Jika suatu saat aku berhenti bertahan, bukan, itu bukan karna aku memang lelah bertahan, aku hanya memberi ruang untuk hatiku agar merasakan bahagianya menjadi seorang perempuan yang dimiliki oleh seorang lelaki. Merasakan gembiranya dimiliki oleh lelaki yang mencintaiku apa adanya, tidak peduli aku ini siapa, seperti apa aku ini, tapi lebih memandang sebuah ketulusan dariku. Karna yang aku tau cinta selalu berpihak pada ketulusan, bukan pada yang lain. Aku bilang aku tidak menyerah atas perasaan yang aku miliki, aku hanya tidak meneruskannya, membuang waktuku untuk terus memiliki perasaan-perasaan yang mungkin salah bagimu. Untuk terus mengharapkanmu memiliki rasa yang sama. Aku hanya berhenti, tapi aku tidak menyerah. Disaat aku berhenti bertahan pula, Aku memberimu ruang juga, membiarkanmu belajar banyak hal diluar sana, belajar mencintai perempuan yang mencintaimu, belajar tentang banyak karakter hati seorang perempuan, belajar banyak tentang bagaimana menjadikan seorang perempuan yang biasa itu menjadi sempurna karna cintamu. Bagaimana menjadi seorang lelaki yang setiap hadirnya menghiasi kegembiraan. Bagaimana menjadi seorang lelaki yang melindungi dan menjaga perempuanmu. Dan yang paling penting adalah bagaimana menjadi seorang lelaki yang pantas untuk dijadikan sebagai imam bagi perempuanmu yang mencintaimu, kelak.
Ketika ada kalanya aku merindukanmu, dan saat itu pula aku hanya bisa diam dan memendamnya dalam senyap. Karna sekalipun aku mengatakannya padamu, aku pastikan kau takkan pernah mempedulikan perasaan rindu ini. Kuputuskan memendamnya dan kupastikan aku akan tersenyum bahagia ketika mendengar kabar-kabar bahagiamu, kesuksessanmu kelak, menjadi seorang geologis. Setidaknya hal ini akan membuat rinduku berkurang ketika aku tau kau baik-baik saja disana. Perasaan rindu takkan pernah disampaikan secara langsung kepada orangnya, perasaan rindu hanya akan disampaikan lewat doa. Hal inilah yang akan aku lakukan ketika aku merindukanmu. Dalam setiap doa, aku bisa terus memelukmu.
Ketika aku memutuskan untuk menghilang darimu, aku hanya tak ingin tau banyak hal lagi tentangmu, aku mencoba menata hati kembali seperti semula, bersikap biasa tapi tidak akan pernah melupakanmu, takkan pernah bisa. Itu adalah caraku, dewasa atau tidak menurutmu itu terserahlah. Aku hanya menjalankan dengan caraku seperti ini. Yaah! Memang aku belum dewasa, masih sangat kecil untuk mengenal cinta. Mungkin memang kamu merasa kamulah yang dewasa. Dan kamu fikir, dengan berpura-pura memiliki perasaan padaku hingga menjadikanku milikmu dengan itu bisa membuatku bahagia jika pada akhirnya kamu pun tak pernah berniat mempertahankanku? Tidak, sama sekali tidak membuat aku bahagia. Tidak membedakan yang mana pacar dan bukan pacar, tidak mengerti perasaan pacarmu sendiri, selalu ingin menang. Yah! Tepatnya mengabaikan perasaan orang yang sungguh, mungkin itulah cerminan dirimu. Dewasa? Tidak, kau malah menjadikanku sebagai pilihan antara sendiri atau mengisi hati dengan yang lain jika sudah merasa tidak pas lalu kau abaikan? Seperti itukah lelaki? . Maaf aku berkata seperti ini. Maaf. Aku baru mengetahui, bahwa sesuatu yang tidak adil adalah ketika aku mencintainya dengan sangat, tapi dia hanya memainkan sandiwara. Dan aku sadar, untuk mencapai bahagiaku, aku harus melepaskan dan merelakan kamu yang tidak pernah mempertahankanku dan tidak mengandalkanmu, mengharapkanmu yang hanya menjadikanku sebagai pilihan. Terima kasih.
Seperti katamu dulu “waktu yang akan menjawab semuanya”. Biarlah waktu yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan hati yang tak pernah terjawab dengan jelas. Kelak, kuyakinkan diri jika suatu saat kita bertemu pada suasana yang berbeda kupastikan dan kuyakinkan pada dirimu bahwa aku sudah bisa mengurangi perasaanku ini. Karna itulah yang selalu kamu mau, karna kamu tak pernah inginkan perasaan yang aku miliki ini. Right?! Tuhan yang akan meneruskan cerita ini, aku akan menghentikannya secara perlahan dan membiarkan garis takdir Tuhan yang menuntunku, entah kemana itu. Yang pasti Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Jika ternyata cinta ini salah, aku bersyukur Tuhan menegurku dengan melukis rasa sakit lagi dalam hatiku. Karna itu mungkin aku bisa memperbaiki diri dan menjaga hati hingga cinta ini terasa benar, kelak. Walaupun aku masih berharap cinta ini tetap kamu. Aku mencintaimu...
Mencintai, menyayangi bahkan merindui yang kamu pun tak pernah yakin dengan caraku seperti ini. Tanpa senyum, tanpa sapa. Namun, aku ikhlas membiarkanmu tetap tinggal disudut hatiku dengan membiarkanku tetap berada disuatu tempat yang jauh untuk mencintaimu. Ti Amo.
Diposting oleh






0 komentar:
Posting Komentar