0

aku tak pernah tau dan tak pernah mengerti

Aku tidak pernah tau, bagaimana aku bisa sampai disini. Disuatu tempat yg tidak prnah aku lihat dirimu lagi.
Aku bahkan tidak penrah mengerti, mengapa harus aku berdiri tegak tnpa sosok dirimu lg.

Aku tidak pernah tau, bagaimana aku bisa tersenyum bukan karena wajahmu.
Aku bahkan tidak pernah mengerti, mengapa aku bisa tertawa dengan lelucon yg bukan km buat.

Aku tidak pernah tau, bagaimana aku bisa melangkah walau sesekali menoleh kblakang.
Aku bahkan tidak mengerti, untuk apa aku melangkah jika aku tdk menoleh k belakang.

Aku tidak pernah tau, bagaimana perasaan ini menyelimutiku untuk diam dalam sakit.
Aku bahkan tidak mengerti, mengapa aku merasa sakit dgn prasaan bodoh ini.

Aku tidak pernah tau, bagaimana aku bisa melukis wajahmu didinding kamarku.
Bahkan, aku tidak pernah mengerti mengapa dinding membiarkan aku mengotorinya dengan wajahmu.

Aku tidak pernah mengerti, bagaimana bisa aku berpura-pura melupakan semua yg jelas-jelas tak pernah terlupa.
Bahkan aku tidak pernah mengerti, mengapa semua yg jelas tak pernah terlupa itu harus aku lupakan.

Aku tak pernah tau, bagaimana kau dengan mudahnya hadir mengisi mimpiku setiap malam membalutku.
Aku bahkan tidak mengerti, mengapa malam membalut aku untuk memudahkan kau mengisi mimpiku.

Aku tidak pernah tau, bagaimana bisa kau membiarkan aku merasakan ini.
Bahkan aku tidak pernah mengerti, mengapa akupun membiarkan merasakan ini pdmu.

Aku tidak pernah tau, bagaimana aku bisa sesampai ini untuk melupakanmu.
Aku bahkan tidak mengerti mengapa aku melupakanmu dgn harus sampai disuatu t4 dahulu.

Aku tidak pernah tau, bagaimana aku bisa kamu cintai.
Bahkan aku tidak mengerti mengapa kamu bisa mencintai aku.

Aku tidak pernah tau, bagaimana aku bisa bertahan untuk tersenyum tanpa kamu disini.
Bahkan aku tidak pernah mengerti mengapa senyumku pun bisa membuat aku bertahan tnp kamu.

Aku tidak pernah tau, bagaimana aku bisa pura-pura tidak memerdulikan km.
Bahkan aku tidak mengerti, mengapa aku tdk memerdulikan km dengan berpura-pura.

Aku tidak pernah tau, bagaimana aku bisa tetap mencintai cinta ketika cinta itu jd milik org lain.
Bahkan aku tidak pernah mengerti mengapa cinta milik org lain itu aku cintai.

Aku tidak pernah tau, bagaimana aku bisa mengungkapkan rindu?? Dengan mengirim doa? Dengan mengirim selembar surat? Dengan pesan? Dengan apaaaa??
Jawabannya adalah hanya dengan caraku sendiri. Aku bahkan tidak pernah tau bagaimana bisa aku mengirim rindu yg aku harap kamu juga merasakan iniii.

Aku merindukanmu,, aku biang aku merindukanmuuu
aku penasaran, bagaimana aku bisa kamu rindukan. Aku penasaran, bagaimana aku bisa kamu lukiskan. Aku penasaran, bagaimana aku bisa kamu ingat.

Dan yang aku tak pernah tau dan tak pernah aku mengerti adalah bagaimana aku bisa merindukanmu dan mengapa aku harus merindukanmu :')
0

RINDU





Untuk sebuah kisah lama.
Aku tersenyum, tersenyum sekali lagi. Mengingat-ngingat semua yang sudah tinggal lalu.
Aku menoleh lagi ke belakang, hampa. Tiada sosok dia lagi. Akupun diam, lalu menunduk.
''dimana dia sekarang?'' kataku lirih.
Tak ada jawaban. Lalu, aku berkata lagi. ''kamu, dimana kamu sekarang?''
masih tidak ada jawaban. Aku semakin tersentak diam.
''kemana kamu?'' ulangku sekali lagi.
Masih sama, hanya diam yang ada.

