Dosa ini memang Indah
“BRAAAAKKK!!!” lenganku tertabrak sesuatu. Untungnya aku tak terjatuh.
“maaf Dok!” ucab seseorang dari belakangku.
Seketika aku menoleh ingin mengetahui seperti apa tampang sosok itu. Sosok bersuara lelaki. Lelaki itu berpakaian cukup mencerminkan sebagai orang yang terpandang. Aku mengkerutkan keningku, sepertinya ada sesuatu yang membuat aku merasa teramat dekat dengan sosok lelaki itu. aku seperti pernah bertemu dan bahkan aku pernah dekat dengan lelaki itu.
Lelaki itupun menatapku dengan kening berkerut pula. Sepertinya apa yang aku rasain sama dengan apa yang dia rasain. Telunjuk lelaki itu menunjuk kearahku, matanya pun sesekali menyipit.
“yaa! Aku tau siapa dia! Tingkah yang aku kenal, dan memang benar aku mengenal lelaki ini” cepat-cepat aku melangkah menjauh dari lelaki itu.
“tunggu!!” lelaki itu mengejarku. Dengan spontan lelaki itu menarik tanganku dan membuat aku berbalik badan kearahnya. Lelaki itu memelukku. “aku rindu kamu!”
Aku tertegun diam. Namun mataku tak lepas memandangi sekelilingku. “Ini rumah sakit, ini tempat umum! Memalukan” gerutuku dalam hati.
Dengan kasar aku melepas pelukan lelaki ini, spontan aku pun menampar lelaki itu. Plaakkk…
“kamu nggak ngenalin aku sama sekali?” tanyanya memelas sambil memegang pipinya.
“maaf! Saya sibuk!” dengan langkah cepat aku meninggalkan lelaki itu yang masih tertegun diam menatap kearahku.
“SYIFA!!!” panggilnya.
Langkahku terhenti.Tepat!! aku mengenal lelaki itu. sosok lelaki yang dulu pernah mengisi hariku. Sandi benarkah ia? Pikirku tak berhenti disitu seketika, dengan segenap rasa yang masih terpupuk aku, aku melanjutkan langkahku lagi. Aku masih ingat kalo aku akan melupakan semua tentang Sandi dan aku nggak akan pernah mau Sandi ada lagi menyiksa aku ditempat dan kondisi yang berbeda.
“Sandi!!” teriak seseorang dari belakang Sandi. “Riska kritis!!”
Kali ini langkahku benar-benar terenti, nggak Cuma itu aku berbalik badan mengarah ke Sandi. Dengan cepat aku melangkah kearah Sandi.
“Dimana Riska?” dengan segenap rasa khawatir aku bertanya ke Sandi.
“ICU Fa!” Sandi meniti kata pelan.
Tubuhku gemetar. Aku nggak tau musti mulai dari mana, karna aku sama sekali belum tau Riska sakit apa. Namun berjuta rasa khawatir ini aku akan mencoba membantu Riska. Karna aku sayang Riska, karna aku pernah dosa terhadap dia. “kanker??”aku mengulangnya dalam hati saat dokter khusus Riska datang. Tubuhku lemas seketika. Aku nggak pernah menyadari Riska punya penyakit yang sangat mematikan ini.
“Dokter Aria. Saya mohon lakukan yang semestinya harus dilakukan!! Riska musti sembuh Dok!” pintaku panic.
“saya usaha semaksimal mungkin dok!”
“Syifa?” Sandi menatapku dalam.
Aku sama sekali tidak memperdulikan tatapan Sandi itu. Fikirku melayang-layang. Aku menatap seisi ruangan ini, ruangan yang penuh dengan tetes air mata. Dan aku nggak ingin menjadi salah satu dari orang-orang yang menyumbangkan air matanya disini. Karna aku ingin menjadi orang yang tegar dan karna Riska nggak harus pergi. Mataku berlinang. Aku sama sekali nggak tau apa yang semestinya harus aku lakukan terhadap Riska. “Tuhan… Apa yang semestinya aku lakukan saat ini? jujur aku masih mencintai Sandi dan aku nggak munafik aku ingin memilikinya. Tapi aku sayang Riska. Aku nggak mau engkau ambil dia sekarang. Tapi aku juga ingin memiliki Sandi. Tuhaann… Aku dosa. Aku dosa kalo aku berdoa untuk bisa memiliki Sandi namun Riska tersiksa. Dosakah aku jika aku menginginkan Sandi lagi?” air mataku tak sanggup aku bendung lagi. Aku menangis seketika tepat dihadapan Sandi.
“Tuhan… Beri yang terbaik untuk kami semua disini !!” doaku dalam hati.
“Fa… Lo nggak papa?” tanya Sandi.
