang kamu bersikap sebagai pendengar yang luar biasa baik dan penasihat yang bijak, padahal kita bukanlah teman yang sudah sedari sana akrab untuk menceritakan satu sama lain. Sebut saja kita benar-benar saling mengenal lewat sosmed.

Terkadang aku bisa merasakan getaran yang berbeda ketika membaca pesan-pesanmu, pesan-pesan penuh makna untukku. Dan ketika itu, aku bisa sejenak lupa padanya, memfokuskan diri dan berbangga hati bahwa aku memiliki kamu dari kejauhan meski dunia mencatatnya kamu hanyalah sebatas teman, sahabat yang tak sengaja Tuhan pertemukan.

Berjalannya waktu, tak urung Tuhan semakin mendekatkan juga membuat kita semakin jauh. Jarak mungkin memang sedikit mendekatkan kita, hanya saja komunikasi kita yang saat ini sudah tidak bisa dijamah lagi. Kamu kuliah di Jakarta, dan aku tau jarak kita sudah dimudahkan oleh Tuhan untuk bisa melakukan pertemuan singkat kedua. Tapi komunikasi? Kita bahkan sudah disibukkan dengan rutinitas sendiri-sendiri, bahkan aku pernah melupakanmu dan tidak menganggapmu ketika aku tau aku berbahagia disini dengan dia, dia yang sedari dulu melegakan hatiku. Mungkin kamu tak sadar, dan akulah yang kini sadar, aku bodoh dulu tidak begitu serius dengan kedekatan kita yang memang mungkin hanya sebatas sahabat menurutmu namun kuyakini kita lebih dari itu.

Kita melangkah sendiri-sendiri, bukan tidak saling mengenal hanya saling mendukung meski tak diperlihatkan, saling memperhatikan hanya disembunyikan, saling peduli hanya tak tampak, saling merindukan, ahh mungkin hanya aku yang begitu merindukan komunikasi kita yang bergitu lancar ketika di akhir-akhir di SMA tidak denganmu. Hingga suatu ketika, saat dimana aku menjadi milik dia, aku bisa sampai pada rasa kerinduanku padamu, mas. Iya, mas, aku biasa menyebutmu dengan panggilan mas Reyno. Entahlah, aku bisa menangkap hal yang berbeda darimu dan dirinya. Perbedaan yang jelas terlihat dengan mata dan rasa.

Menikmati kebahagiaanku dengan dirinya, kamupun hadir dalam sela-sela sendiriku yang terkadang aku merasa sepi, membutuhkan ruang untukku menumpahkan keluh kesahku, mungkin pada dirimulah orang yang tepat walaupun tiada benar-benar aku mengenalmu dengan nyata terlihat dalam hariku. Aku merasakan perbedaan itu, seakan kamulah yang lebih mengerti aku dibanding dirinya. Jelas terlihat dirinyalah yang lebih lama mengenalku dibanding dirimu, alhasil justru kamulah yang seolah mengerti dan menghargai aku sebagai seorang perempuan. Kasar mungkin aku berkata bahwa dia tidak menghargai aku sebagai perempuan, mungkin lebih tepatnya dia tidak bisa atau belum bisa menghargai aku sebagai perempuannya. Namun rasaku tetap sama, aku tetap mencintai rasa ini yang kutujukan hanya untuk dirinya. Aku terlanjur mencintai perasaan yang sudah sedari lama kupupuk dan tiada kuasa untuk mengubahnya sebatas teman belaka.

Dear kamu, Mas Reyno…
Aku terbiasa menikmati hariku sejak akhir SMA denganmu, meski tak terlihat dari sini aku merasa sudah merasa memilikimu dari kejauhan yang wajahmu tiada bisa kusimpan dengan jelas ketika kali pertama kita berjabat tangan tanda perpisahan. Terkadang, aku merasakan perasaan-perasaan aneh yang tiada bisa kujamah dengan jelas persisnya apa. Aku hanya kuasa mengartikan itu hanyalah suka belaka, tiada kekal adanya. Membawa-bawa namamu bercampur dalam hatiku, namun tetap tidak bisa menyamai posisi teratas dihatiku. Bukan menganggapmu sebagai pelarian atau pelampiasan, hanya saja aku bisa merasa special dan berbeda ketika aku tiada berputus komunikasi denganmu. Aku bisa merasa tenang, ketika kata demi kata yang bisa kamu rangkai dalam pesanmu itu, ketika suara tak pernah bermakna, dan katalah yang menjadi utama dalam perbincangan panjang kita. Kamu membuat aku istimewa dengan nasihat-nasihat indahmu itu.
Ketika aku terjatuh, entahlah hal apa yang bisa mendorongmu untuk bertanya hal yang terjadi padaku dan berhasil membuat aku tersenyum renyah ketika kamu berkata, “Vrila yang aku kenal, udah biasa dengan jatuh bangun kok”. Singkat memang, namun aku begitu bangga mempunyai seseorang dari kejauhan yang dengan mudahnya bisa memahami apa yang aku alami tanpa aku menuangkannya.
Kamu selalu berhasil membuat aku nyaman, ketika tiada tempat lain yang bisa mengukir kenyamanan dihatiku. Tapi sama seperti sebelumnya, rasaku tetap sama seperti dulu. Ada yang lama yang tetap mengisi hati dan seperti enggan berganti. Aku justru tiada bisa mengubahnya, menggantikan posisinya dengan dirimu yang seharusnya sudah sedari aku mengenalmu, sejak saat itu harusnya dirinya sudah kutegaskan aku gantikan dengan dirimu yang jauh lebih sempurna dan lebih bisa melukis kenyamanan nan indah.

Atas perasaan-perasaan yang terasa basi disini, direlung hati, atas dasar perasaan aku bisa mengistimewakan yang sederhana dan menyederhanakan yang terlihat istimewa. Aku bisa menyeimbangkan dimana harus kutaruhkan dirimu dan dimana harus kusimpan dirinya. Aku sudah bisa menyeimbangkan semua rasa yang bermula terombang-ambing dalam balutan asa. Semenjak aku tau ada rasa yang istimewa dihatimu, semenjak aku memahami perasaan terdalam yang aku miliki dengan dirinya yang kusebut bintang direlung, semenjak aku mengerti ada cinta terdalam yang kau pupuk sedari dulu dalam bisunya bibirmu, semenjak cinta yang menjadikan rasa yang dimiliki hati kita masin-masing terlihat istimewa, semenjak saat itu aku tau aku tetap mencintainya dan mengistimewakan kamu. Bersamaan dengan itu, akupun mulai memahami ada cinta yang tersirat dalam diam yang tak mampu kujamah sejauh jarak yang memisah teruntuk dia, wanita sederhana yang begitu kamu cinta. Semenjak itulah aku mulai berani memanggilmu sahabat, sebatas sahabat dimana jarak menjadi istimewa.

0

Teruntuk Sahabat di Pulau Sebrang, Lombok (Part I)


        Aku merasa basi dengan perasaan yang kukenali kali pertama menginjak bangku SMP. Sampai pada rasa yang sudah kuanggap mati, ku akui aku gagal untuk jatuh cinta lagi. Mencintai sosok lelaki yang entah siapapun yang saat itu berhasil membuat hati ini bergetar sejadi-jadinya. Aku mulai membenci perasaan yang kucintai dulu, kuanggap istimewa sejak rasa menjadi pemeran utama didalamnya. Hingga kuberjalan bersamaan dengan arus, aku tetap mencintai satu rasa yang sama. Dia, perasaan yang sudah lama bahkan enggan aku menghapusnya. Kadang kubiarkan rasa ini menjadi-jadi sampai titik tertinggi, bersamaan dengan itu rasa itupun lelah dan memutuskan untuk mengurangi sedikit demi sedikit rasa dan memupuk asa dalam diam. Sama halnya dengan ketika kita melemparkan bola kelangit, saat ia mencapai titik tertinggi, ia akan berhenti sejenak lalu memutuskan untuk jatuh kebawah mengurangi sedikit demi sedikit ketinggian.

Singkat saja, aku bertemu denganmu. Entah bagaimana Tuhan menunjukkan jalan, peta, arah, ahh entahlah apapun itu, Tuhan mempertemukan kita dalam ruang dan waktu, sekejab saja. Tentang bagaimana perasaan yang pernah ada, yang tertulis sempurna dihati ini, yang jalannya tiada enggan kuhapus, rasa ini masih sama. Bahkan ketika kita sama-sama bertemu dan menyorot jauh pada pandangan yang penuh makna. Kita berkenalan lewat sebuah kompetisi nasional. Kita? Ahh tidak, mungkin kita hanya tidak sengaja berkenalan disana. Kita sama-sama beradu kompetisi disana, tapi tidak saling mengenal. Hanya sebatas aku finalis dan kamu lawanku sebagai finalis pula. Sebatas gue-elo.

Sayangnya, aku tak seberuntung kamu, yang dengan bangga bisa pulang membawa medali emas, yang dengan senyum sumringah bisa dijadikan oleh-oleh untuk kedua orangtuamu dan sekolahmu. Aku sebatas peraih penghargaan bukan pembawa medali emas untuk sekolahku. Tak apalah, dengan bangga hati aku bisa berdiri tegak disini, berjejer dengan para penerus bangsa, para peneliti-peneliti muda yang berhasil menyabet peraih penghargaan, sepuluh besar dari 30 finalis lainnya. Paling tidak aku tau, dengan cara ini Tuhan mempertemukan aku dan kamu.

Kamu masih ingat? Ucapan terakhirmu waktu itu? Kita memang tidak saling mengenal, hanya sebatas tau kalo kita sama-sama finalis dalam lomba itu. Namun hari terakhir disana kita berjabat tangan tanda perpisahan.
“Pamit pulang ya, hati-hati” Lisanmu dibarengi dengan senyum manis yang melukis wajahmu dan membuat aku terpesona seketika. Jelas sekali aku balas jabat tangan, tak lupa dengan lengkung bibir diwajahku.

Kita sama-sama meninggalkan satu sama lain, bukan sama-sama pergi dan tidak berkomunikasi, hanya sama-sama meninggalkan dan menemui sanak saudara yang menanti dikampung halaman kita masing-masing, menanti senyum sumringah tanda keberhasilan kita berdiri mengalahkan ribuan peserta lomba penelitian dan berjejer dideretan sepuluh besar. Betapa bangganya ayah dan ibumu, terlebih lagi sekolahmu, Reyno.

Sisa-sisa kesegaran yang kubawa sampai kekampung halamanku, sisa-sisa suasana dan tawa yang kupupuk beberapa hari saat berada disana, saat kita hanya dibatasi dinding dan mampu bertegur sama meski lewat pandangan nyata, aku merasakannya kembali disini, kampung halamanku. Barulah ketika kita sudah pulang, kita diberi kesempatan untuk saling mengenal dibatasi jarak yang membuntut sebagai penghalang pandangan nyata.

Berawal dari group facebook, group perkumpulan finalis perlombaan kita, hingga sampai nomor handphone. Kita bertegur sapa, menyapa kabar dan mengenal lebih jauh. Dan sejak saat itu, aku dan kamu barulah benar-benar mengenal satu sama lain, bukan hanya sebatas sama-sama finalis, sebatas gue-elo. Kini aku dan kamu adalah sahabat sebatas jarak sebagai pemisah. Semenjak perkenalan kita yang bisa kubilang terlambat itu, semenjak saat itu aku merasa bahagia memilki seseorang yang luar biasa peduli dibentang jarak dan ruang waktu yang berbeda. Terkadang, kala malam datang, kita sama-sama menatap langit, menikmati pancaran bintang yang sengaja Tuhan ukir, sebagai pembuktian bahwa kita sebenarnya berada dalam dimensi yang sama, hanya jarak pelengkap untuk mengukir asa agar kita bercita untuk merencanakan pertemuan kedua.
0

Cinta Tak Cukup Sampai Disini


Cinta, setelah kepergianmu yang tak pernah mau aku pahami jalannya, yang tak bisa aku mengerti mengapa, aku hanya bisa diam. Terhipnotis pada kesendirianku, sama seperti dulu ketika aku tidak sama sekali mengenalmu, menjumpaimu pada malam-malam sepi dihiasi angan.

Sudah kukatakan, aku terbiasa sendiri (lagi) disetiap malam-malam kelam. Tak apa, jawabku sendiri. Aku sudah belajar banyak hal dulu sebelum kisah kita kutulis, ketika aku hanya berani menyimpanmu rapat dalam relung. Aku sudah membiasakan diri menomer duakan kamu setelah kesibukkanku yang bisa membuat aku tenang ketika kenyataannya aku hanya menjadi perempuan yang mencintamu dalam diam. Sekarang aku kembali, menjadi yang dulu lagi. Memprioritaskan kesibukkanku dan menomer duakan kamu.

Sepertinya berlaga bahagia didepan semua orang didunia lebih membuat aku tertantang untuk menjadi perempuan yang tegar, kuat. Berlaga melukiskan senyum palsu yang semua orang hanya paham itu adalah bahagia, tanpa tau apa dibalik senyum palsu itu. Buktinya, sudah ada saja yang kagum pada ketegaranku, dan saat itu aku tau aku berhasil terlihat tegar didepan semua orang.