Aku terduduk lemas, mencari-cari sandaran yang dulu masih bisa aku sandarkan.
Aku lemah, aku lelah, dan aku rapuh.
Aku menundukkan kepala ku lalu terisak tangis dalam hatiku.
Aku seperti terduduk dalam sebuah ruangan kosong yang hanya berisi banyangan-banyangan lalu. Ini menyakitkan sekali.
Dengan cepat aku bangkit, lalu mencoba berlari-lari.
''tidak, aku tidak bisa.'' ucabku tegas.
''Aku tidak bisa menghilangkan bayangan itu.''
''kamu masih hidup di sini.'' aku menunjuk hatiku.
''bahkan jauh setelah kita berpisah, kamu tetap ada.'' aku terisak lagi. Lalu berhenti pada sebuah tembok. Aku menyandarkan tubuhku yang lemah ini.
''dimana kamu sekarang?'' tanyaku lagi.
''aku teramat tersiksa dengan rasa ini.'' jelasku.
Namun masih sama, tak ada jawaban. Aku tersenyum lirih. ''aku teringat dulu, teringat kamu yang begitu indah.''

perlahan, aku merosotkan tubuhku kebawah dengan bersandar tembok.
Aku menutup wajahku dan memejamkan mata. Semua masih sama, yang aku lakukan ini masih sama. Aku seolah ada disebuah bioskop besar yang sedang memutar kisah lama, kisah kita. Akupun menjerit lantang. ''perasaan apa ini? Ini apa?''
diam masih menemaniku, aku seakan berteman dengan diam.
Masih diam. Hening...

''rindu.'' kataku lirih.
''aku merindukanmu?''
''aku ingin bertemu denganmu?''
''yah itu rasanya, itu perasaan yang aku rasa.''

lama, aku memendam ini, tersiksa dengan campuran-campuran kisah yang sudah lama rapuh. Lama aku menyimpan ini bersama dengan diam yang aku anggap dia teman.
Lama sekali aku berusaha untuk kuat menahan rindu yang sudah menggebu-gebu dalam jiwa.
Lalu, dimana jawaban atas apa yang aku rasakan selama ini.
Tidak. Tidak ada jawaban apapun. Aku masih tetap merasakan itu. Sama, rasa itu masih sama bahkan setelah aku mengetahuinya, aku baru memahami bahwa ini rindu.

Sebuah perasaan lama, yang terkadang muncul bahkan menghantuiku seketika dalam waktu yang lama.
Sebuah kisah lama, yang hanya berputar tentang itu.
Aku begitu mencintai kisah itu, mencintai rasa itu, mencintai cinta.

Aku terenyak diam, lalu bangkit dari dudukku.
Pandangku lurus berpaku pada dinding dihadapku. Terlihat jelas wajahmu disitu. Aku menangis, kali ini tangisku meneteskan air mata.
''Bagaimana bisa aku mengungkapkan ini padamu?''
''bagaimana bisa aku berpur-pura tegar dengan rasa yang begitu menyiksa ini?''
''aku bilang, aku merindukanmu!'' namun, dengan aku ucapkan jelas kata itu, kamupun tidak langsung akan hadir lagi kan? Tidak. Ya tidak.

Aku berjalan prlahan membelakangi dinding yang terlukis jelas wajahnya. Dalam hati aku berkata ''iya. Ini benar adanya. Aku merindukanmu. Sangat.''

satu hal yang kini aku tahu, ketika semua tiada pernah bisa kembali. Hanya rindulah yang berperan disini. Karena rindu adalah cara kita menyatakan perasaan sayang kepada yang terdahulu.

Aku tersenyum. Karna ternyata hatiku dapat memberi jawaban atas ini. Aku berjalan dengan pasti. Dengan membiarkan perasaan rindu ini tetap tinggal dihati. Dengan membiarkan perasaan cinta ini tetap tinggal disini.
Merindukanmu, mencintaimu yang kaupun tak pernah yakin dengan cara diam seperti ini. Tanpa senyum dan tanpa sapa. Aku ikhlas membiarkanmu tetap tinggal disudut hatiku dengan membiarkanku tetap berada disuatu tempat yang jauh untuk mencintaimu.
Jauh sebelum kau merindukanku, aku sudah bisa melupakanmu. Aku berjanji :)
0

aku melihatmu waktu itu

Aku melihatmu waktu itu.
Entah berapa kali matahari n bulan berganti hingga aku bisa melihatmu setiap hari..