Aku sontak diam lagi, aku teramat rindu dengan suaramu itu. aku teramat rindu dengan sapaan mu itu. aku teramat rindu dengan semua yang ada pada dirimu itu San! Namun saat ini bukanlah saat yang tepat melampiaskan kerinduanku terhadapmu. Aku tertunduk diam.
Dalam penantian, dalam diam dan dalam ketegangan aku dan Sandi menunggu pemeriksaan dokter Aria. Aku menunggu dan lagi-lagi aku harus menunggu. Untuk kesekian kalinya aku harus menunggu sesuatu yang tak tau pastinya. Semerbak rasa kekhawatiranku semakin meningkat. Singkat, namun fikirku melayang-layang lagi. Aku terfikirkan Riska. “bagaimana jika Riska nggak selamat?” aku tersenyum sinis. “pasti Sandi teramat tersiksa” aku tertunduk lesu. “namun bagaimana jika Riska selamat?” ucabku lirih dalam hati. “kini aku yang tersiksa” lanjutku dalam hati. “siapa yang memikirkan perasaanku jika Riska selamat?” tanyaku lagi, seolah akan terjawab sendiri. “nggak ada!” jawabku lesu.
“TUHAN.. Sekali lagi, dosakah aku? berharap Riska pergi agar aku bisa merasakan bersama Sandi? Salahkah jika aku berharap ini dan ini lagi? Hari demi hari hingga saat ini telah aku coba. namun sungguh aku tak pernah bisa melupakannya. Sekalipun sudah aku kubur semua cerita tertulisku dengan Sandi. Walau telah aku tutup rapat-rapat album kenangan bersamanya. Dan meskipun jarak telah memisah aku. Tapi rasaku masih bertahan. Bodohnya aku, Tuhan. Sekali lagi, salahkah jika aku ingin Sandi membagi cintanya untukku. Walau itu hanya segenggam dari jutaan genggam cinta miliknya?” jutaan tanya merasuk dalam fikirku. Lalu hanya diam, nggak ada jawabban. “Tuhan bukankah engkau maha mendengar? Lalu kenapa tak kau jawab semua ini?” ulangku lagi meneteskan air mata.
“Syifa?” tangan Sandi mendarat dipundakku.
Tanganku menghapus butiran-butiran sisa air mataku ini. Menatap Sandi penuh harap
“Bukankah kamu adalah wanita tegar?” tanya Sandi seolah menyindir. “setelah kamu menjadi seorang dokter, seharusnya kamu lebih menjadi wanita tegar. Untuk menenangkan semua keluarga dari pasien-pasien disini!!”
Aku diam sebentar! “dokter itu hanya profesi. Dan saya adalah manusia, tak pernah luput dari air matanya. Dari kesedihannya dan dari kehampaannya. Bagaimana dengan anda? Apakah anda telah menjadi orang yang menghargai waktu anda, untuk orang yang menyayangi anda dan untuk orang yang anda sayangi?”
“heeh… Anda?” tersenyum sinis. “ternyata sekian lamanya kamu disini, kamu telah banyak berubah. Bahkan kamupun tidak mengenaliku tadi!” Sandi tidak menjawab tanyaku itu.
“bagaimana bisa aku tidak mengenalimu Sandi? Bahkan aku sangat mengenalmu!! Sangat dari yang kamu ketahui. Semua karna Riska, aku Cuma nggak mau perasaan ini lama-kelamaan akan tumbuh menjadi-jadi” ucabku dalam hati.
“syukur kamu mengetahuinya!”
“heeh… Kehidupan Jakarta telah banyak mengubahmu!”
“saya sibuk!” dengan langkah terburu-buru aku beranjak meninggalkan Sandi.
“temanilah aku disini!” Sandi mengekor dibelakangku. “sekalipun Jakarta telah mengubahmu, tapi aku yakin sifatmu yang dulu tak dalam terkubur debu. Aku tau kamu sangat mengkhawatirkan Riska!”
Langkahku mendadak terhenti. “sudah saya bilang saya sibuk!” wajahku sedikit aku lirikkan kebelakang.
“cckckck…..” suara pintu UGD terbuka. Sandi membalikkan badannya menuju ke depan pintu.
“Dokter, bagaimana Riska?” Suara Sandi terdengar tidak teratur.
“maaf!! Riska hanya menitipkan dua lembar kertas ini, untuk kamu dan untuk dokter Syifa!”
Tergopoh-gopoh aku mendekat ke pintu UGD. Wajahku pucat pasi, jantungku deg-deggan, aku tegang dan aku tak kuasa menahan tangisku. Suarag dokter Aria sudah terdengar langsung sampai ketelingaku. Jadi wajar jika aku pun tergopoh ingin mendengar kepastiannya sekali lagi.
“innalilahi wainna ilaihi rooji’uun” ucabku lirih setelah sekali lagi mendengar kepastian dari dokter Aria kalau Riska sudah tiada lagi. Riska pergi ketempat dimana dia akan merasa nyaman disana.