Setelah kepergianmu, kita melangkah sendiri-sendiri. Khayalan-khayalan kita yang pernah ingin kita lakukan berdua, masa depan kita, semua cukup sampai disitu. Sampai pada sebuah titik dimana kita sama-sama jenuh dengan keadaan, pada jarak yang memisah. Sebenarnya aku bisa saja mempertahankan kamu, namun rasaku tak cukup sampai disini, bahagiaku tak cukup sampai pada aku menjadi milikmu dan kamu menjadi milikku. Aku butuh kamu, hati kamu yang melirikmu tak setengah seperti ini. Cinta, itu bahagiaku! Kamu paham?

Setelah kepergianmu, aku mulai menata kembali tiang-tiang perasaan yang sempat roboh dan remuk tak tertata rapi. Sisa-sisa perasaan yang sulit aku jelaskan dengan kata, tapi bisa kulukiskan dengan rasa. Malam-malam dimana kita terbiasa memulai perbincangan panjang, sebenarnya saat itu, aku sudah memelukmu, memeluk erat bayangmu dari kejauhan. Dalam jarak sejauh itu, aku bisa merasakan kehadiranmu melekat disampingku. Aku terbiasa memelukmu pada saat bintang mulai bertaburan. Dan apakah yang bisa aku lakukan setelah kepergianmu? aku tertunduk lemas menatap langit-langit kamarku dan seolah membuat bayanganmu sendiri disana. Terkadang aku tersenyum basi saat itu, dan meyakinkan diriku, menguatkan diriku sendiri, "sudahlah"

Setelah kepergianmu, aku kira semua akan berakhir, hilang begitu saja dimakan waktu dan kesibukkanku. Tapi, semakin kesini, semakin jauh kita, semakin mengarah pada perasaan ingin melupakan, aku malah ingin mengangkat tangan tanda tak mampu. Aku menyerah. Aku kira cinta cukup sampai disini. Sampai pada titik dimana kita sama sama meninggalkan, meski kamu yang lebih dulu. Aku kira cinta cukup sampai disini, cukup sampai pada saat dimana kamu benar-benar melupakanku. Aku kira, cinta cukup sampai disini, sampai pada saat aku menyerah mempertahankanmu. Namun cintaku ini apa? Apa layak disebut cinta? Cinta sejati misal, apakah kamu cinta sejatiku? Pantaskah aku berbicara soal cinta, tanpa paham betul konsep cinta dan mencinta.

Setelah kepergianmu, setelah cinta tak cukup sampai disini, setelah tangis malam-malam kelamku, setelah saat itu aku paham, aku seperti ini hanya karna aku mencintaimu. Cinta tak cukup sampai disini, sampai pada semua berakhir cinta masih bisa saja dipupuk atau tak sengaja terpupuk hingga masih menjadi-jadi dalam hati. Cinta tak cukup sampai disini, sampai pada titik dimana aku ingin melupakanmu. Aku bisa saja nelupakanmu dalam hari-hariku, namun aku tak kan bisa sampai disitu. Aku hanya akan sampai pada titik dimana aku akan berusaha melupakanmu, tapi tidak melupakan. Bagiku cinta ini adalah kamu. Bagaimana bisa aku berlaga cinta cukup sampai disini sedang aku masih cinta-cintanya?

Aku mencintaimu, dan cinta tak cukup sampai disini. Sampai kita berakhir bahkan aku bisa saja merindukanmu dan menyimpanmu rapat-rapat (lagi) dihati, hingga suatu hari Tuhan memberi jawaban bahwa aku tercipta hanya untukmu, dan kamu tercipta untuk memberi cinta dan membuat bahagia dihariku. Cinta tak cukup sampai disini, sayang. Cinta akan berakhir ketika Tuhan mengajakku untuk berpindah tempat dan mempertemukanku pada sosok lain disana. Dan saat itu kamu akan merasakan bagaimana cintaku cukup sampai disini.
0

Diam-Diam Kutemukan Wajahmu dalam Ruang Rindu

Heyy.. Aku terfokus diam pada malam-malam dimana kita biasa dipertemukan. Pada keheningan malam yang menyatukan kita, memulai perbincangan hingga kita sama-sama terpejam tak sadar.

Aku menemukanmu disudut malam yang berbeda, bayanganmu yang sudah tidak bisa aku dekap lagi, suara serakmu dan nyanyian konyol dengan suara khasmu yang membuat aku tertawa ketika mendengar lagu demi lagu kau nyanyikan bersama temanmu, lantunan gitar yang kau akui itu adalah petikan jemarimu, khayalan-khayalan masa depan kita, cerita-cerita panjang pengalamanmu disana yang kadang aku hanya mengiyakan tanpa paham makna yang tersimpan dalam teori-teorimu yang sebenarnya membosankan untuk aku dengarkan karna itu bukan jurusanku untuk tau semua teori-teoi yang kau dapatkan selama kamu kuliah disana. Kasarnya, itu bukan urusanku untuk tau materi-materi perkuliahanmu yang tidak ingin aku pahami, namun masih kudengarkan.

Terkadang aku terdiam dan kebingungan menghantuiku untuk memulai membahas topik lain, tapi kamulah yang mudah mencari topik baru hingga obrolan kita tak terasa basi. Aku mulai tersipu malu ketika kamu bahas tentang coretan panjangku pada buku yang aku berikan padamu, pada pengakuanku selama beberapa tahun menyimpan rahasia besar selama SMA dan akhirnya keberanianku terkumpul hingga kukirimkan sebuah buku cerita yang aku tulis dengan tanganku sendiri. Berulang kali kubaca dan berulang kali kupandangi foto-foto yang sengaja kutempel disana, aku merasa bosan jika terus menerus menyimpan sampah bukti perasaan ini dalam lemariku. Hingga mungkin suatu waktu akan kuputuskan untuk membakarnya sama seperti kamu yang dengan mudah membakarku dalam ingatanmu, setahuku. Namun kuurungkan dan kuputuskan untuk menyerahkan pengakuan besarku meski berharap kamu membakarnya dan menginginkan cerita baru yang aku tulis. Aku dan kamu, KITA.

Malam yang beda, aku tak sengaja terjaga. Mungkin bukan tak sengaja, ada yang mendorongku untuk terjaga dan aku terenyak diam sambil meraba-raba mencari keberadaan handphoneku. Ahhh, aku merasakan hal yang sama seperti setelah kita sama-sama saling meninggalkan. Sebenarnya aku yang lebih dulu memutuskan untuk menjadikan cerita kita sebagai sebuah kenangan. Kamu tau? itu karna kamu yang lebih dulu membuat aku lelah memperjuangkan cinta yang tak kunjung kau pahami jalannya. Kamu lebih banyak diam dan tidak balik memperjuangkan. Aku menyerah dan satu hal yang bisa kamu lakukan, hanyalah "pergi" ucapmu tanpa kejelasan apapun.

Aku terdiam, dan kudapati mataku sudah penuh oleh linangnya. Semakin kuresapi dan kubiarkan ia menjadi-jadi hingga kutangkap air mataku pun jatuh pula. Pipiku basah. Kuraih sejumput kain yang membatasi pandangku pada kegelapan diluar sana. Kupasati dalam-dalam dan aku terenyak jauh teringat obrolan kali pertama kita, kudapati saat itu aku duduk diam menatap keluar jendela dan tersenyum kecil mendengar serak suaramu ditelingaku. Kegelapan yang sama, jam yang sama dibeberapa bulan yang lalu aku sedang menikmati perbinjangan panjang kita. Sekarang? Aku sendiri.

Aku meraih handphoneku dan mencari kontakmu, rasaku ingin menghubungimu dan mengungkapkan kata rindu. Tapi kenyataanya, mengungkapkan kata rindu tak sesederhana menikmati rasanya, mencintai sakitnya menahan rindu, ditambah lagi aku dan kamu bukanlah sebuah kata KITA melainkan aku dan kamu sekarang dalam dimensi yang berbeda. Aku minus kamu.

Pilihan yang tepat saat itu adalah menghapus kontakmu dan mengurungkan niat untuk menghubungimu. Itu lebih sakit dari yang aku bayangkan, menghapus kontakmu itu tandanya aku takkan menemukan namamu dalam ponselku dan takkan bisa menghubungimu. Right! itu memang pilihan yang tepat. Cinta tak cukup mencintai, cinta butuh untuk merelakan dan melepaskan itulah mengapa cinta selalu dihubung-hubungkan dengan pengorbanan. Ahh, aku memang pandai jika berbicara soal ini, faktanya memproyeksikannya dalam diriku sendiri saja sulit aku lakukan.

Lima jemariku menghapus air mata yang masih deras jatuhnya, dengan sengaja kusisakan jejak-jejak air mataku yang terasa lengket dipipi. Kuraih dompetku dan kuhentikan jemariku pada sebuah foto yang dengan manisnya bertengger disana. Wajahku dan wajahmu, memasang raut luar biasa manisnya. Mampu menutupi perasaan masing-masing yang entah apakah kamu senang berlaga tersenyum berdampingan berdua denganku difoto itu. Aku tersenyum simpul dan kembali lagi imajinasiku memainkan hal-hal yang pernah kita lalui, dulu.

Tak terbendung lagi, gerimis kecil dimataku tumpah lagi. Kali ini aku berusaha berkedip agar tak terjatuh, terlambat, pipiku sekarang basah lagi. Sebenarnya aku sulit mengungkapkannya bagaimana tiba-tiba malam bisa membangunkanku yang sudah terlelap sejak sore hingga kamu dengan mudahnya bertengger dalam pikiranku dan membawaku kemasa lalu. Bagaimanapun aku mengungkapkannya siapapun tidak akan bisa merasakan pedihnya kecuali mengalaminya sendiri. Iya, merindukan seseorang dimalam kelam dan tak didapati siapapun disana yang bisa menjadi sandaran untuk menumpahkan kerinduan itu.

Dengan sisa-sisa cerita yang bisa kusebut kenangan, dengan bodohnya aku merindukanmu malam itu, dengan diam-diam kutemukan wajahmu pada malam itu. Malam perbincangan panjang kita, dimana kutuangkan kerinduanku pada sosok jauh dirimu disana. Ruang rindu. 
Heyy.. Kamu kemana? Aku merindukanmu, bodoh.
0

Melupakan, Namun Tak Berpindah Part 1 (Cerbung)

Aku buru-buru memasuki Caffe tempat biasa aku dan sahabatku ketika SMA menghabiskan waktu hanya untuk ngopi bareng dan cerita-cerita, Caffe Blueberry. Dengan membawa segumpal rindu, aku menyebarluaskan aroma sedap rindu dan berjalan seperti dikejar para fans yang membuntut dibelakang. Aku baru merasakan rasanya jauh dari perempuan cerewet bernama Vlora ketika kami berdua sama-sama memutuskan untuk saling meninggalkan semenjak menyandang status mahasiswa. Dan aku pun begitu yakin Vlora baru menyadari ketidak adaan sahabat baik bernama Dearine. Aku.

Dan wow.... Perempuan cerewet itu sekarang berada didepanku. Spontan kami berdua menjerit dan menyebut nama satu sama lain sambil berlari mendekat layaknya pemeran film india, itulah cara kami melepas rindu. Semenjak kuliah, aku dan Vlora sangat jarang bertemu, 6 bulan sekali tepatnya kami baru bisa saling berbagi satu sama lain. Menceritakan hal-hal kecil dan besar yang kami berdua lalui semenjak menjadi mahasiswa. Sedang asyik bercerita ini itu, aku pun terhenti pada salah satu pertanyaan Vlora.