Aku melihatmu waktu itu..
Disudut kota yang biasanya aku melihat kamu tersenyum..

Aku melihatmu waktu itu..
Disudut kelas yang biasa aku lewati n kamu ada disana..

Aku melihatmu waktu itu..
Didiamnya kota saat sedang menatap indahnya bintang..

Aku melihatmu waktu itu..
Terdiam membisu, tiada membentuk lengkung bibirmu..

Aku melihatmu waktu itu..
Disebuah tempat yg ramai, dimana ada aku dan kamu..

Aku melihatmu waktu itu..
Disudut jalan dekat rumahmu..

Aku melihatmu waktu itu..
Lewat pendengaranku dari semua org yg membuat aku mengingatmu..

Aku melihatmu waktu itu..
Didalam sebuah kota kosong yg trukir jelas wajahmu..

Aku melihatmu waktu itu. Aku melihatmu waktu itu, lewat sebuah album kusam ttg kita..

Aku melihatmu waktu itu.. Lewat sebuah lagu yg ingatkan tentang kamu.

Aku melihatmu waktu itu..
Lewat sebuah kenangan tepat dihari ultahku.

Aku melihatmu saat ini. Lewat sebuah memori penuh wajahmu.

Aku melihatmu saat ini. Lewat sebuah kisa yg melekat dihati.

Aku melihatmu saat ini. Lewat sisa-sisa foto lama kita.

Aku melihatmu saat ini. Bercampur dengan asap-asap disudut kota.

Aku melihatmu saat ini.
Seakan km menembus dinding kamarku.

Aku melihatmu saat ini.
Lewat sebuah kisah yg mengalun dimlm hari.

Aku melihatmu saat ini.
Lewat doa-doa setelah sholatku.

Aku melihatmu saat ini.
Dalam sebuah catatan kecil tentang kamu..

Aku melihatmu saat ini.
Lewat hati kecilku yg telah memaku jelas namamu disana.

Aku melihatmu..
Aku melihatmu kini, disudut mataku yg jelas terukir wajahmu.
Aku melihatmu kini, dalam benakku bertengker wajah n sikapmu itu.
Aku melihatmu kini, bersama seseorang disana.
Aku melihatmu selalu, dalam foto-foto yg tak pernah kau lirik lagi.
Aku melihatmu selalu, dalam jelas memoriku sewaktu itu.

Aku melihatmu..
Aku melihatmu, disetiap malamku.
Aku melihatmu dalam malam panjangku.
Aku melihatmu lewat hobbymu.
Aku melihatmu dalam semua kisah-kisah dahulu sekali..

Aku melihatmu selalu, sungguh!
Aku telah lelah selalu melihat kamu,
aku lelah dengan sebuah ketidakjelasan kamu dengan ini.
Dalam setiap hariku, kotorehkan harapan dengan mengharap ada keajaiban.
Untuk suatu saat nanti aku tetap akan melihatmu dengan ketidakjelasan ini, dengan semua kelelahan ini, dengan semua khayalan ini.
Untuk bisa melihat kamu lagi, lagi n lagi.
Untuk bisa melihat saat nantinya aku ditakdirkan untuk tidak dpt melihat apapun, termasuk kamu.
Maka inilah alasan mengapa aku ingin terus melihat. Melihat kamu, semua tentang kamu, melihat pendengaranku yg sdg memutar semua kisah kita. Aku ingin melihat kamu. Aku ingin melihat lengkung bibirmu.
Aku ingin tetap melihatmu sayang
0