“RISKAAAAA!!” Jeritan Sandi mengagetkan aku. Sandi tak kuasa menahan tangisnya itu.
Akupun begitu, namun aku tak seperti Sandi. Menangisi Riska sehisteris ini. aku bilang ini wajar, Sandi teramat mencintai Riska. Aku menyadari sesuatu, ternyata sekalipun Riska telah tiada, Sandi tetap akan menjadi Sandi yang mencintai Riska. Sekalipun Riska telah tiada. Riska pergi bukan berarti Sandi akan tiba-tiba mencintai aku. “tuhan… Bodohnya aku ini!! bodohnya pikiranku tadi!!teramat tingginya nafsuku memiliki Sandi yang kenyataannya telah termiliki Riska. Maafkan aku Riska, maafkan aku Sandi!!” ucabku lirih terpaku didepan kakunya tubuh Riska.
“hiks… Jangan tinggalin aku sendiri Ka! Aku butuh kamu!!” Sandi terisak menatap tubuh Riska yang kaku itu.
Aku menatap Sandi lirih, dokter Ariapun juga bergitu. Aku bingung apa yang semestinya aku lakukan, karna sesungguhnya aku tak patut untuk menenangkah Sandi. Aku takut Sandi punya pikiran kalo aku senang dengan kepergian Riska ini. Akhirnya aku hanya bisa terdiam menatap kaku Riska.
“kertas putih?” aku mengulangnya lagi dalam hati setelah tanyaku tak dijawab dokter Aria. Perlahan kubuka dengan berjuta tanya dalam hati. “apa ini?”
Dear… Syifa Anindhya…..
Haii,, apa kabar kamu?
Aku teramat rindu kamu Syifa, kamu kemana aja? Nomor handphonemu nggak aktif. Apa karna kamu udah diJakarta terus lupa ama aku ya?
Ehh,, kabar aku baik disini. Ohh iya, Sandi juga baik ni!! Kita rindu banget ama kamu Syifa. Kapan nih kamu main kesini? oohhh iya. Aku mau kasih kamu kabar bahagia ni!! Hubungan aku dan Sandi semakin lama semakin membaik. Aku bahagia banget Fa. Kamu gimana ? disana dapet calon juga nggak?kalopun dapet nggak usah deh! Ama orang Bandung aja. Kayak Sandi, gitu kan? Hehehe…
Syifa… aku mau ngasih kabar baik lagi ni, bentar lagi aku dan Sandi akan menikah. Kita sengaja ngundur-ngundur waktunya. Kita mau mastiin dulu kamu dimana. Nah kalo udah ketemu baru deh kita nikah. Karna aku maunya ada kamu diacara pernikahanku nanti. Dan syukur banget, aku nggak nyangka bisa ketemu ama kamu disini. Yaa walaupun Cuma lewat surat. Coba aja Allah itu ngasih aku kesempatan untuk bisa bertatap muka ya ama kamu. Aku pasti meluk kamu..
Ehh iya Syifa, aku capek banget nulis ini. aku pengennya ketemu langsung ama kamu. Tapi sayangnya ya itu tadi. Allah nggak ngasih aku kesempatan panjang. Heii jaga dirimu baik-baik ya! sekali lagi aku rindu banget ama kamu Fa sumpah deh!!
Syifa… aku mau minta tolong nih, kamu jagain Sandi dong! Dia sekarang udah tinggal di Jakarta. Enggak tau deh kenapa, tau-tau dia pengen kerja diJakarta. Hmm.. aku curiga ni, jangan-jangan dia mau ketemu ama kamu ni. Kalian janjian ya? cie-cieeeee :D
Ya udah de Fa!! Jagain Sandi ya! aku mau tidur dulu nih ! capek banget, sampe-sampe ngos-ngossan aku nulis ini. Janji ya kamu jagain Sandi! Aku kan udah jauh! Nggak bisa mantau dia lagi nih. Cuma kamu yang bisa. Yahyahyah!! Kitakan sohib. Jadi harus nepatin janji dong! Sekali lagi aku nitip Sandi yaa!!!
Aku cinta Sandi, namun aku lebih mencintai perasaan seorang wanita. Sama seperti aku. aku mengerti perasaanmu Syifa. Ambillah Sandi dariku. Karna aku pun tak pernah mampu membahagiakannya lagi. Maaf ya! udah membuat kamu menunggu lama. Jangan pernah kecewain aku, terutama Sandi ya!!
Salam sayang
Ariska
Tertegunku membaca baris pertama dari isi kertas putih ini. bukan hanya kata-kata Riska dalam surat ini, namun memang ketulusan Riska itu membuat aku hampir mengeluarkan deras air mataku. Kertas putih selanjutnya, aku membukanya dengan perlahan. Tertulis indah sebuah nama, bukan untuk aku! aku diam, lalu kututup lagi kertas itu.