    "masih?" Vlora bertanya dengan lirih, kutangkap ada rasa kecemasan dari raut wajahnya.
Aku diam dan mengalihkan pandangku keluar jendela. Sembari menatap alun-alun jalanan yang dipenuhi kendaraan, ada yang terlintas dibenakku saat itu. Vlora begitu tau bagaimana peraasaanku, bahkan ketika sudah menginjak bangku kuliahpun dia masih sangat hapal bahwa sahabatnya ini masih menyimpan rasa pada sosok tanda kutip. Mungkin Vlora bisa membaca tulisan transparan didahiku, mungkin.
    "De, ngapain sih kamu betah-betahhin perasaan itu?" Vlora berkata pelan. Ada perubahan yang aku tangkap dari ucapan Vlora itu. Calm.
    "apaan si, Vlor?" Tanyaku sambil bergaya seolah ngga ngerti sama sekali. Vlor adalah panggilanku pada Vlora semenjak kami saling mengenal, rasanya malas ketika harus menambahkan 1 huruf setelah r dari kata Vlora.Sama halnya dengan Vlora yang selalu memanggilku dengan dua huruf D-E, De.
    "Move, De! Kamu ikhlas sakit-sakitan terus gini?"
Move, iya move. Satu kata itulah yang sering sampai ketelingaku walau bukan untuk aku, dan hari ini, saat ini justru akulah yang menjadi fokus untuk mendengarkan baik baik kata MOVE. "siapa yang sakit Vlor? aku sehat kok, nggak liat aku bisa ketawa lepas gini? becandaan mulu siihh"
    "Siapa sih temen kamu yang tau betul kamu itu ada kenapa-kenapanya? 3 tahun loh De, 3 tahun bukan waktu yang singkat untuk aku kenal kamu. Dan 3 tahun itu juga bukan waktu yang singkat buat....." Vlora seketika diem. "buat kamu bertahan, De!"
Aku diem, seolah-olah saat itu Vlora menjadi hakim yang sedang berbicara dan aku menjadi orang yang dihakimi yang hanya berhak diam dan mendengarkan.
      "Hidup itu tentang perubahan De! kamu masih ngga ngerti konsep itu?"
Aku terdiam basi mendengar kata-kata Vlora yang terdengar lembut. Iya, aku mengakui bahwa aku memang masih menyimpan perasaan untuk seseorang ketika aku memasuki SMA, bersamaan ketika aku mengenal Vlora. Saat itu, aku hanya berani menyimpan perasaan itu dan menceritakan lewat kata pada Vlora meski Vlora sangat sulit mengerti bahwa aku mencintai sosok lelaki dalam tanda kutip tersebut. Menginjak tahun ke-2 aku menyimpan perasaan itu, rasaku masih sama. Ada lelaki yang mendekat, namun yang kurasa aku tak merasakan hal yang sama dengan lelaki lain itu.
     "aku ngga bisa, Vlor!" aku membuka omongan.
     "karna kamu ngga pernah nyoba, De!"
     "karna kamu ngga pernah lihat usaha aku untuk nyoba ngelupain dia, makanya kamu bilang aku ngga pernah nyoba, Vlor"
     "nggak ada yang harus kamu usahain, ngelupain dia itu bukan suatu usaha De, tapi suatu keharusan!" Vlora ngga mau kalah.
      "kamu sadar Vlor? kamu bicara gini karna kamu ngga pernah ada diposisi aku!" Aku tersenyum simpul.
Vlora diem sebentar. "3 tahun De, 3 tahun kamu mendem perasaan itu sampe akhirnya dia tau kalo kamu punya perasaan itu tapi apa yang bisa dia lakuin? dia cuma senyum-senyum kaya orang begok dan dengan bangga hati membiarkan perasaan kamu. Kamu sadar De? hal yang kamu lakuin ini, tetep mendem perasaan ke dia itu bakal bikin kamu sakit sendiri. Kamu tau, orang pertama yang salah? itu kamu De! Sekarang aku tanya, apa latar belakang kamu tetep nyimpen perasaan ini De? Lelaki diluar sana banyak De, jauh lebih baik dari dia!"
      "Rio, Vlor. Cuma Rio yang bisa bikin aku bener-bener ngerasa sempurna. Kamu tau? ngebaca pesan singkatnya bikin aku senyum-senyum sendiri, ngebayangin dia pas aku mau tidur dan ngimpiin dia, ngeliat dia dari kejauhan, nyimpen perasaan ini diem-diem. Kamu tau gimana rasanya? aku seneng Vlor".
      "Dan apakah itu cukup buat kamu seneng, De?"
Vlora berhasil membuat aku seakan terpojok, kadang omongan Vlora masuk akal, tapi bandelnya hatiku tetap saja bertahan dengan perasaan ini.
      "Denger De, kamu ngga kasian sama hati kamu, sama diri kamu sendiri, kamu ngga ngasih kesempatan untuk merasakan seneng dengan lelaki lain yang bukan bernama Rio? Move De!"

Aku terdiam, bersamaan itu Vlora juga membuntut diam sambil menyeruput coffe manis yang sedari tadi samar-samar aroma wanginya. Kami sama-sama terdiam dan tenggelam dalam keheningan.Sementara Vlora mencari kata-kata untuk dirangkai lagi, aku bergeming dan terfokus pada sosok Rio yang sedari tadi seolah ingin dideskripsikan walau hanya lewat lamunan.
Namanya Rio, teman satu sekolahku ketika di SMA, nggak ada yang spesial darinya, sikapnya bahkan nggak bisa aku nilai bahwa dia menganggap aku adalah seorang perempuan yang patut untuk dilindungi. Sama kayak dia merlakuin temen cewek lainnya. FLAT.
Yang paling aku inget pas kita sama-sama ikut olimpiade mewakili SMA, dia mengikuti olimpiade fisika dan aku olimpiade astronomi. Waktu itu dijam tambahan kami seluruh siswa yang mengikuti olimpiade diminta untuk keluar dari jam belajar dikelas dan memfokuskan diri belajar untuk olimpiade. Tepat saat itu, temanku tidak masuk sekolah dan entah bagaimana persisnya akhirnya aku dan Rio terjebak dalam satu ruangan yang sama, berdua. Bukannya belajar mengenai materi masing-masing, kami berdua malah asyik ngobrol hal-hal yang nggak penting sama sekali. Yaaaaa kaya nyeritain kejadian dia di asrama malam itu, karna kebetulan Rio tinggal diasrama. Dan apapun yang aku rasain saat itu yang paling aku mengerti adalah rasa gugup yang menggerogoti kepedeanku. Aku salting. 15 menit berlalu, hentakan suara kaki dari siswa-siswa yang lain semakin mendekat dan mereka semua mendapati aku dan Rio sedang duduk berdua didalam kelas. Ledekkan-ledekkan kata "ciyeeeee" semakin bikin aku gugup dan senyum-senyum. Mungkin jika aku sedang memegang cermin saat itu, kudapati pipiku merah merona.
Bel berbunyi dan kuputuskan untuk kembali kekelasku untuk mengambil tas dan peralatan sekolah lainnya baru  memutuskan untuk pulang kerumahku. Dan wow, Tuhan ternyata mendorong Rio untuk menemaniku mengambil tasku yang tertinggal diruang kelasku. Sedetik dari tawaran Rio itu, aku langsung mengiyakannya. Kamipun berjalan bersama menyusuri kelas yang sudah mulai kosong dan tiada bersua. Aku tersenyum sumringah.

    "aku yakin saat ini pun kamu lagi ngebayangin Rio. Iya kan De?" pertanyaan Vlora memecah lamunanku.
Buru-buru aku mengernyitkan kening dan tersenyum sinis pada Vlora. Aku diam.
    "Gini deh De, aku tanya deh sama kamu, sampe kapan kamu bakal nungguin dia? sampe dia selesai kuliah disana lalu balik kesini dan menggandeng kamu, gitu?"
Aku nggak ngejawab sedikitpun.
    "Trus apa yang terjadi kalo ternyata sepulang dia nyari ilmu disana, 4 tahun dia bakal balik lagi kesini dia udah nggandeng cewek dan udah mutusin bakal nikah sama cewek itu. Apa yang kamu dapat De? selembar undangan yang tertulis lengkap nama dia dan perempuannya." Tegas Vlora.
Aku masih membungkam.
    "Bisa nggak jangan jawab pertanyaan aku dengan bisu, De? aku serius! Hal buruk yang kemungkinan bakal terjadi, pertama dia 4 tahun kuliah disana, mustahil dia nggakk punya cewek atau gebetan. Kedua, dia lulus dan dia balik kesini tapi sudah menyandang seorang cewek yang teramat dia cinta. Ketiga dia bakal menetap disana dan ambil kerja disana. Dan terakhir, setelah dia menetap disana, kamu bakal jadi orang yang terlupakan, De!" Kali ini suara Vlora mulai memuncak.
    "aku nggak tau, Vlor" aku tertunduk dengan linangan air mata yang sedari tadi ingin kujatuhkan.
Vlora mendesis kecewa. "sekarang kamu lihat diri kamu sendiri De, kamu rela nangisin dia, sedih karna dia, tetep mikirin dan nyimpen perasaan kedia sedang dia disana, kita nggak pernah tau dia disana kaya apa, Bogor De, jauh dari pandangan kamu. Jarak kalian itu jauh, dan nggak akan mungkin bisa menumbuhkan benih cinta dihati dia. Oke deh kalo kalian tetep kontakkan dan berharap dia menjadikan kamu temen perempuan terdekat atau bahkan bisa jadi lebih, tapi kamu nggak tau kan ada berapa banyak cewek yang nongkrong di inboxnya? nggak kan?"
Spontan kuangkat wajahku dan menatap lurus kemata Vlora.
   "Maaf" Satu kata menyusul dari mulut Vlora.
Kutundukkan lagi wajahku, sekarang yang aku rasa linangan air mata dikelopakku terasa penuh dan akan segera terjatuh. buru-buru kutundukkan dan mengedip-ngedipkannya beberapa kali agar tidak jadi terjatuh. Terlambat, air itu perlahan menetes.
   "Tuh kan, netes". Vlora manyun.
Aku menghela nafas panjang dan... "Gini deh Vlor, kamu percaya cinta sejati?"
Vlora mengangkat bahu dan aku menyepakati bahwa Vlora tak begitu mempercayai itu.
   "Tuhan udah punya rencana lain buat aku, Vlor"
   "Lah terus?"
   "Rasa sakit ini misal, suatu saat akan dibalas dengan senyum yang berlimpah. Aku percaya Rio itu cinta sejati aku"
   "cinta? bullshit!" Vlora mengucapkannya dengan lantang, sedetik kemudian berpasang-pasang mata dari sudut kiri, kanan memerhatikan kami dengan kening berlipat. Aku dan Vlora saling memandang dan membalas satu persatu sorotan tajam para penikmat Caffe lalu kembali saling memandang, terdiam. Dua detik kemudian, kami memecah suara dengan cekikikkan besar yang seolah terlihat konyol dengan sisa-sisa jejak air mata yang masih membekas dippiku. "huahahahhahhaha"

TO BE CONTINUED.......
   
0

Mencinta Tanpa Batas Waktu

Aku belajar banyak hal dari hubungan kita, dari ketersalahan hubungan yang tidak seharusnya ada, kita. Aku menyadari hal-hal yang seharusnya tidak pernah aku inginkan sebelumnya. Aku menyadari, semua apa yang aku anggap bahagia ketika memilikimu itu seharusnya tidak perlu, aku tau aku sudah bahagia sebelum menemukan cinta didalam dirimu. Betapa bodohnya aku, merasakan bahagia bersamamu, bahagia dimiliki olehmu yang hanya sementara waktu itu.

Aku memberimu ruang untuk merasakan gejolak cinta yang aku miliki, aku bodoh bukan? Iya, aku sadari itu. Hingga akhirnya kamu sampai pada titik dimana kamu lupa cintamu yang kau taruh dihatimu untukku yang entah disebelah mana itu. Dan memutuskan untuk meninggalkan hubungan kita yang saling mencinta. Ahh tidak, hanya akulah yang mencinta, tidak denganmu.

Kau sadar, hingga saati ini aku masih mencintaimu namun kuputuskan untuk mengabaikan sisa-sisa perasaan hingga meninggalkan kamu yang sudah lebih dulu meninggalkan aku.
Aku sebut aku sebagai tahanan, yang melarikan diri dan tidak bertanggung jawab atas perasaan-perasaan yang sudah aku pupuk dan kubiarkan menjadi-jadi ini. Hingga kini pun, aku menyadari tiada yang salah soal cinta. Cinta membuat aku merasakan dua hal sekaligus secara bersamaan, bahagia dan sedih. Dan ketika aku terluka karna cinta, luka memaksa aku untuk menjadi sosok yang dewasa. Aku tau hal inilah yang terjadi padaku.

Aku ingin memilikimu dengan sederhana, aku ingin memilikimu dengan sisa-sisa perasaan yang kukubur semenjak kita sama-sama saling meninggalkan meski kamu yang lebih dulu. Aku ingin mencintaimu dan memilikimu tanpa batas waktu. Hinggaku tetap membiarkanmu hadir disisa-sisa cerita malam sendiriku. Aku membiarkanmu tetap melukis kebersamaan kita yang kini sulit kurengkuh (lagi). Kubiarkan cinta tetap hadir dihatiku, kubiarkan cintaku tiada usai. Karna buatku, tiada yang salah soal cinta. Cinta menyadari aku bersikap sabar hingga saatnya tiba aku akan memiliki sosok lelaki, sampai aku menyatu dengan tanah, meski bukan kamu.

Jika lelaki itu benar bukan kamu, beberapa tahun yang akan datang, akan kulihat diriku dicermin dan bayanganmu membuntut dibelakangku dimana aku sedang menggandeng lengan seorang lelaki yang akan kucintai tanpa batas waktu namun hingga akhir waktu dan kita saling membalas senyum. Mencinta tanpa batas waktu, aku bahagia...
0

Meninggalkanku yang Sedang Cintanya, Kamu. TEGA?

Malam itu, kuputuskan untuk menghubungimu lagi. Setelah tiada kutemukan hadirmu disudut ruanganku, tiada kutemukan namamu dilayar handphoneku, dan setelah tiada kurasakan desah suaramu melekat dipendengaranku. Aku kehilanganmu.

Berjarak beberapa hari setelah malam yang memecah bahagia yang biasa kita rajut bersama, semenjak saat itu aku merasakan ada yang benar-benar hilang. Malam yang biasa kita gunakan untuk merangkai tawa kini berbalas sepi sendiri. Tidak lagi kutemukan hadirmu disudut malamku. Kamu menghilang dan seolah tiada ingat dengan khayalan besar kita berdua. Kamu dan aku menjadi KITA. Kamu ingat itu?

Namun, yang kudapatkan hanya kosong. Kehampaan yang menggambarkan tanda tanya, takku temukan jawaban atas semua tanyaku. Seketika itu, kamu seolah menjadi lelaki bisu yang hanya bisa menatapku tanpa bisa melakukan apapun itu. Bodoh! Hanya satu kata yang kutangkap dari raut wajahmu itu, "Maaf". Ahh sudahlah, aku tak benar benar yakin kamu meminta maaf atas kesalahanmu ini. Iya, ini semua salahmu!