Dosa ini memang indah part 2

Dosa ini memang Indah

 “BRAAAAKKK!!!” lenganku tertabrak sesuatu. Untungnya aku tak terjatuh.
 “maaf Dok!” ucab seseorang dari belakangku.
 Seketika aku menoleh ingin mengetahui seperti apa tampang sosok itu. Sosok bersuara lelaki. Lelaki itu berpakaian cukup mencerminkan sebagai orang yang terpandang. Aku mengkerutkan keningku, sepertinya ada sesuatu yang membuat aku merasa teramat dekat dengan sosok lelaki itu. aku seperti pernah bertemu dan bahkan aku pernah dekat dengan lelaki itu.
 Lelaki itupun menatapku dengan kening berkerut pula. Sepertinya apa yang aku rasain sama dengan apa yang dia rasain. Telunjuk lelaki itu menunjuk kearahku, matanya pun sesekali menyipit.
 “yaa! Aku tau siapa dia! Tingkah yang aku kenal, dan memang benar aku mengenal lelaki ini” cepat-cepat aku melangkah menjauh dari lelaki itu.
 “tunggu!!” lelaki itu mengejarku. Dengan spontan lelaki itu menarik tanganku dan membuat aku berbalik badan kearahnya. Lelaki itu memelukku. “aku rindu kamu!”
 Aku tertegun diam. Namun mataku tak lepas memandangi sekelilingku. “Ini rumah sakit, ini tempat umum! Memalukan” gerutuku dalam hati.
 Dengan kasar aku melepas pelukan lelaki ini, spontan aku pun menampar lelaki itu. Plaakkk…
 “kamu nggak ngenalin aku sama sekali?” tanyanya memelas sambil memegang pipinya.
 “maaf! Saya sibuk!” dengan langkah cepat aku meninggalkan lelaki itu yang masih tertegun diam menatap kearahku.
 “SYIFA!!!” panggilnya.
 Langkahku terhenti.Tepat!!  aku mengenal lelaki itu. sosok lelaki yang dulu pernah mengisi hariku. Sandi benarkah ia? Pikirku tak berhenti disitu seketika, dengan segenap rasa yang masih terpupuk aku, aku melanjutkan langkahku lagi. Aku masih ingat kalo aku akan melupakan semua tentang Sandi dan aku nggak akan pernah mau Sandi ada lagi menyiksa aku ditempat dan kondisi yang berbeda.
 “Sandi!!” teriak seseorang dari belakang Sandi.  “Riska kritis!!”
 Kali ini langkahku benar-benar terenti, nggak Cuma itu aku berbalik badan mengarah ke Sandi. Dengan cepat aku melangkah kearah Sandi.
 “Dimana Riska?” dengan segenap rasa khawatir aku bertanya ke Sandi.
 “ICU Fa!” Sandi meniti kata pelan.
 Tubuhku gemetar. Aku nggak tau musti mulai dari mana, karna aku sama sekali belum tau Riska sakit apa. Namun berjuta rasa khawatir ini aku akan mencoba membantu Riska. Karna aku sayang Riska, karna aku pernah dosa terhadap dia. “kanker??”aku mengulangnya dalam hati saat dokter khusus Riska datang. Tubuhku lemas seketika. Aku nggak pernah menyadari Riska punya penyakit yang sangat mematikan ini.
 “Dokter Aria. Saya mohon lakukan yang semestinya harus dilakukan!! Riska musti sembuh Dok!” pintaku panic.
 “saya usaha semaksimal mungkin dok!”
 “Syifa?” Sandi menatapku dalam.
 Aku sama sekali tidak memperdulikan tatapan Sandi itu. Fikirku melayang-layang. Aku menatap seisi ruangan ini, ruangan yang penuh dengan tetes air mata. Dan aku nggak ingin menjadi salah satu dari orang-orang yang menyumbangkan air matanya disini. Karna aku ingin menjadi orang yang tegar dan karna Riska nggak harus pergi. Mataku berlinang. Aku sama sekali nggak tau apa yang semestinya harus aku lakukan terhadap Riska. “Tuhan… Apa yang semestinya aku lakukan saat ini? jujur aku masih mencintai Sandi dan aku nggak munafik aku ingin memilikinya. Tapi aku sayang Riska. Aku nggak mau engkau ambil dia sekarang. Tapi aku juga ingin memiliki Sandi. Tuhaann… Aku dosa. Aku dosa kalo aku berdoa untuk bisa memiliki Sandi namun Riska tersiksa. Dosakah aku jika aku menginginkan Sandi lagi?” air mataku tak sanggup aku bendung lagi. Aku menangis seketika tepat dihadapan Sandi.
