Pernah kulihat damainya jemari bunda menari-nari di ujung secangkir kopi ayah.
Pahitnya lari terbirit dan berganti manis sampai ubunku.
Hangatnya menyapu basah embun yang melenggang santai lalu hilang.
Tiap fajar dan petang.
Yah, damai itu kusaksikan indah di ujung inderaku.
Kurekam jelas fasihnya bunda memperlakukan ayah seraja itu.
Untuk apa? untuk kamu tuanku.
Nanti.
Sosok bunda mengalir dalam aku, dan kamu jadi tuanku.
Siap kurajaimu seperti ayah dirajai bunda.
Tenang sayang, kopiku tak kalah manisnya dibanding punya bunda.
Kuseduh kopi bersama cinta yang larut bersama air, tersaji rapi sekali.
Cintanya tak benar larut sayang, ia tenggeram bersama tegukkan kopi yang merajalela sampai tubuhmu.
Sampai kau minta itu berulang kuberi.
Sabar, sayang. Itu nanti.
Tapi, aku ingin ada wangian cinta saat kuseduh kopi bersamanya.
Wangian berwarna merah dan cantik sekali walau berduri.
Sungguh kau pasti tahu, tuanku.
Supaya kenyang pula daku oleh cintamu.
Fajar dan petang.
Kusiapkan kau secangkirnya, kau siapkan sebongkah mawarnya.
Deal?
0
Kelak Lumpuh Berlalu
Kelak berlalu.
Yang menjadi masa lalu tinggal lalu.
Lantas, apa yang ditunggu?
Daku hanya perlu melaju jangan ragu.
Oh, sungguh.
Jika melajuku bisa melaju.
Sudah dari dulu daku rela beradu padu menyisir rapuh.
Melenggang hilang bak gerimis petang menjauh.
Nyatanya, kelakku susah berlalu.
Sudah kenyang ia lantaran cintanya terlalu.
Tersebab lukisan luka begitu utuh mendayu maju.
Menerkam siapa-siapa yang siap begitu.
Dakupun mati rindu, sungguh.
Entah siapa yang begitu terlalu.
Apa luka, kamu, atau daku.
Kemudian, aku menunggu untuk bisa melaju.
Menunggu bisa mensejajarkan langkah denganmu tuanku.
Meski begitu, aku tetap berhenti di kamu. Dengan kamu yang terus melaju tanpa aku.
Begitulah rupanya tuanku.
Kelakku memang susah dilalu.
Oh, smoga kau tak begitu.
Tak perlulah seperti aku yang lumpuh untuk melaju.
Tuanku.
Dia Mulai Lagi
Dia mulai lagi.
Setiap pagi, menanti aksara padat menyusut manis berkali-kali.
Membiarkan fikirnya mengembang pada gores cerita yany ia buat sendiri. Melukis berlembar-lembar yang akan ia baca lagi dan lagi.
Dia mulai lagi.
Berdegup sendiri dan mengurung diam dalam-dalam. Menghapus luka yang terus berlari sendiri. Mendekap kuat sepi hingga dapat tertawa dengan rapi.
Dia mulai lagi.
Membuka hati pada hati yang bertepi. Mencari jalan agar lukanya renyah dimakan musim kali ini. Melarikan rapuh menjemput senyum yang pernah mati.
Dia mulai lagi.
Dia mulai berani, jatuh cinta lagi.
Ini Perihal Rinduku
Ini perihal rinduku yang tak berkesudahan.
Menyusup rapi dalam tegarku yang tinggal setengah.
Rapuh dan melunturkan kuat menahannya.
Beginikah rasanya, tuan?
Bisakah kau jelaskan siapa pemilik rindu ini?
Tiap-tiap yang datang dan pergi melenggang samar hingga hilang bak kabut pagi ini.
Meninggalkan gigil kerinduan pada hati yang siap mengembang.
Tuan, lelah rasanya.
Membiarkan rindu ini berkembang pesat sendirian.
Semakin ditahan, makin melahirkan rindu-rindu kecil akan dirimu.
Suaramu, tawamu, lelucon konyolmu yang kerap kali kau tancapkan pada obrolan-obrolan lalu.
Bahkan aku rindu caramu melukis sakit sedalam itu.
Kau pergi dan hanya meninggalkan bekas kerinduan yang tak terjamah oleh yang lain.
Bisakah datang menghapusnya?