Kamu tetap diam, dan seolah berkata "aku akan pergi tanpa penjelasan". Hey! Kamu fikir kamu ini siapa? semudah itu datang dan pergi sesuka hati. Kamu ingat bahwa ini adalah hati, bukan persimpangan jalan yang bisa kapan saja kamu lewati. Kamu tau???!

Kamu, kamu tinggalkan dimana sebuah cinta yang dulu pernah kita ukir dalam jarak yang memeluk kita erat, dalam ceritamu yang melukiskan seorang perempuan tulus bernama aku? Kamu masih ingat dimana kamu meletakkan cinta untukkku? Disudut hatimu yang mana? Ingatkah?

Hanya satu kata saja, "pergi". Iya, itu memang hanya satu kata. Tak serumit rumus matematika, tak sepusing rumus fisika yang diturunkan, tak sedalam puisi-puisi sastra. Mudah bukan? Ya, Iya. Berlaku juga untuk yang ditinggalkan? Tidak! Kamu pergi dariku dan aku harus menata ulang semua perasaan-perasaan ini yang bahkan aku sudah lupa dimana kuletakkan perasaan sebatas teman untukmu. Aku sudah terbiasa dengan perasaan-perasaan yang mungkin salah ini, aku sudah terbiasa memilikinya dan diawali beberapa tahun yang lalu. Aku memilihmu untuk menghuni hati.

Heyy... Rasanya aku ingin bertanya baik-baik lagi denganmu mengenai masalah ini, mengenai kita. Aku ingin menatapmu saat ini juga dan mengumbarnya tepat didepan matamu. Aku ingin mendengar bahwa kamu benar-benar tidak peduli denganku (lagi). Kamu tau kenapa? Aku hanya ingin hatiku jera dan memutuskan untuk pergi pula meninggalkan kamu yang sudah lebih dulu meninggalkan aku.

Aku mencintaimu, semenjak mataku buta akan lelaki lain. Aku mencintaimu, semenjak aku tau aku seakan menjadi perempuan yang kamu sayang karna perasaan teramat dalam milikku ini. Aku mencintaimu, semenjak kata tak lagi bermakna. Aku mencintaimu, semenjak rasa menjadi sangat istimewa. Aku mencintaimu, semenjak malam terasa siang dan siang terasa malam. Aku mencintaimu, semenjak membawa namamu didalam bukuku. Aku mencintaimu, semenjak mengadukanmu pada Tuhan. Aku mencintaimu, semenjak aku sadar bahwa aku perempuan biasa dan ingin menjadi sempurna ketika dicintai olehmu, cinta. Aku mencitaimu, semenjak malam yang tiada henti memutarmu dalam lelapku. Aku mencintaimu, semenjak aku membawa-bawa bayangmu dalam hariku. Aku mencintaimu, semenjak kuputuskan hanya kamu yang akan aku perkenalkan dengan ayahku. Aku mencintaimu, semenjak aku tau bahwa aku mencintaimu. Aku mencintaimu tanpa tanda tanya, tapi aku mencintaimu dengan penuh kejelasan. Kamu paham?

Hingga akhirnya, kamu memutuskan untuk meninggalkan perempuan seperti aku, perempuan yang hanya bisa mengatakan mencintaimu namun kamu abaikan. Dengan puing-puing perasaan ini, harus kubawa kemana sisa-sisa perasaan yang masih cantik dan enggan beranjak pergi? Harus kubuang kemana sedang akupun masih menginginkannya tetap tinggal. Kamu meninggalkanku? Meninggalkan aku, perempuan yang pernah kamu cinta atas dasar ketulusan. TEGA?
0

Lalu, Bagaimana dengan Perempuan Tulus Bernama AKU?



Dan waktu pun berjalan selayaknya, aku menyadari bahwa cinta ini tak cukup untuk dipendam semata. Beberapa tahun lamanya, ia masih saja tetata rapi dalam balutan kasih. Entahlah, aku tak pernah tau bahwa hatiku punya resep rahasia menjaga cinta ini hingga saat ini dan aku mulai berani mengumbarnya lewat sebuah buku yang sengaja aku coret dengan tanganku berisikan tentang cinta, tentang aku dan kamu, tentang perasaanku, tentang kesedihan dan kebahagiaan akan cinta yang aku miliki ini.Sejak saat itu, aku tau bahwa waktu sedang berpihak padaku, pada cinta milikku. Kau melirikku setengah mencinta, dan aku tau itu.
Aku milikmu, mulai saat itu. Lengkung bibirku sumringah membawa aku merasakan berjuta rasa yang begitu sulit untuk aku ungkapkan dengan kata. Lihat! Seharusnya saat itu kamu bisa melihat wajahku, semestinya kamu bisa melihat betapa aku merasakan sesuatu hal yang entah harus aku sebut apa. Taukah kamu, dalam hari-hariku sebelumnya, aku tiada lelah membawa-bawa namamu dalam ceritaku pada Tuhan. Dalam setiap sujudku, bibirku seolah tak pernah lupa untuk menyebut 1 nama, bernama kamu. Tuhan pun tak pernah bosan mendengarkan setiap doa-doa yang aku lantunkan. Dan aku tau, Tuhan mengabulkannya saat ini.
Tak beberapa lama dari itu, aku menangkap hal aneh yang bisa aku baca dari sikapmu itu. Iya, sikap yang kau tunjukkan padaku beberapa waktu yang lalu dengan saat ini, berbeda. Aku bisa membaca itu, dan kamu tidak pernah memahami bahwa aku jauh lebih peka darimu.
Tidakkah kamu ingat, semua ucapan-ucapan yang sengaja kamu lontarkan meski lewat sebuah telpon genggam. Dari sini, meskipun kamu tak yakin bahwa aku begitu ingat smuanya dan mengharapkan sebuah tindakan yang kamu janjikan. Aku mengingat itu dan ingin sekali menagihnya sekarang. Ingatkah kamu pada perempuan yang kamu puji dengan sebuah ketulusannya? Ingatkah kamu pada perempuan yang menulis sebuah cerita nyata berisi perasaannya? Ingatkah kamu pada perempuan yang terlihat maya dari sana tapi terlihat nyata ketika kamu baca kata demi kata pada sebuah buku itu? Ingatkah kamu pada perempuan yang kamu cinta atas dasar sebuah ketulusan? Ingatkah kamu pada perempuan yang kamu bilang dia tak pantas menjadi pacar tetapi lebih pantas menjadi seorang istri bagimu? Ingatkah bahwa perempuan itu adalah aku? Ingat?
Aku merasakan satu persatu kata itu mulai hilang. Kata-kata kamu menyayangi aku dan mencintai aku sudah hilang sejak saat itu, yaa sejak saat kamu mulai mengabaikan semua perasaanku. Meski hal itu sudah perlahan luntur, tidakkah kamu tau, aku masih saja membawa namamu dalam perbincangan panjangku pada Tuhan. Aku masih memintanya pada Tuhan. Kamu tidak sadar?
Bukankah, aku sudah memperingatkan bahwa sebenarnya aku tidak berniat bersamamu! Lalu mengapa godaan itu ada saja datang dan memaksa aku untuk meng-IYAkan pertanyaanmu waktu itu. Konsekwensinya aku rasakan saat ini, hey. Pernah kuucapkan bahwa aku tak ingin bersamamu, bukan, bukan karna aku tak mencinta. Aku bilang aku hanya takut suatu saat waktu merampasmu secara paksa dariku sedang aku lagi cinta-cintanya padamu. Bukankah itu hal yang paling-paling menyakitkan?
Dan inilah yang aku rasakan, aku mulai muak dengan perasaanku ini. Aku mulai menikmati gerimis kecil yang aku cipta ketika malam kelam datang. Aku mulai terbiasa menghiasi malamku dengan sepi tanpa kehadiranmu di layar handphoneku. Aku mulai membiasakan diriku sendiri kala sepinya malam yang hanya bisa diobati oleh kamu. Sadarkah kamu hal itu? Rasanya, sakit.
Kamupun pergi ketika aku sedang cinta-cintanya. Tidakkah kamu menyadari sisa sisa perasaan yang masih menggunung dalam hatiku. Ia masih tertata rapi disini, dan kamu pergi menyisakan tangis yang mendalam. Aku tertegun pada malam-malam dimana kita terbiasa memulai percakapan panjang tentang khayalan-khayalan masa depan kita nanti. Aku membisu dengan kata yang sulit aku lontarkan, dengan mata terpenuhi genangan. Kamu merasakan apa yang aku rasakan?
Inilah yang selalu aku takutkan, kepergianmu. Aku tidak tau akan menjadi seperti apa rasa-rasa yang terbiasa aku simpan selama beberapa tahun belakangan ini. Aku tidak tau akan ku bawa kemana semua rasa yang mungkin salah bagimu ini. Aku tidak tau akan jadi seperti apa aku yang tidak pernah bisa melupakanmu semenjak aku mencintamu beberapa tahun yang lalu. Karna yang aku tau, aku tetap bisa menjaga perasaan ini hingga tahun ke 3 semenjak aku mencintaimu dalam diamku.

Harus seperti apa perempuan biasa seperti aku? ketika kamu memilih pergi darinya dan memutuskan untuk tidak kembali lagi? Harus seperti apa perempuan itu, hingga sedemikian rupa ia bisa lupa dalam sekejab semua tentangmu, tentang janji-janjimu, tentang khayalan-khayalan yang sudah terlanjur?
Kamu memilih pergi karna satu hal yang sulit aku pahami, kamu memilih sendiri dan tak ingin bersama siapapun kecuali dia. Iya, dia perempuan lamamu. Bagaimana aku tak sulit memahamimu, karna seharusnya kamu bersamaku disini, merangkai bahagia dan mulai melupakan dia. Karna aku tau, ada aku disini. Perempuan yang kamu bilang adalah perempuan yang tulus.

Kamu pergi dengan diam dan tiada kata yang bisa kamu ucapkan sebagai pesan terakhir. Seolah kamu tak ingin kebahagiaan mendekatiku, kamu pergi dengan menciptakan raut yang membuat aku merasa kamu membenci aku. Perempuan yang begitu kamu puji dengan ketulusannya dan saat ini kamu membencinya. Iya, dia adalah aku. Salahku apa?
Kamu terlihat bahagia disana, berbeda dengan aku, aku terlalu terbiasa dengan perasaan-perasaan yang sulit aku hilangkan ini. Aku terbiasa mencintamu walau dalam diam. Aku terbiasa memiliki perasaan yang sudah berusia panjang ini. Aku terbiasa mencintaimu dan sudah terbiasa tidak mencintai lelaki lain selain kamu selama beberapa tahun ini. Dan kamu malah memilih pergi meninggalkan aku?
Lalu bagaimana dengan perempuan tulus bernama aku????

0

Tegar, namun Masih Ada

Derai linangan air mata..
penuh... menutup pandangan,,
menetes, basahi tetes demi tetes
 tergenang dalam gumpalan kesedihan..
tertatih..
terluka..
gelisah..
Rasa kehampaan
juga..
meraung dalam kesendirian,,
bukan tanpa cinta
bukan tanpa sosok kekasih
 namunn penuh kecewaa.....
Terkurung dalam keterpurukan
Kerapuhan,,
terjatuh, jauuuuuuuuhhhh....
dalam jurang kesedihann..
hanya hampa,,
meskii mengangkat muka dengan senyum indah,,
meski seolah berkata bahagia
namun masih ada.......
0

Hantu Bayang

Semalam, itu datang lagi
Aku tanya pada siapa
Tak menjawab..
Diam dalam hening
Malam ini itu datang lagi
Tak sisakan banyak apa
Lalu aku tanya lagi pada siapa
Lagi-lagi diam dalam sapa
Saling bertatap malam ini
Hitam kelam menusuk
Putihnya terangi
Tajam dalam bisu
Cerah bayangnya
Hantui kelam menuju fajar
 Lambaikan langkahnya
Menuju Petang hingga datang lagi kelam
0

Bayang Sesalku

Bayangmu hadir lagi
mengisi malamku, tiada waktu terhenti
mungkin tak sengaja terbentuk
dari halusinasiku tentang kamu

disana seolha berbisik merdu
tersenyum dalam bisunya bayangmu
namuun.. Kuingat dulu
ini hanya menyesatkan ku jatuh
menyesak.. Menggebu anganku
tak terungkap, tak terjawab hatiku juga olehmu

waktu bercerita dan beralun
tak apalah, biarlah in berlalu
kini aku berpangku sesal
sesak mengenalmu
lara hati penuh kamu
remuk aku dalam bayang sesal

biarlah.. Rasa ini sampai mati
biar.. Menggumpal tak tertahan
terkuburlah kau bayang sesal ini
tak terungkap, juga tak terjawab
0

Ku Lelah Menggebu dalam Bisumu

Tabrakan waktu itu
merangkai kisah kita
bukanlah tabrakan maut
tabrakan berkesan lewat indra..
Bibir bentuk setengah lingkar
menatapmu tenang layak air dlm genangan
hatipun mengata
lewat mata kukenal dalam..
Tubuhku tegak berpaku
terpesona akan wajahmu
namun.. Lelah mataku
tatap kamu, kamupun membisu...
Dicerminan masa depan ini
kita beranjak sendiri sendiri
aku dsana n km disini
namun aku kembali lelah
dalam kondisi terpisah..
Diwaktu lain, tak sengaja aku berpulang hanya sekedar melihat dikau betapapun aku menggebu
tapi kulihat kamu masih membisu...
0

Mengenalmu, Ada Rasa yang Sulit Aku Artikan

Hayy…. Iya kamu, kamu yang tiba-tiba tiada bisa aku pungkiri begitu saja hadir dalam setiap hariku. Bagaimana tidak, kita saling mengenal semenjak satu sekolah dan aku pun mulai benar-benar mengenalmu semenjak saat itu. Iya, saat kita dipaksa saling mengenal atas dasar pertemanan temanku. Aku tak begitu mengenalmu ketika awal masuk sekolah, justru aku tidak menghiraukanmu sedikitpun. Tapi hanya karna kamu adalah temannya temanku, akupun mulai mengenalmu mungkin bisa dikatakan lebih jauh.