 “Tuhan… Beri yang terbaik untuk kami semua disini !!” doaku dalam hati.
 “Fa… Lo nggak papa?” tanya Sandi.
 Aku sontak diam lagi, aku teramat rindu dengan suaramu itu. aku teramat rindu dengan sapaan mu itu. aku teramat rindu dengan semua yang ada pada dirimu itu San! Namun saat ini bukanlah saat yang tepat melampiaskan kerinduanku terhadapmu.  Aku tertunduk diam.
 Dalam penantian, dalam diam dan dalam ketegangan aku dan Sandi menunggu pemeriksaan dokter Aria. Aku menunggu dan lagi-lagi aku harus menunggu. Untuk kesekian kalinya aku harus menunggu sesuatu yang tak tau pastinya. Semerbak rasa kekhawatiranku semakin meningkat. Singkat, namun fikirku melayang-layang lagi. Aku terfikirkan Riska. “bagaimana jika Riska nggak selamat?” aku tersenyum sinis. “pasti Sandi teramat tersiksa” aku tertunduk lesu. “namun bagaimana jika Riska selamat?” ucabku lirih dalam hati. “kini aku yang tersiksa” lanjutku dalam hati. “siapa yang memikirkan perasaanku jika Riska selamat?” tanyaku lagi, seolah akan terjawab sendiri. “nggak ada!” jawabku lesu.
 “TUHAN.. Sekali lagi, dosakah aku? berharap Riska pergi agar aku bisa merasakan bersama Sandi? Salahkah jika aku berharap ini dan ini lagi? Hari demi hari hingga saat ini telah aku coba. namun sungguh aku tak pernah bisa melupakannya. Sekalipun sudah aku kubur semua cerita tertulisku dengan Sandi. Walau telah aku tutup rapat-rapat album kenangan bersamanya. Dan meskipun jarak telah memisah aku. Tapi rasaku masih bertahan. Bodohnya aku, Tuhan. Sekali lagi, salahkah jika aku ingin Sandi membagi cintanya untukku. Walau itu hanya segenggam dari jutaan genggam cinta miliknya?” jutaan tanya merasuk dalam fikirku. Lalu hanya diam, nggak ada jawabban. “Tuhan bukankah engkau maha mendengar? Lalu kenapa tak kau jawab semua ini?” ulangku lagi meneteskan air mata.
 “Syifa?” tangan Sandi mendarat  dipundakku.
 Tanganku menghapus butiran-butiran sisa air mataku ini. Menatap Sandi penuh harap
 “Bukankah kamu adalah wanita tegar?” tanya Sandi seolah menyindir. “setelah kamu menjadi seorang dokter, seharusnya kamu lebih menjadi wanita tegar. Untuk menenangkan semua keluarga dari pasien-pasien disini!!”
 Aku diam sebentar! “dokter itu hanya profesi. Dan saya adalah manusia, tak pernah luput dari air matanya. Dari kesedihannya dan dari kehampaannya. Bagaimana dengan anda? Apakah anda telah menjadi orang yang menghargai waktu anda, untuk orang yang menyayangi anda dan untuk orang yang anda sayangi?”
 “heeh… Anda?” tersenyum sinis. “ternyata sekian lamanya kamu disini, kamu telah banyak berubah. Bahkan kamupun tidak mengenaliku tadi!” Sandi tidak menjawab tanyaku itu.
 “bagaimana bisa aku tidak mengenalimu Sandi? Bahkan aku sangat mengenalmu!! Sangat dari yang kamu ketahui. Semua karna Riska, aku Cuma nggak mau perasaan ini lama-kelamaan akan tumbuh menjadi-jadi” ucabku dalam hati.
 “syukur kamu mengetahuinya!”
 “heeh… Kehidupan Jakarta telah banyak mengubahmu!”
 “saya sibuk!” dengan langkah terburu-buru aku beranjak meninggalkan Sandi.
 “temanilah aku disini!” Sandi mengekor dibelakangku. “sekalipun Jakarta telah mengubahmu, tapi aku yakin sifatmu yang dulu tak dalam terkubur debu. Aku tau kamu sangat mengkhawatirkan Riska!” 
 Langkahku mendadak terhenti. “sudah saya bilang saya sibuk!” wajahku sedikit aku lirikkan kebelakang.
 “cckckck…..” suara pintu UGD terbuka. Sandi membalikkan badannya menuju ke depan pintu.
 “Dokter, bagaimana Riska?” Suara Sandi terdengar tidak teratur.