Membuat rindu kian samar hingga jadi damai.
Ah, jikalau kau datang malah membuat gentar hatiku menahanmu menetap.
Hingga kadar rinduku pun makin menjadi saat kau pilih akan pergi lagi.
Sudahlah, biar rindunya menggebu dalam sendiriku.
Biar ia mati nanti.
Sekali lagi, ini perihal rinduku yang tak berkesudahan.
Menyusup rapi dalam tegarku yang tinggal setengah.
Rapuh dan melunturkan kuat menahannya.
Beginikah rasanya, tuan?
Bisakah kau jelaskan siapa pemilik rindu ini?
Tiap-tiap yang datang dan pergi melenggang samar hingga hilang bak kabut pagi ini.
Meninggalkan gigil kerinduan pada hati yang siap mengembang.
Tuan, lelah rasanya.
Membiarkan rindu ini berkembang pesat sendirian.
Semakin ditahan, makin melahirkan rindu-rindu kecil akan dirimu.
Suaramu, tawamu, lelucon konyolmu yang kerap kali kau tancapkan pada obrolan-obrolan lalu.
Bahkan aku rindu caramu melukis sakit sedalam itu.
Kau pergi dan hanya meninggalkan bekas kerinduan yang tak terjamah oleh yang lain.
Bisakah datang menghapusnya?
Membuat rindu kian samar hingga jadi damai.
Ah, jikalau kau datang malah membuat gentar hatiku menahanmu menetap.
Hingga kadar rinduku pun makin menjadi saat kau pilih akan pergi lagi.
Sudahlah, biar rindunya menggebu dalam sendiriku.
Biar ia mati nanti.
Sekali lagi, ini perihal rinduku yang tak berkesudahan.
Dia Pernah Begitu
Dia pernah begitu lumpuh.
Melangkah maju meski beradu padu dengan rindu.
Dia pernah begitu gusar,
menjahit satu persatu sayap-sayap yang kian runtuh begitu pilu.
Sendirian.
Dia pernah begitu terjatuh, hingga bening dimatanya tak lagi anggun terkurung di dalamnya.
Jatuhlah ia sampai tumpah ruah.
Dia pernah merasa begitu utuh, saat kau melenggang menjauh darinya.
Sekarang runtuh.
Dia pernah bertahan sendirian, meniti jalan menanti si tuan penghapus lara.
Lama sekali.
Dia pernah merasa begitu takut,
saat pintu hati terbuka mudah.
Lukisan luka lama memudar tapi diganti dengan luka baru.
Dia pernah merasa begitu sempurna,
saat sayap-sayap patah lalu kemudian dijahit manis olehmu.
Tuan si pemilik nyaman.
Dia pernah merasa begitu cemburu,
padamu tuan yang masih mencinta masa lalu.
Begitu terlalu.
Dia pernah mencoba menjauh, saat kau terlihat mundur perlahan,
ternyata sadar dia adalah dermaga persinggahan.
Tuan,
dia pernah sebegitu terluka,
untuk tidak melalui banyak hati,
untuk tidak terluka (lagi).
Melangkah maju meski beradu padu dengan rindu.
Dia pernah begitu gusar,
menjahit satu persatu sayap-sayap yang kian runtuh begitu pilu.
Sendirian.
Dia pernah begitu terjatuh, hingga bening dimatanya tak lagi anggun terkurung di dalamnya.
Jatuhlah ia sampai tumpah ruah.
Dia pernah merasa begitu utuh, saat kau melenggang menjauh darinya.
Sekarang runtuh.
Dia pernah bertahan sendirian, meniti jalan menanti si tuan penghapus lara.
Lama sekali.
Dia pernah merasa begitu takut,
saat pintu hati terbuka mudah.
Lukisan luka lama memudar tapi diganti dengan luka baru.
Dia pernah merasa begitu sempurna,
saat sayap-sayap patah lalu kemudian dijahit manis olehmu.
Tuan si pemilik nyaman.
Dia pernah merasa begitu cemburu,
padamu tuan yang masih mencinta masa lalu.
Begitu terlalu.
Dia pernah mencoba menjauh, saat kau terlihat mundur perlahan,
ternyata sadar dia adalah dermaga persinggahan.
Tuan,
dia pernah sebegitu terluka,
untuk tidak melalui banyak hati,
untuk tidak terluka (lagi).
Langganan:
Komentar (Atom)
Diposting oleh