“bacalah! Nanti bisa kamu beritahu Sandi jika keadaannya tepat!” Dokter Aria tersenyum.
Dear… Sandiku
dalam malam yang selalu aku anggap kedamaian..
dalam hari yang selalu aku nilai itu penuh keceriaan
dalam sepi yang selalu aku bilang itu warna-warni kehidupan
dalam sedih yang selalu aku katakan itu keindahan
dan dalam rasa yang aku sebut itu cinta...
aku disitu...
terombang-ambing menopang diri dalam kehampaan..
tetes demi tetes butiran air keluar dengan sendirinya
sesekali tangan ini melukiskan tinta hitam dalam kertas yang suci...
sebuah penyiksaan,,
yaahh !! DILEMA....
sebuah rasa yang entah harus aku bilang apa
sebuah perasaan yang tak tau semestinya aku sebut apa
sebuah kerinduan yang tak tau pantaskah aku sembahkan ke kamu
sebuah nama tanpa cinta,
tanpa arti apa-apa dalam dirimu..
cintaku.. yaaaa tiada artinya dalam hatimu....
sebuah kata yang tak tau haruskah aku sebut ke kamu dalam sisa hari kita bersama
ini menyiksa.. yaaahhh
penyiksaan...
entah perasaan apa ini?
begitu indah namun menyakitkan
begitu nyaman namun menyesatkan
begitu segalanya namun segalanya yang salahh..
jiwa yang telah termiliki,
yaa,, itu kamu.. kau telah termiliki
tapi aku senang dekat denganmu?
dan bolehkah aku berharap sesuatu padamu,
aku ingin kau selalu ada untukku,
itusaja.
dan bolekah kau bagi aku sedikit cintamu untuku?
karna perasaan ini sungguh menyiksaku
bahwa aku MENCINTAIMU... Sandi
aku terhenti sejenak, kututup kembali kertas putih ini.. “itu memang tulisan aku, dan memang benar itu untuk Sandi Ka! MAAF” kubuka lagi kertas itu, kulanjutkan membaca dengan sisa air mata yang menempel dipipiku.
Sayang…. Itu adalah kata-kata dari Syifa untuk kamu. Aku menemukannya dalam keadaan kertas yang sudah diremas. Aku yakin itu ulah dari Syifa.. sebelum kita UN aku sudah mengetahui perasaan Syifa ke kamu. Tapi maaf, aku nggak bisa bilang ke kamu. Karna aku mencintaimu dan aku nggak mau membuat kamu membagi perasaan cintamu ke aku dan ke Syifa.
Sayang.. maaf.. ternyata aku hanya bisa nemanin kamu sampai disini saja, maaf aku nggak bisa ngebahagiain kamu. Hanya sebatas ini saja aku bisa bersama kamu. Aku sudah lelah mencoba kuat depan kamu Sayang. Aku lelah menutupi perasaan khawatir ini ke Syifa. Aku wanita, aku tau bagaimana perasaan Syifa… Aku cinta kamu, tapi aku lebih cinta perasaan wanita..
Sayang… perlu kamu tau, dari semua ini kita bisa ngambil kesimpulan baik . Ternyata Tuhan itu adil kan. Tuhan ngasih kesempatan untuk aku ngerasain cinta dari kamu karna hidup aku nggak lama lagi. Walaupun Syifa terseiksa, kelak Syifa juga akan merasakan cintamu. Nih,, saat ini pun Syifa akan merasakan cinta dari kamu. Waaahh, aku kagum dengan kekuasaan Tuhan. Tuhan memang adil. Memberi aku kesempatan bisa merasakan cinta.
Sayang.. makasih banget ya udah jadi kekasih yang baik untuk aku. dalam hatimu yang terdalam… aku bisa baca perasaan kamu ke Syifa kek apa. Aku minta kamu jangan sia-siain Syifa dalam hidup kamu ya! Syifa sayang kamu, dan kamu juga sayang Syifa. Lalu apa lagi yang mau kamu tunggu? Nggak usah mikirin aku! aku udah bahagia kok! Okey!!!
Sayang,, udah dulu ya! jaga diri kamu baik-baik! Aku selalu ingat kamu kok, aku teramat cinta ama kamu. Ohh iya, tolong sampaikan maaf ke Syifa ya, aku udah lancang ngambil kertas itu dan ngebocorinnya ke kamu. Ini semua demi kamu dan Syifa… ILYSM, Sandi ….