 “maaf!! Riska hanya menitipkan dua lembar kertas ini, untuk kamu dan untuk dokter Syifa!”
 Tergopoh-gopoh aku mendekat ke pintu UGD. Wajahku pucat pasi, jantungku deg-deggan, aku tegang dan aku tak kuasa menahan tangisku. Suarag dokter Aria sudah terdengar langsung sampai ketelingaku. Jadi wajar jika aku pun tergopoh ingin mendengar kepastiannya sekali lagi.
 “innalilahi wainna ilaihi rooji’uun” ucabku lirih setelah sekali lagi mendengar kepastian dari dokter Aria kalau Riska sudah tiada lagi. Riska pergi ketempat dimana dia akan merasa nyaman disana.
 “RISKAAAAA!!” Jeritan Sandi mengagetkan aku. Sandi tak kuasa menahan tangisnya itu.
 Akupun begitu, namun aku tak seperti Sandi. Menangisi Riska sehisteris ini. aku bilang ini wajar, Sandi teramat mencintai Riska. Aku menyadari sesuatu, ternyata sekalipun Riska telah tiada, Sandi tetap akan menjadi Sandi yang mencintai Riska. Sekalipun Riska telah tiada. Riska pergi bukan berarti Sandi akan tiba-tiba mencintai aku. “tuhan… Bodohnya aku ini!! bodohnya pikiranku tadi!!teramat tingginya nafsuku memiliki Sandi yang kenyataannya telah termiliki Riska. Maafkan aku Riska, maafkan aku Sandi!!” ucabku lirih terpaku didepan kakunya tubuh Riska.
 “hiks… Jangan tinggalin aku sendiri Ka! Aku butuh kamu!!” Sandi terisak menatap tubuh Riska yang kaku itu.
 Aku menatap Sandi lirih, dokter Ariapun juga bergitu. Aku bingung apa yang semestinya aku lakukan, karna sesungguhnya aku tak patut untuk menenangkah Sandi. Aku takut Sandi punya pikiran kalo aku senang dengan kepergian Riska ini. Akhirnya aku hanya bisa terdiam menatap kaku Riska.
 “kertas putih?” aku mengulangnya lagi dalam hati setelah tanyaku tak dijawab dokter Aria. Perlahan kubuka dengan berjuta tanya dalam hati. “apa ini?”
 Dear… Syifa Anindhya…..
 Haii,, apa kabar kamu?
Aku teramat rindu kamu Syifa, kamu kemana aja? Nomor handphonemu nggak aktif. Apa karna kamu udah diJakarta terus lupa ama aku ya? 
Ehh,, kabar aku baik disini. Ohh iya, Sandi juga baik ni!! Kita rindu banget ama kamu Syifa. Kapan nih kamu main kesini? oohhh iya. Aku mau kasih kamu kabar bahagia ni!! Hubungan aku dan Sandi semakin lama semakin membaik. Aku bahagia banget Fa. Kamu gimana ? disana dapet calon juga nggak?kalopun dapet nggak usah deh! Ama orang Bandung aja. Kayak Sandi, gitu kan? Hehehe…
Syifa… aku mau ngasih kabar baik lagi ni, bentar lagi aku dan Sandi akan menikah. Kita sengaja ngundur-ngundur waktunya. Kita mau mastiin dulu kamu dimana. Nah kalo udah ketemu baru deh kita nikah. Karna aku maunya ada kamu diacara pernikahanku nanti. Dan syukur banget, aku nggak nyangka bisa ketemu ama kamu disini. Yaa walaupun Cuma lewat surat. Coba aja Allah itu ngasih aku kesempatan untuk bisa bertatap muka ya ama kamu. Aku pasti meluk kamu..
Ehh iya Syifa, aku capek banget nulis ini. aku pengennya ketemu langsung ama kamu. Tapi sayangnya ya itu tadi. Allah nggak ngasih aku kesempatan panjang. Heii jaga dirimu baik-baik ya! sekali lagi aku rindu banget ama kamu Fa sumpah deh!! 
Syifa… aku mau minta tolong nih, kamu jagain Sandi dong! Dia sekarang udah tinggal di Jakarta. Enggak tau deh kenapa, tau-tau dia pengen kerja diJakarta. Hmm.. aku curiga ni, jangan-jangan dia mau ketemu ama kamu ni. Kalian janjian ya? cie-cieeeee :D
Ya udah de Fa!! Jagain Sandi ya! aku mau tidur dulu nih ! capek banget, sampe-sampe ngos-ngossan aku nulis ini. Janji ya kamu jagain Sandi! Aku kan udah jauh! Nggak bisa mantau dia lagi nih. Cuma kamu yang bisa. Yahyahyah!! Kitakan sohib. Jadi harus nepatin janji dong!  Sekali lagi aku nitip Sandi yaa!!!