Semenjak saat itu, ada hal berbeda yang aku tangkap dari sorot matamu. Ahh, entahlah apapun itu, aku sudah bisa mengartikan dari setiap sorot matamu yang memandangku. Dalam setiap pandang dimana kita tak sengaja bertabrak pandang, aku bisa merasakan hal yang berbeda. Matamu menatap tajam kedalam mataku, dan aku tau disitu tersirat sebuah makna yang sulit untuk dijelaskan. Entahlah, akupun saat itu malas untuk menjelaskannya pada bayanganku sendiri ketika aku bercermin dan tak sengaja mengingatmu kala itu. Seakan bayangmu menghantui pada setiap malam dimana akulah tokoh yang tersisksa selalu teringat bayangmu yang maya itu.

Yaaa, semakin hari semakin yakin bahwa kamu selalu menjadi-jadi dalam setiap malamku, aku menyimpanmu dalam setiap malam sepiku, walau secara berterus aku selalu berusaha mengubris semua bayanganmu itu. Tapi yang kudapatkan, kamu justru semakin menguat dalam pikiranku. Ahh, tak apalah pikirku, mungkin ini hal biasa dan seiring waktu berjalan semua akan hilang. Akupun mengizinkanmu mengobrak-abrik pikiranku dengan semua bayanganmu, kamu berhasil menguasai pikiranku dan membuat aku tak berdaya dengan semua bayangmu yang benar-benar terasa penat disana, dihatiku.

Kudapati kamu berhasil masuk kehatiku, tanpa bisa mengelaknya akupun membiarkan hal itu terjadi. Entahlah semua ini datang begitu saja, begitu sulit aku menjelaskannya. Dan aku sempat mengelak dengan mengatakan bahwa aku tidak sama sekali mempedulikan rasa ini. Tapi berjalannya waktu, rasa itu semakin menjadi-jadi dan membuat aku merasa benar-benar tersiksa atas ini. Kamu berhasil berkuasa didalam hatiku.

Memang, sejak awal berjumpa, ada hal yang sulit aku jelaskan. Bukan, bukan soal rasa tapi hal lain yang entahlah artinya apa. Hingga sampai saat ini akupun tak mengerti, mengapa waktu membawaku hingga mengenalmu lebih jauh seperti ini. Secuil pun, tak pernah aku meminta untuk mengenalmu seperti ini. Kamu tau kenapa? Aku hanya takut menjadi sakit seperti perempuan selayaknya. Aku takut mengenalmu dalam dengan alasan aku takut sakit. Bukankah itu masih manusiawi?

Semenjak mengenalmu, berbeda dengan mengenal lelaki lain sebelumnya. Ada hal aneh yang tersirat disini, dihatiku. Setiap kita bertabrak pandang, sedetik kemudian yang aku rasakan didadaku adalah detakan jantungku yang berdetak cepat. Setiap kita tak sengaja saling berpapasan, aku selalu menunggu lengkung bibirmu menyapaku dan membuat aku tersenyum pula. Ahh, kamu memang tak pernah bisa mengartikan pandanganku yang berpusat padamu. Kala dari kejauhan, mataku berkeliaran panjang menelusuri pandangku pada setiap sorot yang bisa dijangkau mataku. Aku mencarimu kala itu, mataku asyik bermain-main dengan bolanya menyeleksi wajah yang ketika pandangku terhenti padamu takkan kubiarkan melirik hal lain apapun disekitarku. Aku berpusat padamu.

Kamu tak seperti aku, yang mudah saja peka dengan semua apa yang ada didekatku. Terkadang, aku membatin dan memintamu untuk bisa sedikit saja peka dengan apa yang aku rasakan. Tapi, ahh sudahlah mungkin memang akulah yang diminta Tuhan untuk memiliki perasaan aneh seperti ini. Hingga aku tetap membiarkan perasaan ini tetap tumbuh dan menjadi sejadi-jadinya.
Harusnya aku tak pernah mengenalmu jika seperti ini akhirnya, harusnya dari awal kita tak pernah saling mengenal jika hanya aku yang benar-benar merasakan hal ini, seharusnya hanya Tuhan yang tau dan menyimpan rahasia besar ini, hanya Tuhan harusnya yang bisa mengartikan perasaan aneh ini. Dalam kelemahanku ini pun aku masih sempat mengatakan dan meminta Tuhan untuk mencabut perasaan yang tak pernah aku undang ini. Aku meminta Tuhan mengambilnya secara paksa dariku, aku meminta Tuhan menyingkirkannya dari hatiku. Karna buatku, aku sudah lelah dengan rasa ini, aku lelah dengan rasa yang tidak jelas ini, aku hanya ingin merasakan perasaan yang sewajarnya saja. Dan menurutku, rasa ini sudah tidak wajar. Rasa ini menggerogoti hati ini dan membuat aku benar-benar lemah.

Taukah? Pada setiap malam, ada hal yang tak pernah aku inginkan. Bayangmu. Aku tak menginginkan hal itu mengganggu tidurku, sekalipun aku tertidur tak jarang kamu merasuk dan mengusik tidur lelapku dan aku terganggu akan itu. Semudah itu, kamu menghantui aku. Atas nama perasaan, lalu kamu seenaknya saja menjadi-jadi dalam fikiranku. Memangnya kamu itu siapa? Bisakah sedikit saja jangan menggangguku, karna aku ingin tenang dengan perasaan sebatas teman saja, bukan perasaan selain teman. Sebenarnya, aku ingin mengenalmu hanya sebatas teman. Teman. Tapi ternyata, perasaan lain lebih dulu datang dibanding perasaan sebatas teman tadi. Dan tiada perasaan lain yang bisa mengalahkan perasaan sebatas teman selain CINTA. Aku mencintaimu, teman.
0

Ketika Kuminta Kau Jangan Pergi

Tak pernah seperti ini sebelumnya, mampu bertahan selama itu dengan perasaan yang masih sama. Tak pernah kuminta bahkan. Smua mengalun seperti halnya harus berjalan. Berjuta gerimis kecil yang ada dimata, tertahan hingga suatu ketika ada masanya menggumpal dan tak tertahan hingga menetes. Itulah hal yang bisa aku lakukan ketika kuat pun tak mampu kurengkuh. Aku terjatuh dalam dan rasanya enggan mengobatinya. Aku tertahan pada suatu masa dimana kutemukan cinta yang membuat hariku berwarna. Salahku memang, tak pernah mencoba membuka hati hingga akhirnya aku tak temukan yang lebih dari ini. Hingga akhirnya aku masih terpaku pada sosok ini dan enggan menemukan yang lain.

Aku, perempuan yang mengulum khayalan dan harapan yang begitu besar serta menahan pedihnya rasa. Itulah aku, bertahan dengan berjuta rasa yang menyeruak menggerogoti kekuatan hati hingga tak sempurna lagi. Aku lemah. Aku merasa sendiri.

Satu kata terakhir yang benar-benar aku ingat darimu adalah, “pergi”

Setelah banyak tanya yang aku lontarkan dan hanya dengan 1 kata itu kamu menjawabnya.

Aku diam, dan mulai lagi gerimis kecil dimataku muncul dan tak tertahan hingga menetes. Terkumpul sebuah perasaan dan harapan yang enggan terucap dengan jelas dimulutku. Aku tetap diam, dan meresapi tetessan air mata ini. Entahlah apalagi yang bisa aku lakukan selain menikmati kesedihan dan kesakitan ini? Selain diam dan menyesali cinta yang sudah kujaga sejauh ini. Rasaku ingin menahanmu tuk tetap tinggal disini, mengisi hariku lagi. Rasaku ingin menahanmu tuk menikmati cintaku lagi. Rasaku ingin menahanmu tuk tetap tinggal direlung hati dan memintamu untuk jangan pergi.

Tertatih ku rangkai kata demi kata dalam hatiku sambil menahan sesakku. “Bolehkan kuminta kau jangan pernah pergi?!”
0

Harapanku pada cinta

Dan pada akhirnya, aku harus mengalah lagi, bertahan sendiri atas perasaan-perasaan yang mungkin salah bagimu. Aku hanya mengikuti alur kemana harus berjalan semuanya, dan kesinilah aku berjalan. Tak pernah ada yang mau cinta itu datang disaat yang tidak tepat, hanya saja ketika cinta datang siapa yang bisa menolak? Siapa yang bisa membangkang? Cinta itu mengalir seadanya dan cinta akan tetap terus berjalan. Cinta berjalan selayaknya cinta. Cinta itu tulus, cinta itu jujur.
Jika suatu saat aku berhenti bertahan, bukan, itu bukan karna aku memang lelah bertahan, aku hanya memberi ruang untuk hatiku agar merasakan bahagianya menjadi seorang perempuan yang dimiliki oleh seorang lelaki. Merasakan gembiranya dimiliki oleh lelaki yang mencintaiku apa adanya, tidak peduli aku ini siapa, seperti apa aku ini, tapi  lebih memandang sebuah ketulusan dariku. Karna yang aku tau cinta selalu berpihak pada ketulusan, bukan pada yang lain. Aku bilang aku tidak menyerah atas perasaan yang aku miliki, aku hanya tidak meneruskannya, membuang waktuku untuk terus memiliki perasaan-perasaan yang mungkin salah bagimu. Untuk terus mengharapkanmu memiliki rasa yang sama. Aku hanya berhenti, tapi aku tidak menyerah. Disaat aku berhenti bertahan pula, Aku memberimu ruang juga, membiarkanmu belajar banyak hal diluar sana, belajar mencintai perempuan yang mencintaimu, belajar tentang banyak karakter hati seorang perempuan, belajar banyak tentang bagaimana menjadikan seorang perempuan yang biasa itu menjadi sempurna karna cintamu. Bagaimana menjadi seorang lelaki yang setiap hadirnya menghiasi kegembiraan. Bagaimana menjadi seorang lelaki yang melindungi dan menjaga perempuanmu. Dan yang paling penting adalah bagaimana menjadi seorang lelaki yang pantas untuk dijadikan sebagai imam bagi perempuanmu yang mencintaimu, kelak.
Ketika ada kalanya aku merindukanmu, dan saat itu pula aku hanya bisa diam dan memendamnya dalam senyap. Karna sekalipun aku mengatakannya padamu, aku pastikan kau takkan pernah mempedulikan perasaan rindu ini. Kuputuskan memendamnya dan kupastikan aku akan tersenyum bahagia ketika mendengar kabar-kabar bahagiamu, kesuksessanmu kelak, menjadi seorang geologis. Setidaknya hal ini akan membuat rinduku berkurang ketika aku tau kau baik-baik saja disana. Perasaan rindu takkan pernah disampaikan secara langsung kepada orangnya, perasaan rindu hanya akan disampaikan lewat doa. Hal inilah yang akan aku lakukan ketika aku merindukanmu. Dalam setiap doa, aku bisa terus memelukmu.
Ketika aku memutuskan untuk menghilang darimu, aku hanya tak ingin tau banyak hal lagi tentangmu, aku mencoba menata hati kembali seperti semula, bersikap biasa tapi tidak akan pernah melupakanmu, takkan pernah bisa. Itu adalah caraku, dewasa atau tidak menurutmu itu terserahlah. Aku hanya menjalankan dengan caraku seperti ini. Yaah! Memang aku belum dewasa, masih sangat kecil untuk mengenal cinta. Mungkin memang kamu merasa kamulah yang dewasa. Dan kamu fikir, dengan berpura-pura memiliki perasaan padaku hingga menjadikanku milikmu dengan itu bisa membuatku bahagia jika pada akhirnya kamu pun tak pernah berniat mempertahankanku? Tidak, sama sekali tidak membuat aku bahagia. Tidak membedakan yang mana pacar dan bukan pacar, tidak mengerti perasaan pacarmu sendiri, selalu ingin menang. Yah! Tepatnya mengabaikan perasaan orang yang sungguh, mungkin itulah cerminan dirimu. Dewasa? Tidak, kau malah menjadikanku sebagai pilihan antara sendiri atau mengisi hati dengan yang lain jika sudah merasa tidak pas lalu kau abaikan? Seperti itukah lelaki? . Maaf aku berkata seperti ini. Maaf. Aku baru mengetahui, bahwa sesuatu yang tidak adil adalah ketika aku mencintainya dengan sangat, tapi dia hanya memainkan sandiwara. Dan aku sadar, untuk mencapai bahagiaku, aku harus melepaskan dan merelakan kamu yang tidak pernah mempertahankanku dan tidak mengandalkanmu, mengharapkanmu yang hanya menjadikanku sebagai pilihan. Terima kasih. 
Seperti katamu dulu “waktu yang akan menjawab semuanya”. Biarlah waktu yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan hati yang tak pernah terjawab dengan jelas. Kelak, kuyakinkan diri jika suatu saat kita bertemu pada suasana yang berbeda kupastikan dan kuyakinkan pada dirimu bahwa aku sudah bisa mengurangi perasaanku ini. Karna itulah yang selalu kamu mau, karna kamu tak pernah inginkan perasaan yang aku miliki ini. Right?! Tuhan yang akan meneruskan cerita ini, aku akan menghentikannya secara perlahan dan membiarkan garis takdir Tuhan yang menuntunku, entah kemana itu. Yang pasti Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Jika ternyata cinta ini salah, aku bersyukur Tuhan menegurku dengan melukis rasa sakit lagi dalam hatiku. Karna itu mungkin aku bisa memperbaiki diri dan menjaga hati hingga cinta ini terasa benar, kelak. Walaupun aku masih berharap cinta ini tetap kamu. Aku mencintaimu...
Mencintai, menyayangi bahkan merindui yang kamu pun tak pernah yakin dengan caraku seperti ini. Tanpa senyum, tanpa sapa. Namun, aku  ikhlas membiarkanmu tetap tinggal disudut hatiku dengan membiarkanku tetap berada disuatu tempat yang jauh untuk mencintaimu. Ti Amo.