Salam Cinta
Riska…
Aku kembali meneteskan air mata, tak kuasa aku menahan bendungan air mata yang sudah cukup berada diujung mataku..”justru aku yang mustinya minta maaf. Makasih ya! atas pengertian kamu” ucabku lirih. “ohh iya Riska, Sandi nangisin kamu mulu nih! Semestinya kamu jangan pernah pergi! Siapa bilang aku nggak sanggup mendem cinta aku ke Sandi? Aku bisa kali! Justru aku ngejauh semua ini demi kamu dan Sandi!” ucabku dalam hati.
“Maafkan aku Riska…” isak tangis Sandi terdengar lagi. Setelah ia terdiam membaca surat dari Riska itu. aku tertunduk lemah tak berdaya.
Sepeninggal Riska pergi, aku nggak pernah memikirkan bagaimana perasaanku lagi ke Sandi. Aku begitu mengerti mengapa Sandi tidak pernah mencoba menghargai waktunya saat bersama denganku. Itu karena Riska teramat ia cintai. Riska pergipun Sandi bahkan dilanda begitu panjangnya kesedihan yang terdalam. Aku tak mengerti ini. Aku tak mengerti keadaan yang tuhan berikan kepada aku. Aku tak mengerti bahkan akupun seperti takut untuk mengerti semua ini. Yang aku sesali, kenapa baru sekaranglah aku bisa sedikit menjaga perasaan ke Sandi. Kenapa setelah Riska pergi? Akupun bertanya-tanya dalam hati, mencari tau semua jawaban dari tanya tak pasti. Semu.. Diam,, tanyaku tak terjawab.
Aku berjalan tak pasti kemuka lemariku. Kubuka secara perlahan lemari yang telah lama tak aku buka, tak aku sapa isi didalamnya. Lemari kecil disudut kamarku, lemari berisi kenangan lamaku. Yaaaahhhh,, sudah berdebu. Ku jentikkan telunjukku, lalu kuseretkan didasar lemari. Ternyata benar-benar adanya debu. Aku tersenyum simpul, menatapi telunjukku yang tergores debu kenangan. Aku rebahkan tanganku diatas album putih berdebu itu. kelima jariku penuh dengan debu dan benar-benar debu kenangan. Kuangkat album yang tadinya putih bersih itu. kini menajdi kelat oleh butiran debu. Lalu aku tiup kecil atas album itu. bertebaranlah debu kenangan itu. “uhuk-uhuk!” membuat aku terbatuk, lalu tersenyum sebentar. Ternyata sudah sekian lama lemari ini sudah kupaksa kunci dan hari inilah aku membukanya kembali. Membuka kenangan lalu yang telah terkunci rapat bahkan telah tertutup butiran debu penuh.
Satu persatu kubuka lembar demi lembar album itu. masih asli, tergores keceriaan dan kebahagiaanku dulu sewaktu memakai seragam indah diseumur hidupku. Tersenyumku paksa. Ternyata begitu beruntungnya aku masih dapat merasakan kenangan laluku, meski telah terselimuti debu ini. aku pun merasa bahagia. Saat aku dan Riska berfoto berdua. Yaa ini adalah kali terakhirnya aku berfoto bersamanya. Untuk selanjutnya aku hanya bisa menatap Riska dan Sandi dari kejauhan berfoto ria. Setelah lembar terakhir aku buka. aku tatapi foto itu. foto aku dan Sandi, untuk kali terakhirnya kami berfoto berdua. Pas perpisahan dan tepat dihari itu juga, memakai baju itu aku jujur mengatakan kalo aku menyukai Sandi. Aku tertawa geli. Aku terpaku sejenak. Lalu fikirku melayang dengan santainya. Begitu lucunya aku, mencintai teman dekatku sendiri sampai saat ini. Riska kini telah tiada, namun bukan berarti aku leluasa untuk merebut cinta Sandi dari Riska. Namun aku akan mencoba mencarikan cinta baru untuk Sandi. Meski sebenarnya aku tau aku takkan pernah bisa mencarikannya itu. meski kenyataannya untuk bangkit berdiri menatap tegar Sandipun mungkin aku belum sanggup. Aku masih lemah. Namun aku yakin, dengan usaha dan demi Riska aku pasti bisa. Yaaahhh!! Aku akan lebih bisa melupakan Sandi, karna aku mempunyai kehidupan sendiri disini!!
“dek” suara mama memecah lamunanku.
“iy-iy-yaa ma?” aku memalingkan wajahku kearah mama.
“ada orang didepan, nyariin kamu! Keluar gih!”
Langkah ku terhenti setelah aku lihat orang yang ada dihadapanku ini adalah.. “sandi?” aku mengerutkan kening.
Sandi tersenyum manis sekali. “ternyata Dunia itu sempit ya! buktinya kita bisa ketemu lagi!”
Aku Cuma menjawab dengan senyuman.
“kamu bersedia nemenin aku ?”
“ke?”
“makam Riska!”
Aku tersentak diam. Rasanya seperti ada yang menarikku untuk ikut kesana.