 Aku cinta Sandi, namun aku lebih mencintai perasaan seorang wanita. Sama seperti aku. aku mengerti perasaanmu Syifa. Ambillah Sandi dariku. Karna aku pun tak pernah mampu membahagiakannya lagi. Maaf ya! udah membuat kamu menunggu lama. Jangan pernah kecewain aku, terutama Sandi ya!!

Salam sayang

                                                                                                    Ariska       

 Tertegunku membaca baris pertama dari isi kertas putih ini. bukan hanya kata-kata Riska dalam surat ini, namun memang ketulusan Riska itu membuat aku hampir mengeluarkan deras air mataku. Kertas putih selanjutnya, aku membukanya dengan perlahan. Tertulis indah sebuah nama, bukan untuk aku! aku diam, lalu kututup lagi kertas itu.
 “bacalah! Nanti bisa kamu beritahu Sandi jika keadaannya tepat!” Dokter Aria tersenyum.

 Dear… Sandiku 
dalam malam yang selalu aku anggap kedamaian..
dalam hari yang selalu aku nilai itu penuh keceriaan
dalam sepi yang selalu aku bilang itu warna-warni kehidupan
dalam sedih yang selalu aku katakan itu keindahan
dan dalam rasa yang aku sebut itu cinta...
aku disitu...

terombang-ambing menopang diri dalam kehampaan..
tetes demi tetes butiran air keluar dengan sendirinya
sesekali tangan ini melukiskan tinta hitam dalam kertas yang suci...

sebuah penyiksaan,,
yaahh !! DILEMA....

sebuah rasa yang entah harus aku bilang apa
sebuah perasaan yang tak tau semestinya aku sebut apa
sebuah kerinduan yang tak tau pantaskah aku sembahkan ke kamu
sebuah nama tanpa cinta,
tanpa arti apa-apa dalam dirimu..
cintaku.. yaaaa tiada artinya dalam hatimu....

sebuah kata yang tak tau haruskah aku sebut ke kamu dalam sisa hari kita bersama
ini menyiksa.. yaaahhh
penyiksaan...
entah perasaan apa ini?
begitu indah namun menyakitkan
begitu nyaman namun menyesatkan
begitu segalanya namun segalanya yang salahh..

jiwa yang telah termiliki,
yaa,, itu kamu.. kau telah termiliki
tapi aku senang dekat denganmu?
dan bolehkah aku berharap sesuatu padamu,
aku ingin kau selalu ada untukku,
itusaja.
dan bolekah kau bagi aku sedikit cintamu untuku?
karna perasaan ini sungguh menyiksaku
bahwa aku MENCINTAIMU... Sandi