0

SEMERBAK HUJAN ITU

SIIIIPPPP, malem ini aku mau ngepost yang uda lama-lama ya :)
ini cerita yang aku tulis lagi di ujung SMA kalo ga salah, yuuuukk mongggoooo dinikmatin :) semoga suka ya,
maaf banget telat ngepoost ini hehe, maklum banyak job dari dosen :) okeeeehhsipp selamat membaca :))

Semerbak Hujan Itu
Oleh Izah Nurhidayah
Malam ini, angin membawa diri ini terlelap dalam lamunan. Sebuah lamunan yang sudah lama sekali tidak terukir lagi. Seperti album yang tlah kasar karna debu, seperti sebuh hiasan yang tlah lama rusak dan tidak dilirik lagi. Menyedihkan, inilah kisah gue… Sebuah kisah tak terselesaikan, sebuah cerita yang tiada endingnya, sebuah kisah yang ingin lagi dia mengulangnya… Hati ini sudah terpojokkan oleh sosok yang tiada hentinya mengukir namanya sendiri diingattan gue, mata ini tak sedikit pun goyah melihat ramahnya wajahnya yang masih terpampang dalam bingkai debu yang kusam, dan wajah ini senantiasa tersenyum mengingat semua tentangnya dan kisah indah bersamanya. Hati ini jugalah yang tak mau berhenti mengingat sosok dalam kegelapan yang penuh tanda tanya. Hati ini terlalu bersemangat menari dalam tingginya angan untuk bertemu dengan dirinya lagi. Deffa Ian Pratama, dialah yang menjadi kegelapan dalam jiwa gue, penuh tanda tanya, menjadikan gue selalu dihantui masa lalu dan terus ingin mengulangnya lagi….
Perpisahan tlah datang lebih dulu dari yang gue kira. Gue, Deffa, dan sahabat gue Viand terpisah cukup jauh. Kerinduan yang teramat menggumpal dalam hati ini tak sanggup lagi rasanya gue pendam. Gue selalu merindukan semuanya yang mengingatkan gue dengan masa lalu gue terutama Deffa. Banyak hal yang bisa ngingetin gue ama dia. Semua kejadian diSMA gue seperti sudah direncanakan hingga gue selalu dan selalu mengingat Deffa, bahkan kalopun bukan mengingat tapi gue selalu teringat sosok Deffa dalam hari gue. Bayangnyalah yang terus datang dalam diamnya hari, heningnya malam, dan sepinya hati ini dengan sendirinya.
Satu hari sebelum perpisahan tiba, gue sempet ngukir kisah terakhir gue dengan Deffa, meskipun itu tak tau kisah apa. Namun gue berharap kisah ini akan terus abadi sampe kita mungkin nggak bisa nginget semua kehidupan kita didunia. Deffa, saat itu terlihat sangat dewasa banget, terlalu dewasa buat umurran anak SMP kek gue. Deffa terlihat sangat ganteng banget pas kita mau jalan ketaman bunga. Senyumnya yang bikin gue terkadang terdiam dan Cuma bisa bales senyum terpesona ke Deffa. Disini gue dan Deffa terjebak suatu suasana yang hening dan kami pun bertatap pandang lama dan mungkin ini adalah tatap pandang kami yang terakhir kalinya.
“Heii,, kenapa lo mandang gue kek gitu Nir?? Eee lo naksir ya ama gue??”goda Deffa sambil tersenyum manis sekali ke gue.
“aaahhh apaan si lo Deff? Gue tu mandang lo soalnyaaaaa.. soalnyaaa ada belek tu dimata lo!! HAHAHAHA” ucab gue sangat cepat ngeles.
Deffa salting dan langsung ngalihin mukanya ketempat lain sambil ngusap-ngusap matanya. “ehh gila, nggak ada tauu!!! Jangan ngeles de Nir, gue tau lo naksir gue! Ya kan ? ya kan???” ucab Deffa mengedipkan mata.
Gantian gue yang sedikit salting, gue senyum-senyum sambil manyunkan bibir gue. “mati gila gue naksir elo! HAHAHAHHA”.
Tak lama, ditengah-tengah gue dan Deffa yang saling menatap, hujan turun dengan derasnya. Rintik hujanlah yang ngebangunin gue dari tatapan mata dengan Deffa, Deffa pun begitu. Tangan kami nggak sengaja saling berpegang dan berlari menuju ke sebuah pondok.
Langkah kami bedua terhenti, kami saling bertatap dan tersenyum. “gue pengen kita tetep disini ngebiarrin hujan menjadi penutup kisah kita! Lo mau Deff?” gue buka omongan sambil tersenyum.
“gue pun maunya seperti itu!” balas Deffa sambil tersenyum manis.
Kami berlari-lari bareng, menari-nari dalam hujan yang menyapu jalan. Deffa menuntun gue menuju kesebuah sungai masih disekitar taman yang kami kelilingi itu. Mata gue menjurus ke pinggir sungai, dan ternyata ada perahu kecil yang kosong. Gue menatap Deffa penuh arti, Deffa pun begitu. Secepat mungkin Deffa mengajak gue menaiki perahu itu. Dengan rasa bercampur senang dan haru gue teramat menikmati semua ini. Namun hujan pun semakin derasnya mengaliri perpisahan gue dan Deffa. Menemani gue dan Deffa menikmati alunan air sungai yang tadinya diam kini penuh dengan gemerecik besar. Seiring derasnya hujan yang turun, maka secepat itu pula perahu gue dan Deffa penuh dengan air hujan, perahu gue dan Deffa goyang. Tapi anehnya gue masih aja bisa seneng dan senyum ama Deffa.
Aa a a a a a …… Gue terjatuh dari perahu itu, sedang gue, gue nggak bisa berenang sediktit pun. “heepp… hlpp…….Def...Faaaa!!” gue nyoba buat manggil Deffa yang nggak tau dimana Deffanya.
“Nir… Nirrr!!”jerit Deffa terdengar sampe ke telinga gue. ‘hheeepppp’ “dapet” ucab Deffa saat dia berhasil nangkep badan gue yang sama sekali nggak bisa berbuat apa-apa diair ini. Gue terkulai lemah tak berdaya, jauh tak berdaya dari sebelumnya. Tapi disaat gue terkulai lemah, gue masih bisa tersenyum ama Deffa.
“gue nggak papa Deff!” desis gue pelan dan sangat pelan banget.
“Nir… SORII NIR,, GUE NGGAK PERNAH MINTA PERJALANAN KITA JADI KEK GINI!! NIR SORI!!!!!!” ucab Deffa nyoba buat gue bangun dari pingsan sesaat gue. “NIR PLIIIIIIISSSS GUE MINTA LO BANGUN NIR!!!!!!!” ucab Deffa setengah menjerit.
“sseeessrrrrrrssee ssse ssee rrrrrr bbbrrbbbrrrbbbrr” Gue menggigil kedinginan! Gimana nggak kedinginan coba? dengan suasana masih hujan sangat deras, udah gitu kejebur sungai pula, dan hampir tenggelam juga! Lengkap sudah kenang-kenangan terakhir gue ukir dengan Deffa.
“Nirr!!!!! Lo dingin ya??”ucab Deffa teramat khawatir melihat gue dengan kondisi seperti ini. “gue bakal bikin lo nggak dingin lagi Nir! Tapi gue minta lo buka mata lo ya Nir!!!” ketus Deffa serius. Deffa memegang telapak tangan gue dan meniupnya dengan kencang selain itu, Deffa sedikit merangkul gue dengan penuh kekhawatiran.
“Deff!! Gue nggak papa!”ucab gue lirih dan membuka mata gue!! “ma maaf udah bikin lo jadi susah kek gini!” ketus gue melayangkan senyum termanis gue. “gue senang udah kenal lebih dekat dengan lo! Gue nggak bakallan lupa ama ini Deff!! Hhhee” gue tersenyum manis sekali, Deffa sampe memuji senyumman gue ini.
 “gue nggak pernah ngerasa repot Nir!” jawab Deffa tersenyum manis pula. “hhe,, seumur gue kenal ama lo, gue baru denger lo seneng kenal ama gue dan seumur gue dekat ama lo, baru ini gue ngerasa senyum lo yang ini emang patut buat dipuji”. Deffa menatap gue tajam. “lo manis banget Nirzhanda….”
 “bahkan gue pun juga mau bilang, kalo disinilah gue bisa bilang kalo lo itu hari ini teramaat beda. Dan elo pun terlihat keren dengan kemeja lo ini, hehhe” ucab gue ngebales pujian dari Deffa itu.
 Deffa menatap gue sambil mengernyitkan kening. “maksud lo kalo gue make kemeja ini aja? Kalo pake yang lain nggak keren gitu???” tanya Deffa sedikit manyun.
 “hehehehe…. Nggak! Tapi lo terlihat sangat keren!!” ucab gue semakin memuji Deffa.
 Gue dan Deffa akhirnya saling bertatap dan tersenyum manis sekali. Disinilah gue ngerasain sesuatu yang beda banget dalam diri Deffa. Hanya satu yang gue sayangin, gue nggak tau apakah Deffa ngerasa sesuatu yang beda didiri gue atau nggak sama sekali? Perpisahanpun akhirnya terjadi… Kita nggak pernah ketemu lagi, kita nggak pernah bertatap pandang lagi, kita nggak pernah bisa saling menyapa dan bercanda lagi. Sampe suatu ketika Deffa mutusin hubungan pertemanan ama gue, dia ganti nomor handphonenya hingga gue sama sekali nggak bisa ngontak dia. Gue hanya bisa mimpi semua tentang dia dimalam-malam sunyi, gue hanya bisa tersennyum pas ngeliat fotonya yang terpasang dibingkai penuh debu, gue hanya bisa meratap semua tentang masa lalu gue. Viand sahabat gue dulupun ngak pernah tau kenapa Deffa jadi nggak pernah ngububngin gue lagi. Termasuk Viand nggak pernah dihubungi lagi oleh Deffa. Inilah akhir dari masa SMP gue, inilah akhir dari keindahan yang gue rasain pas SMP, dan ternyata itu hanyalah keindahan sementara semata. Gue hanyalah kebawa suasana dan Deffa sama sekali nggak nggak peduli lagi dengan gue sekarang. Deffa hanyalah masa lalu gue yang tak terselesaikan, gue nggak pernah tau apakah Deffa cinta atau nggak sama gue, apakah Deffa sayang atau nggak sama gue. Gue nggak pernah tau itu.
***
 ‘kau tak sempat tanyakan aku, cintakah aku padamu?? Tiap kali aku berlutut aku berdoa suatu saat kau bisa cinta pada ku.. Tiap kali aku memanggil didalam hati,, mana sunny, mana sunny kuuuuuuuuu’ lagu Bunga Cintra Lestari memutar disalah satu stasiun televisi kamar gue. Gue termenung lama dan gue merasakan sesuatu. Deffa, gue tersenyum lagi karna lagu itu, karna lirik dari lagu itu gue teringat sosok Deffa. Deffa nggak pernah nanyain ke gue, gue itu cinta atau nggak ama dia. Semuanya usai, suatu jarang dan waktu misahin kita dan nggak tau bakallan bisa ketemu lagi atau nggak sama sekali. Gue berharap dengan takdir, gue ingin bertemu sekali lagi dengan Deffa meskipun itu adalah terakhir kalinya gue bakallan ketemu dengan dia. Hujan pun turun menemani merdunya lagu itu, mata ini menatap semua sisi dalam derasnya hujan. Hati ini berisi penuh harapan, berharap hujan akan bawa gue ketemu dengan Deffa. Sama seperti saat terakhir gue dengan Deffa jalan bareng, ditemani dengan hujan yang begitu manisnya mengaliri perasaan senang gue.
 “kak!!! Temenin aku main yookk!!”teriak adek gue yang langsung masuk dan menggeret gue keluar dari kamar.
 “heii,, ntar mama marah. Diluar lagi hujan deres kek gini kok!” sergah gue dengan menatap adek gue yang masih sangat kecil.
 “ahhh,, enggak kak! Janji de Rizal nggak bakallan sakit!” Adik gue masih saja maksa gue, dia berekspresi sangat memohon.
 Gue yang merasa sangat masih merindukan sosok Deffa menatap adek gue dengan dalam. Dalam diri Rizal gue ngeerasa ada sosok Deffa, dia ingettin gue lagi dengan Deffa. Gue teramat Rindu dengan Deffa. “hm…..”gue menarik nafas. “janji???” tanya gue mengacungkan kelingking gue pertanda setuju!
 “JANJI!!” Adek gue loncat kegirangan.
 Selangkah, dua langkah, dan tiga langkah gue keluar dari rumah gue. Menuju sebuah kenyataan besar yang semestinya harus gue lupain. Deffa lagi Deffa lagi, yang semestinya diri gue sadari kalo Deffa sekarang udah resmi jadi masa lalu gue.