“satu hal yang selalu ngebuat aku inget dengan Riska, yaitu kamu. Dan satu lah yang selalu ngebuat aku inget dengan kamu, yaitu Riska”. Ucab Sandi setelah sampai didepan makam Riska.
Aku terdiam menatap Sandi dalam. Seketika gugup datang, aku melayangkan tatapanku kesegala arah disekitarku. “jangan pernah samakan aku dengan Riska! Karna sesungguhnya kami sangat berbeda!” ucabku tegas.
“sama. Sama-sama bahagiaku. kamu ingat dengan pesan-pesan terakhirku dulu?”
Aku diam lagi nggak ngejawab.
“aku bilang aku menunggu kamu kembali kesini, ke Bandung. Lama aku menunggu kamu, tapi ternyata penantianku itu sia-sia. Kau tak pernah kembali!”
“…..”
“disaat itulah aku sangat tau bagaimana rasanya menunggu, lelah”
Aku masih saja mengunci mulutku untuk tidak bicara sedikitpun.
“kamu masih ingat bahwa dulu ada satu hal yang ingin aku katakan ke kamu?”
“…..”
“aku tau kamu nggak bakal ingat itu, kamu udah terlalu lelah mengenal aku…”
Aku menghela nafas panjang. “lalu kamu fikirkan sekarang! Bagaimana bisa semudah itu aku lupa dengan kamu! Dengan kehidupanku dulu bersama kamu. Dengan semua perngorbananku menunggu kamu. Bagaimana bisa, San!” aku mulai membuka mulut.
“lalu kanapa kamu menghilang begitu saja?”
“segenap rasa ini begitu menyiksa aku San. Aku nggak tau harus bagaimana caranya lagi agar aku tetap bertahan dalam kondisi yang sulit untuk aku pertahankan. Yaitu mencintai kamu, menunggu kamu. Sulit! Aku pikir dengan jaraknya yang membentang antara kita akan sangat mudah membuat aku lupa akan kamu, tapi sayangnya bayanganmu itu selalu hadir dalam hariku. Aku pikir dengan caraku menghilang begitu saja akan sangat cepat membantu proses melupakan kamu, namun ternyata itu malah membuat keadaan semakin sulit. Barulah saat ini aku menyadari, semua yang aku lakukan ini sia-sia”.
Sandi terdiam sejenak, dia menatapku dalam. “lalu kenapa tidak kamu tanyakan kepastiannya kepadaku?”
“kepastian ? kepastian apa?” aku mengerutkan kening. “kamu sadar nggak? Kamu sedikitpun nggak pernah menyukai aku. Dan-dan bagaimana bisa aku menanyakan kepastian sedangkan kenyataanya kamu menjalin hubungan dengan Riska! Lebih baik aku menyingkir!”
“bukankah dalam tulisanmu dulu kamu bertanya ‘bolehkah kamu bagi sedikit aku cintamu untukku?’ bukankah itu keinginanmu? Jikalau aku tau itu keinginanmu, akan aku penuhi segera!”
PLAK!!!! Tanganku melayang kepipi kanan Sandi. “kamu tau, itu tulisan bodoh! Tulisan yang hanya dipenuhi dengan nafsu ingin memiliki kamu! Kamu sadar nggak? Secara perlahan kamu ngancurin perasaan Riska dan dalam hal ini aku juga akan terlibat ngancurin perasaan Riska. Kamu sadar nggak, kamu akan menyakiti 2 perasaan wanita sekaligus!” nada suaraku meninggi.
Sandi memegang pipinya itu. “kamu nggak pernah peka dengan aku sebelumnya!”
“Sudahlah San! Kita telah berlalu! Kita udah jauh beda, kita udah dewasa. Baiknya kita jalanin kehidupan kita sendiri-sendiri! Aku pikir ini adalah keputusan yang bijak!”
Hening….
“aku harus pulang! Ini jamnya aku harus kerja!” aku melangkah menjauhi makam Riska. “Riska aku pamit ya! maafkan aku!”
“aku menyukaimu lebih dulu dibanding Riska”
Langkahku terhenti.
“itu yang ingin aku katakan langsung ke kamu! Nyaliku mudah ciut saat itu”.
Aku menoleh keSandi.
“aku menyukaimu lebih dulu dibanding Riska”. Ulangnya. “saat aku ingin menyatakannya padamu, terdengar kabar kamu menyukai Imam. Dengan segala cara aku pun melupakan kamu, hingga hadirlah Riska dalam hidupku”.
Aku diam.. “Imam? Dia nggak berarti apa-apa. Kamu tau? dia hanyalah pelampiasan rasaku untuk kamu. Namun setelah aku coba? perasaanku ke kamu begitu besar San! Nggak mampu dikalahkan semua cara yang udah aku perbuat”.