 “kak,, hujannya manis banget! Rizal seneng banget kak!!”ucap Rizal dengan senyumnya yang memamerkan lesum pipi.
 Gue lagi-lagi termenung, Deffa lagi yang ada difikirran gue. Deffa selalu tersenyum pas natep gue bersama hujan. “hhee,, iya dek!! Kita nikmati ya hujan kali ini!” jawab gue dengan senyum termanis pas gue tersenyum ama Deffa dulu.
 Gue terus melangkah, menyusuri jalan bersama adik kecil gue yang mungkin belum tahan betul dengan hujan yang basahi kami dengan derasnya. Gue terus tersenyum manatap adik gue, gue nyoba buat nggak terlalu terlihat rasa khawatir yang sangat besar.
 “bbbbeerrr,,,, sssrrrrrrrrrrrrrr kkaaakkaakkk.. dinnnngiiin!!” Rizal menggigil dingin, mulutnya bergetar dan membiru.
 Apa yang gue takutkan terjadi, adik gue menggigil kedinginan. “Kamu gigil dek!”gue memeluk adek gue dengan sangat kencangnya. “kita pulang ya!!”
 “brrrr……. Iya kak, Rizal nggak tahan, tapi hujan masih terlihat tersenyum manis ama Rizal kak, Rizal sayang ninggalin hujan ini kak!!” sergah Rizal yang masih terlihat menggigil.
 “kakak lebih sayang ama kamu dek! Rizal kan janji nggak bakallan sakit!!” gue masih tersenyum melihat adik gue yang menatap gue penuh senyum pula. “ayooo kita pulang!!” ucap gue sambil menggendong adik gue dan memeluknya dengan kencangnya. ‘maafin kakak ya dek! Kakak ini terlalu begok udah ngajak Rizal main hujan. Sori dek!!’ gue membatin dalam hati.
 Rizal Cuma diem natap gue dengan senyum, tapi gue tau apa yang berisi dalam hati Rizal. Rizal seneng udah gue bawa kesini, gue tau kok dalam hati Rizal berkata demikian. Gue berjalan menyusuri hujan sambil tersenyum. Lagi-lagi bayang Deffa ada di sini, gue inget sosok Deffa yang dulu. Disinilah gue bisa tau gimana khawatirnya Deffa dengan gue. Sama seperti gue saat ini yang sangat khawatir dengan Rizal. Hujan yang turun basahi kenangan yang dulu sempat kusam karna debu, kini terbuka kembali mengalun lembut dengan sendirinya. Semua bermula dari hujan ini lagi, semerbak hujan yang basahi dunia ini, juga basahi album lamaku bersama Deffa. Alunan semerbak hujan yang bawa gue kesuasana indah masa lalu gue. Tersenyum sendiri menatap semua keindahan dulu. Deffa hadir lagi dalam hidup gue, Deffa datang lagi dalam manisnya hujan yang dulu sempat hilang entah kemana.
***
Dear Deffa IP
Hujan ini…
Menatap ku penuh tanya
Beralun dalam sayahdunya cinta
Bawaku kesuasana berbeda
Keindahan dulu, yang sempat hampir terhapus oleh jarak dan waktu
Saat ini hadir lagi didepan mataku, menatapku penuh arti.
Aku pun terlelap, selalu dalam bayangan itu..
Terekam jelas dalam ingatku.
Hujan itulah… Kau hadir lagi,
Rintik itulah bayangmu menyisip lagi
Seperti tak terlepas dalam harumnya hujan
Kau selalu bersamanya
Hujan itulah adalah hujanku pula
 Itu salah satu puisi gue teruntuk Deffa. Gue kirim ini lewat selembar kertas putih dengan tinta hitam yang dengan lincahnya mengukir indah. Gue kembali lagi kesebuah taman dulu yang pernah menjadi sebuah kenangan yang terindah. Gue duduk ngebayangi semua yang mengalun seiring ia akan beralun. Masih tersusun rapi dalam ingattan gue setiap detik yang gue lalui, setiap cela yang gue lewati terekam jelas disini, didalam hati gue. Seketika gue duduk dipinggir sungai yang mengalun lembut dengan rintik gerimis. Disini masih sangat terekam jelas, dengan tersusun rapi tiada yang terlewatkan dari semua yang gue lalui….
 “gue tulis ini buat lo Deff! Masihkah elo disini? Entahlah,, gue nggak pernah tau itu!” ucap gue sendiri sambil tersenyum menatap perahu yang ternyata masih sama seperti yang dulu.
 Gue mengaca digenangan sungai yang terkadang tersentuh oleh rintik hujan yang mengalun lembut. Disitu terlukis jelas pula wajah Deffa yang tersenyum manis sekali, hanya Deffa dan Deffa yang terlukis disini. Disemua sela yang ada ditaman ini, gue tatapi dan penuh dengan bayangan Deffa dimana-mana. Taman ini seakan sudah didesain dengan wajah Deffa dan Deffa lagi. Namun sebenarnya kemana Deffa, gue nggak pernah tau itu. Berjuta tanya dalam diri gue seakan tercetak penuh pertanyaan dengan Deffa. Ataukah takdir memang nggak bakal membawa gue dan Deffa sekedar saling menyapa dan tersenyum? Kalau memang seperti itu, kenapa tidak dari dahulu saja gue dan Deffa nggak pernah dipertemukan, hingga gue nggak pernah ngerasain tanda tanya yang teramat besar. Yang gue pun nggak pernah tau siapa yang bakallan ngejawab tanda tanya besar ini.
 Dalam diamnya diri gue disini menikmati diamnya taman ini bersama hujan, tiba-tiba gue ngeliat sesosok orang aneh yang nggak tau apa tujuannya datang kesini. Dia berlari-lari pelan menikmati sejuknya rintik hujan yang mengalir lembut. Menari-nari, sama seperti gue dan Deffa dulu. Gue pun semakin memperhatikannya dari kejauhan hingga gue tertarik untuk mendekati lelaki itu. Namun mata gue nggak bisa ngeliat jelas wajah lelaki itu, namun gue seakan mengenal tingkahnya yang begitu dekat dengan gue. Gue merasa mengenal lelaki itu, lelaki itu gue rasa ada dalam kenangan gue. Apakah itu Deffa?? Gue nggak tau itu, akhirnya gue mutussin buat ngikuttin jejak lelaki itu yang terus bergerak nggak berhenti.
“heiiii!! Elo!!!” gue setengah menjerit mengarah ke lelaki itu. Lelaki itu seperti sama sekali tidak mendengar gue, gue terus berlari mengikuti dia.
“hei!!! Gue pengen kenal lebih dekat dengan elo!!!” jerit gue. Namun sayangnya lelaki itu masih tetap menari-nari dan berlari dengan cepatnya.
“HEIII!!! TUNGGU GUE!!”gue menjerit sangat kencang. Sampe diperempattan jalan, gue melihat lelaki itu masih tetap menari-nari dan berlari tanpa hentinya.
“hhheeeeiiiiiii tungggguuuuuuu!!! AWASSSSSSSS!!MOBIIIILLLLLLLLLLL!” jerit gue sangat melengking, tapi sayangnya lengkingan suara gue nggak bisa bikin lelaki itu berhenti hingga akhirnya gue terhenti dan menutup wajah gue nggak mampu ngeliat peristiwa yang sangat mengejutkan ini. “astaghfirullah halaziiimmm”
Lelaki itu seketika hilang, nggak berbekas. Padahal dengan tampang yang sadar gue ngeliat  betul mobil yang melaju kencang itu sangat dekat dengan lelaki itu. Tapi apa? Lelaki yang menari-nari itu hilang nggak berbekas, begitupun dengan mobil yang melaju kencang itupun nggak berhenti tapi tetap saja melaju sangat kencang. Pertanda apa ini?? Ada apa ini?? Mata gue melebar, menerawang semua yang gue lihat tadi, apakah itu hanyalah sebuah bayangan semata, gue mengucek-ngucek mata gue tapi memang benar lelaki itu nggak ada. Pikir ini lepas dari Deffa, pikiran gue yang tadinya penuh dengan Deffa kini hilang seketika, gue kepikir dengan adik gue dirumah. Kepala gue terasa sangat berat dan melayang-layang. Gue nggak pernah tau pertanda apa ini?
‘kau tak sempat tanyakan aku cintakah aku padamu….’ Handphone gue bunyi tanda ada yang memanggil gue.
“halo Nir, Nir…” ternyata Viand menelpon gue dengan suara yang rada serak.
“iya.. Lo kenapa Via??” tanya gue ikut ngos-ngossan.
“Lo cepettan sekarang kerumah sakit Harapan Indah. Gue nunggu lo disini, kalo lo nggak dateng, gue bakallan kecewa ama lo!” ucap Viand cepat dan berantakan.
“heiii,,, ada apa ini?? Lo kenapa??” gue yang khawatir dengan Viand yang berada dirumah sakit. “gue pasti kesana, tapi ada apa dengan lo??” tanya gue sangat khawatir.
“lo nggak usah banyak tanya sekarang, gue butuh lo disini Nir!!” tegas Viand cepat dan langsung memutuskan sambungan telpon gue.
Gue bergerak cepat, melangkah menuju paskiran motor gue yang ikut menikmati hujan rintik yang begitu indah dengan suasananya. Tanpa pikir panjang lagi, karena rasa khawatir ini bertumpuk dalam hati gue, gue melaju dengan kecepatan yang sangat kencang. Seketika itu pula pikirran gue melayang-layang. Sesuatu yang tadinya akan terjadi hal buruk pada adik gue, ternyata bukan. Lalu siapa??? Ada apa ini?? Gue bertanya-tanya terus dalam hati. Viand kenapa dia?? Sakit apa dia disana? Gue masih bertanya-tanya dalam hati. Pikirran gue yang sebelumnya tadi pula penuh dengan wajah Deffa kini hilang, Deffa nggak terlukis lagi dipikiran gue. Yang ada hanyalah tanda tanya baru yang besar.
“BRRRRAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!!!” gue terpontang panting nggak tau arah. Gue terjatuh dan terbentur apapun itu gue nggak tau. Motor gue diserempet oleh sebuah mobil kijang krista yang sedang melaju kencang pula. Satu hal yang bisa gue inget, gue ngelihat sosok lelaki itu lagi pas gue sedang melaju, dia melambaikan tangan tanda selamat tinggal. Namun sebelum gue kecelakaan tadi, lelaki itu ada lagi. Tapi gue hanya bisa mendengar suaranya saja. Lelaki itu berkata ‘Nirzhanda… Awasss!!!’ lalu gue nggak sadarkan diri sama sekali, gue tergeletak tak berdaya.
***
Dalam diamnya diri gue dan dalam kesadaran yang sangat minim, gue terbayang wajah Deffa lagi, Deffa hadir lagi disini, dan sepertinya ini bukalah bayang Deffa tapi Deffa nemenin gue disini, Deffa mendampingi gue yang tergeletak lemah disini. Gue sangat bisa merasakan kalo ini adalah Deffa. Disini Deffa bilang sayang ke gue, Deffa bilang kalo dia sangat sayang dengan gue, Deffa minta maaf ama gue. Gue merasa sangat senang saat itu, gue merasa sangat bahagia. Deffa menggenggam tangan gue dengan kencangnya, dan gue pun terbuai dalam kehangatan.
Tak lama gue rasain sesuatu yang sangat beda didiri gue, gue tersadar tak tau dimana. Disuatu tempat yang sangat gelap, ataukah ini adalah akhirat? Gue nggak tau itu. Lalu gue merasa badan gue sangat berat dan sangat sakit sekali. Kepala gue masih sangat terasa pusing. Otak gue berusaha keras mengingat semua yang barusan saja terjadi, dan ternyata gue ingat… Gue kecelakaan, lalu dimana ini?? Gue hanya bisa merasakan hawa yang beda dari biasanya, dimanakah ini tuhan???
“kak Nirzhanda….” Lirih suara adik gue terdengar, ternyata gue masih bisa mendengar ada seseorang disini.
“Dek Rizal!!!” gue mencoba meraba-raba semua yang disekitar gue, ternyata kosong. “Dimana ini?? GELAAAAPPP!!” jerit gue.
“ckckckckckckck….” Mama gue terdengar menangis.
“ada mama? Mama dimana ini ma??? Kenapa gelap ma???” tanya gue masih meraba-raba semua disekitar gue. “apa disini ada papa juga ma? Dimana ini sebenarnya ma???”
“Nir, sabar ya!! Gue juga minta maaf”. suara Viand sangat sayup terdengar.