“hee…” Sandi tersenyum sinis. “ternyata keadaan yang salah mengartikan semuanya! Ternyata kita salah mengartikan semuanya”.
“sudahlah! Kita sudah berlalu San! Kita jalani hidup kita dengan sendirinya! Sekali lagi aku lelah berurusan dengan kamu!” ucabku sambil lalu.
“tunggu!!” Sandi menarik tanganku. “kamu ingat dengan surat Riska ke kamu? Riska minta kamu ngejagain aku. Maksudnya Riska minta kamu untuk ngegantiin Riska! Kamu ngertikan?”
Aku masih membelakangi Sandi.“nggak!! Aku nggak ngerti itu! aku nggak mau ngerti semuanya itu. Bagiku cukup menjagamu dengan menjadi teman seperti dulu saja! cukup!!”
“tapi aku nggak mau itu!”
“tolonglah!” aku menarik nafas sebentar. “aku minta kamu berhenti untuk maksain kehendakmu ke aku! Dan…. Sudahlah! Kita udah berlalu” aku melepas genggaman tangan Sandi!”
“Syifa…..” suara Sandi tiba-tiba meninggi. “aku tau kamu sangat mencintai aku! aku mohon jangan munafik! Kenapa disaat-saat aku ingin menghapus kesalahanku padamu, disaat-sat aku ingin mengulang kebersamaan bersamamu, kamu malah ingin menjauh dariku? Bukankah kamu sudah tau aku juga menyukaimu!”
“kamu tau betapa sakitnya aku? kamu tau betapa tersiksanya aku ? dan kamu tau betapa tersinggungnya aku? setelah akhirnya Riska udah nggak ada kamu malah ke aku! kenapa tidak dari dulu saja?” aku terhenti sejenak “kamu lelaki atau bukan?” suaraku juga meninggi.
“oke maaf!!!” teriak Sandi. “Syifa… Adakah kamu perasaan menghargai Riska? Adakah kamu mengerti bagaimana keadaan Riska saat itu? aku nggak akan mungkin melepaskan Riska dalam keadaan sakit! Dan kamu tau bagaimana perasaanku ke Riska? Saat itu sangat besar!”
Aku terdiam sebentar. “bahkan caraku menghargai Riska pun nggak kamu ketahui” ucabku dalam hati.
“Riska hanya minta waktu sebentar bersamaku. Apakah itu salah Fa? Sebelum akhirnya dia tidak akan pernah menginjakkan bumi, menghembuskan nafasnya lagi, memilikiku lagi dan menatapmu lagi.”
“lalu bagaimana jika Riska sama sekali nggak sakit? Apa kamu tetap akan bersamanya?” tanyaku lirih meneteskan air mata.
Sandi diam, mungkin disinilah dia bingung menentukan. Sandi menghela nafas. “Riska. Karna aku sudah terlanjur mencintai dia. Tapi aku nggak pernah bisa bohong, aku juga ingin bersamamu!”
“Oke! Cuma itu yang aku butuhkan, jawaban yang sesungguhnya! Terima kasih! Aku tau satu hal yang tak pernah aku duga kamu juga memilikinya. Kamu sama!”
“kenyataanya sudah beda kan Fa? Riskapun sudah merestui kita! Dan apa lagi yang kamu tunggu?”
Aku diam lagi. “aku nungguin kamu, nungguin bayanganmu pergi dari hari-hariku! Itu saja!”
“sekalipun aku berlutut didepan kamu mungkin nggak akan bisa ngebuat kamu memaafkan aku dan juga Riska!” ucab Sandi sambil berlalu.
Aku tertunduk diam. Tiba-tiba saja aku menjadi lemas dan menjatuhkan badanku tepat didepan makam Riska. Berjuta tanya merasuk dalam fikirku. Rasanya ingin aku menanyakannya langsung kepada Risda. Namun jika keadaaanya seperti ini, siapa yang akan menjawab tanyaku ini? “Riska maafkan aku!!” aku terisak menatap makam Riska. Benar Riska nggak ngejawabnya.
Lama aku tertunduk menangis. Lalu mataku seperti melihat sesosok didepan ku, didepan makam Riska juga.
“aku yang seharusnya berada disini bukan kamu!” ternyata itu Sandi.
Aku diam mendongak menghapus sisa-sisa air mataku dipipi.
“pergilah! Bukankah kamu ingin menjalani hari-harimu tanpa aku? bukankah kamu marah padaku dan Riska?tempatmu bukan disini! Banyak orang yang ngebutuhin kamu disana!”
Aku berdiri menatap Sandi tajam. “sedikitpun aku nggak pernah marah ke kamu. Apalagi ke Riska!”
“ya! sudahlah!! Pergilah sekarang!!”