“Viand… Ini dimana Vi???” gelap banget disini!! Tolong gue keluar dari ruangan ini!!” pinta gue dengan sangat ama Viand.
“nak…!!” disini hanya suara papa yang terlihat tegas. “ini dirumah sakit!”
Gue diem sebentar. “pa… Ma…. Maaffin Zhanda! Maaf pa, ma!!!!” seduh gue menangis. “plis jangan kurung Zhanda diruang gelap seperti ini!!” pinta gue dengan sangat.
“mata kamu bermasalah nak!! Mata kamu sedang dalam pengobatan serius!!” papa lanjut bicara, dan  kali ini suara papa terlihat nggak begitu tegas.
Gue diam, tangan gue meraba-raba wajah gue. Ternyata benar, mata gue diperban. Gue menangis sejadinya gue harus menangisi tubuh gue yang terguling lemah. Ini nggak mungkin terjadi, gue dateng kesini buat nemuin Viand bukan buat nganter nyawa gue!!
“MAMA!!! PAPAAA…….!!!!!! Ini nggak mungkin ma, pa!! enggakkkkkk!!!” tangan gue memukul-mukul kepala gue yang masih sangat terasa pusing sekali.
“tenang nak!! Ini nggak lama, kamu udah berhasil mendapat donor mata dari orang lain. Pas kamu masuk kerumah sakit ini,  saat itu juga ada orang yang nyawanya nggak bisa diselamatkan. Kamu sabar nak!!!” ucap mama gue masih tersedu menangis melihat gue.
“Zhanda nggak mau donor mata, Zhanda maunya mata Zhanda ma, pa!!!!” jerit gue menangisi diri gue sendiri. Ini karena gue nggak bisa ngelihat wajah Deffa lagi dimata gue, mata itu tersimpan banyak kenangan dengan Deffa. Mata itulah pula yang selalu bertatap lama dengan Deffa. Kalo mata gue rusak dan diganti, maka gue mungkin nggak bakal bisa ngelihat Deffa lagi diujung mata gue.
“nak!!! Ini semua demi kebaikan kamu!!” papa gue menenangkan gue.
Gue diem, semua orang disekeliling gue pun ikuet diem. Tapi nggak bisa dipungkiri, gue menangis dengan tersedu. Gue mengingat semuanya, gue kepikir Deffa. Namun tak lama pikir gue berhenti dan benar-benar berhenti disuatu titik, yaitu Deffa, suara Deffa terekam dan memutar dalam ingattan gue.
“Viand!!! Gue tadi gue ngerasa ada Deffa disini!!” ucap gue meraba-raba mencoba meraih tangan Viand. “Deffa dimana??”
Viand diem sebentar. “De.. De Deffa nggak ada kok Nir! Mungkin hanya halusinasi lo aja!” jawab Viand memegang tangan gue, mungkin dia mencoba ngeyakini gue.
Gue diem, dan sangat diem. Gue yakin itu bukan halusinasi gue, gue ngerasa betul kok itu suara Deffa, gue rasa betul kok ada Deffa duduk megang tangan gue. Dengan ketegarran gue, gue menahan sedih ini, gue sangat berharap suatu saat nanti gue bakallan ketemu lagi dengan Deffa, dan gue maunya ini bukan sekedar harapan tapi ini adalah kenyataan. Gue pengennya ada Deffa lagi disini. Nemenin gue yang tebujur sangat lemah disini. Beberapa jam kemudian, hujan turun dengan derasnya. Disaat ini pulalah gue keinget lagi dengan Deffa, Deffa terasa sangat dekat dengan gue saat hujan turun. Namun sedihpun membanjiri perasaan gue, gue nggak bisa ngeliat hujan, gue nggak bisa ngerasain lagi sejuknya hujan hari ini. harumnya semerbak hujan yang membanjiri kenangan gue bersama Deffa. Oohh begitu berartinya Deffa dalam diri gue.
“Deffa…” panggil gue dengan lirih. “lo ada disini kan??” tanya gue yang sangat yakin kalo Deffa emang ada disini. Angin kencang mengiringi perasaan yakin kalo Deffa emang bener ada disini.
“Nir… Deffa nggak ada disini! Gue kan udah bilang Deffa nggak ada!!” ucap Viand menggenggam tangan gue kencang.
“lo pikir mentang-mentang gue nggak belum bisa ngeliat, gue nggak tau kalo ada Deffa disini??” gue bicara dengan nada sedikit kesal. “gue bisa ngerasain ada Deffa disini Vi!!”
Viand diam, mungkin menatap mama dan papa gue. “ya udah Nir, kalo emang lo ngerasa ada Deffa disini!” Viand berucap tenang, biasannya disaat inilah Viand suka tersenyum manis ke gue, tapi sekarang gue nggak bisa ngeliat Vian tersenyum.
***
Hari-hari gue lalui tanpa bisa melihat, gue melalui hari satu minggu ini begitu berat. Terkadang bayang Deffa tetap terus beralun-alun pelan dalam pikirran gue. Indra perasa gue nggak mati akan hadirnya Deffa. Deffa gue rasain masih menemani gue, meski gue nggak bisa ngajak dia ngobrol, ataupun menatapnya. Gue hanya bisa tersenyum, dan berharap Deffa melihat senyum yang gue pamerkan ke dia, sebagai tanda gue teramat rindu dengan Deffa. Hari ini perban mata gue dibuka. Gue sangat berharap operasi gue ini berhasil dan gue masih bisa melihat sosok Deffa diujung mata baru ini. Disini ada mama, papa, dek Rizal, Viand dan gue tau ada Deffa juga.
“bismilah…” ucap gue dalam hati. Perban mata gue pun dibuka oleh suster yang teramat baik udah ngerawat gue dengan rutin selama beberapa hari ini.
“mama… Papa……” panggil gue lirih. Perlahan mata gue, gue coba buka. Gue pengen orang pertama yang gue lihat adalah kedua orang tua gue, adik gue dan Deffa… Sesuatu yang beda gue rasain, mata ini terlihat sangat dekat dengan gue. Perlahan gue membuka mata gue lagi dan…..”mama...Papa……” panggill gue tersenyum dan wajah papa dan mama gue terlihat bura. Gue ngelihat kearah kiri gue, ada Viand yang tersenyum dan juga dengan Adik gue yang digendong oleh Viand juga tersenyum manis sekali. Lalu dimana Deffa???
 “Viand!! Dimana Deffa???” gue menggenggam tangan Viand penuh harap.
“Def-Deffa, dia tadi bilang kalo dia nggak bisa dateng, katanya dia lagi istirahat!!” Viand tersenyum dan meyakinkan gue.
Gue pun tersenyum dan menatap Viand lebih dalam lagi. “janji ya ajak gue ke rumah Deffa!!”  ucap gue penuh harap.
***
Gue didorong dengan pelannya oleh Viand, mama dan papa gue. Anehnya gue nggak tau ini kemana, tak lama gue sampai di suatu tempat yaitu rumah masa depan. Gue diam dan menatap Viand penuh tanya. Viand sepertinya sudah mengerti arti dari tatapan mata gue ini.
“ini Deffa Nir!!” suara Viand mengalun lirih. “Deffa kena kanker otak, itu sebabnya dia ngilang dari hidup lo dan termasuk juga Deffa ngilang dari diri gue Nir!!”
Gue lemas, mata gue menerawang semua kejadian sebelum gue akhirnya kecelakaan. Semuanya terekam jelas saat-saat terakhir gue ngeliat bayang lelaki yang menari-nari ditengah hujan itu, ternyata itu suatu pertanda, Deffa ada didekat gue. Gue hanya bisa diam dan menatapi tanah yang sudah rapat. Rasanya ini seperti mimpi…
“DEEEFFFFFFAAAAAAAAA!!!” jerit gue kencang sekali. “lo jahat banget Def!! jahat banget!!!!! Lo ninggalin gue, gue nggak bisa Deff!!!!!!!” jerit gue makin kencang, dan saat itu gue tertegun menatap langit yang mengeluarkan setetes demi tetes air. Disini gue semakin merasa Deffa berada dekat banget dengan gue.
“sudahlah Nir!! Lo masih punya Deffa dihati lo!! Jauh lo lebih dekat dengan Deffa, karna mata lo ini adalah mata, mataaa De Deffa…..”ucap Viand merangkul gue. “sebaiknya lo baca ini!!” Viand mengacungkan sebuah surat.
Teruntuk Nirzhanda gue….
Sori…. Sori yang sebesar-besarnya… gue nggak pernah bilang ini ke elo, gue kepaksa Nir. Mungkin kalo gue bilang lo bakallan sedih denger gue sakit, mungkin gue terlau pede ngomong kek gitu, heheheh!! Sebenernya gue tu Cuma pengen keliatan kuat aja depan lo! kalo gue bilang gue sakit, gue pasti bakallan kelihatan lemah depan lo kan? Hhhhheheheh
Nir,, mungkin lo selalu bertanya-tanya sampai kapan kisah kita ini! kisah tak berujung, sama kek lagunya bcl yang sunny itu. Tapi ingetlah kalo kisah kita ini nggak bakallan bisa terhapus same kapanpun..
Nir… Gue selau ngeliat lo kok, ditaman itu. Cuma lo nya aja yang nggak penah ngeliat gue. Ya kan?? Gue sering ngeliat lo, bahkan puisi lo waktu itu buat gue kan?? Hahahaa,, ketawan ya lo kangen banget ama gue kan? Hahahahh.. owya, gue juga lihat lo kok pas lo gendong adik lo ditengah hujan. Hheeee jadi inget waktu kita dulu ya!!
Ehh uda yahh!! Gue capek nulis ni… surat ini teruntuk elo ya!!! Simpen,, surat ini bai-baik dan jaga mata lo ya!! Gue selalu inget elo kok! Jangan lupain aja gue.
Nirzhanda,, llihat gue disetiap hujan ya!! Disitu bakallan ada gue. Gue bakallan tersenyum ngelihat elo disemerbak hujan sejuk …..
Deffa Ian Pratama
Gue terduduk dalam diam yang begitu menyakitkan, mata ini tertuju pada satu titik yang begitu tajam dan begitu berarti. Tatapan yang begitu berarti, bukanlah tatapan kosong tapi menatap sosok yang begitu dekat dengan gue saat ini. Tetes demi tetes air mata basahi pipi gue, gue nggak pernah bisa nganggep ini nyata, ini seperti mimpi tapi mimpi yang menyakitkan. Orang yang gue sayang-sayang dan dia mungkin nggak pernah bisa tau gimana artinya dia dalam diri gue, dia terlanjur pergi dan pergi untuk selamanya. Gue teramat sayang dengan dia, gue nggak pernah nyatain sedikit rasa sayang gue, itu yang nyesek dalam diri gue. Deffa terlanjur pergi dan benar-benar pergi dalam diri gue. Deffa Ian Pratama, terkubur dalam tanah yang sangat jauh dari gue, dia hidup dalam alam yang sangat berbeda dengan gue. Mungkin hanya mata inilah yang bisa tersisa dan hidup dalam diri gue. Entah sampai kapan mata ini bisa terus memandang jauh kebelakang dan menatap indahnya masa depan gue.
Andai aja gue bisa mulai lagi hidup yang dulu, gue janji gue bakallan ngukir ulang semua yang pernah gue alami dan nggak bakallan gue lepassin Deffa. Gue bakal ngerawat dia, gue bakal ngejaga dia diamana pun itu dan sesulit apapun gue harus ngejaga Deffa. Semua yang dulu pernah gue alami nggak bakal mudah gue lupain, hidup Deffa adalah hidup gue, hidup Deffa sudah terlanjur banyak ikut campur dalam hidup gue dan tertanam jelas sangat sulit gue ngelupainnya. Hujan ini adalah hujan gue dan Deffa. Hujan ini adalah perpisahan antara gue dan Deffa. Ini tanda perpisahan, perpisahan yang dulunya adalah benar perpisahan yang sementara namun kini, hujan ini adalah tanda perpisahan untuk selamanya. Sungguh gue sangat meresapi kesedihan yang begitu mendalam dalam hati gue. gue harep Deffa akan selalu ada dalam hari gue, nggak Cuma pas dia hidup aja tapi pas Deffa udah nggak ada gue mengharapkan dia selalu ada buat gue. Walaupun gue nggak pernah benar-benar merasa gue melihat Deffa, tapi gue yakin bayangan Deffa hidup dalam hati gue.
Ini akhir cerita gue.. Berujung dengan kesedihan disetiap semerbak hujan yang basahi dunia gue. Gue hidup dengan sendiri.. Bersama bayang Deffa yang terekam jelas dimata gue. dengan semerbak hujan terindah yang nggak bakallan gue lupain sampai kapanpun.. Semerbak hujan itu hadir dalam hari gue, selamanyaaaa…………….
Back to Top