Aku tertunduk lemah, meneteskan air mataku. Ternyata Sandi sudah mudah menyerah. Fikirku melayang-layang. Sesekali Riska ada difikirku sekarang. Riska seolah memaksa aku untuk tetap bertahan mencintai Sandi. Namun naluriku sudah teramat lelah, aku lelah selalu berurusan dengan perasaan yang tak pasti. Aku takut kelak Sandi nggak akan bisa ngebahagiain aku seperti halnya dia ngebahagiain Riska. Air mataku menetes lagi, aku menatap Sandi dalam-dalam. Setelah akhirnya aku berlalu.
“makam Riska menjadi saksi, bahwa aku mencintaimu Syifa Anindhya” Sandi tertunduk.
Mendengar itu semua, terhenti langkahku. Aku nggak sanggup lagi menahan ini. ini begitu menggebu-gebu dalam hatiku. Aku sudah lelah tetap menahan perasaan ini, sampai akhirnya sebagaimanapun aku meencoba menahan aku tetap tidak bisa. Perasaan ini begitu menggebu-gebu.
“aku benci kamu Sandi! Aku benci kamu tapi rasaku begitu besar. Rasaku cintaku begitu besar ke kamu! Sekalipun aku mencoba bohong, tapi ternyata nggak bisa Sandi! Rasaku tetap ke kamu!” aku berbalik badan kearah Sandi.
Aku menatap Sandi dalam, berhadap langsung ke Sandi. Menatapnya lagi setelah sekian lama mataku tak menatap Sandi lagi. Bertahun-tahun aku menunggu tatapan ini. mataku berlinang, tak kuasa.
“terlalu lama aku menahan rasaku untuk meluk kamu” mataku tak kuasa menahan butiran air mata ini.
Sandi tidak melakukan balasan. Sandi hanya diam terpaku menyusuri pandangnya kesekeliling makam ini. “aku nggak tau, harus aku apakan diriku ini! telah abaikan kamu dulu!”
“harusnya kamu tanamkan lebih banyak lagi benih-benih cinta dihatimu teruntuk aku dan hanya untuk aku!” aku tersenyum.
“maaf lama membuat kamu menunggu”.
Hari itu menjadi penutup akhir cerita aku dan Sandi, cintaku terhadap Sandi, dan penyiksaan terhadap perasaan ini. Bayangan Sandi yang selalu saja berhasil mengisi hari-hariku, ternyata bukan akan menjadi bayangan semu. Bayangan semu ini adalah awal dari bayangan nyata akan diri Sandi. Aku memang tak pernah benar-benar melupakan Sandi, karna memang rasaku tak pernah bisa sanggup menghapus perasaan terindah yang pernah aku rasakan. Yaitu mencintai Sandi.
Malam menyambutku dengan cerahnya. Bintang-bintang bertaburan melukiskan keindahan malam. Semerbak kesejukkan merasuk jauh dalam diriku. Aku tersenyum menatap ruang luar angkasa ini. Kutetapkan pandangku pada satu bintang disana. Teramat terang dari bintang-bintang yang lainnya. Senyumku melayang. Kukirimkan lewat angin yang mengibas helaian rambutku. Kukirimkan kerinduan yang begitu dalam, aku lantunkan ucapan terima kasihku untuk bintang paling terang disana. Riska, aku yakin itu Riska.
“Makasih Riska. Kamu izinkan aku untuk bersama Sandi!” ucabku tersenyum. “dan maaf aku telah mencintai Sandi dibelakangmu!”
Hening… Desah nafasku yang aku rasakan. Sunyi, nggak ada balasan. Aku pun teringat Riska nggak akan menjawab ucapanku tadi. Sekalipun aku menunggu dan menunggu. Riska telah ada disebuah alam yang dia akan kekal disana. Bersama kehidupan baru dan kebahagian baru.
“Tuhan.. engkau memang adil. Memberikan kesempatan untuk Riska merasakan cinta Sandi. Setelah akhirnya engkau mengambilnya. Dan aku, kau berikan kesempatan untuk merasakan cinta Sandi setelah Riska. Makasih atas itu”
Dalam detik jam yang terus akan berlalu. Aku menghitungnya, hingga mentari datang menjemput kebahagiaan kekalku. Esok, tiada lagi perasaan tak pasti, perasaan semu, penantian lama, dan penyiksaan batin. Semua yang aku kira adalah dosa yang begitu indah. Namun sekarang aku baru mengetahui semuanya, bahkan aku merasakan sendiri bagaimana dosa ini mengalun dalam hari-hariku. Saat ini, dosa yang sudah aku perbuat memanglah indah. Hingga akhirnya aku dapat memiliki Sandi setelah penantian panjangku.
“Riska.. Aku dan Sandi akan menikah besok!” ucabku tersenyum sambil lalu masuk kekamarku.
Diposting oleh






0 komentar:
Posting Komentar