aku terhenti sejenak, kututup kembali kertas putih ini.. “itu memang tulisan aku, dan memang benar itu untuk Sandi Ka! MAAF” kubuka lagi kertas itu, kulanjutkan membaca dengan sisa air mata yang menempel dipipiku.
Sayang…. Itu adalah kata-kata dari Syifa untuk kamu. Aku menemukannya dalam keadaan kertas yang sudah diremas. Aku yakin itu ulah dari Syifa.. sebelum kita UN aku sudah mengetahui perasaan Syifa ke kamu. Tapi maaf, aku nggak bisa bilang ke kamu. Karna aku mencintaimu dan aku nggak mau membuat kamu membagi perasaan cintamu ke aku dan ke Syifa.
Sayang.. maaf.. ternyata aku hanya bisa nemanin kamu sampai disini saja, maaf aku nggak bisa ngebahagiain kamu. Hanya sebatas ini saja aku bisa bersama kamu. Aku sudah lelah mencoba kuat depan kamu Sayang. Aku lelah menutupi perasaan khawatir ini ke Syifa. Aku wanita, aku tau bagaimana perasaan Syifa… Aku cinta kamu, tapi aku lebih cinta perasaan wanita..
Sayang… perlu kamu tau, dari semua ini kita bisa ngambil kesimpulan baik . Ternyata Tuhan itu adil kan. Tuhan ngasih kesempatan untuk aku ngerasain cinta dari kamu karna hidup aku nggak lama lagi. Walaupun Syifa terseiksa, kelak Syifa juga akan merasakan cintamu. Nih,, saat ini pun Syifa akan merasakan cinta dari kamu. Waaahh, aku kagum dengan kekuasaan Tuhan. Tuhan memang adil. Memberi aku kesempatan bisa merasakan cinta.
Sayang.. makasih banget ya udah jadi kekasih yang baik untuk aku. dalam hatimu yang terdalam… aku bisa baca perasaan kamu ke Syifa kek apa. Aku minta kamu jangan sia-siain Syifa dalam hidup kamu ya! Syifa sayang kamu, dan kamu juga sayang Syifa. Lalu apa lagi yang mau kamu tunggu? Nggak usah mikirin aku! aku udah bahagia kok! Okey!!!
Sayang,, udah dulu ya! jaga diri kamu baik-baik! Aku selalu ingat kamu kok, aku teramat cinta ama kamu. Ohh iya, tolong sampaikan maaf ke Syifa ya, aku udah lancang ngambil kertas itu dan ngebocorinnya ke kamu. Ini semua demi kamu dan Syifa… ILYSM, Sandi ….



Salam Cinta
Riska…

Aku kembali meneteskan air mata, tak kuasa aku menahan bendungan air mata yang sudah cukup berada diujung mataku..”justru aku yang mustinya minta maaf. Makasih ya! atas pengertian kamu” ucabku lirih. “ohh iya Riska, Sandi nangisin kamu mulu nih! Semestinya kamu jangan pernah pergi! Siapa bilang aku nggak sanggup mendem cinta aku ke Sandi? Aku bisa kali! Justru aku ngejauh semua ini demi kamu dan Sandi!” ucabku dalam hati.
“Maafkan aku Riska…” isak tangis Sandi terdengar lagi. Setelah ia terdiam membaca surat dari Riska itu. aku tertunduk lemah tak berdaya.
Sepeninggal Riska pergi, aku nggak pernah memikirkan bagaimana perasaanku lagi ke Sandi. Aku begitu mengerti mengapa Sandi tidak pernah mencoba menghargai waktunya saat bersama denganku. Itu karena Riska teramat ia cintai. Riska pergipun Sandi bahkan dilanda begitu panjangnya kesedihan yang terdalam. Aku tak mengerti ini. Aku tak mengerti keadaan yang tuhan berikan kepada aku. Aku tak mengerti bahkan akupun seperti takut untuk mengerti semua ini. Yang aku sesali, kenapa baru sekaranglah aku bisa sedikit menjaga perasaan ke Sandi. Kenapa setelah Riska pergi? Akupun bertanya-tanya dalam hati, mencari tau semua jawaban dari tanya tak pasti. Semu.. Diam,, tanyaku tak terjawab.
 Aku berjalan tak pasti kemuka lemariku. Kubuka secara perlahan lemari yang telah lama tak aku buka, tak aku sapa isi didalamnya. Lemari kecil disudut kamarku, lemari berisi kenangan lamaku. Yaaaahhhh,, sudah berdebu. Ku jentikkan telunjukku, lalu kuseretkan didasar lemari. Ternyata benar-benar adanya debu. Aku tersenyum simpul, menatapi telunjukku yang tergores debu kenangan. Aku rebahkan tanganku diatas album putih berdebu itu. kelima jariku penuh dengan debu dan benar-benar debu kenangan. Kuangkat album yang tadinya putih bersih itu. kini menajdi kelat oleh butiran debu. Lalu aku tiup kecil atas album itu. bertebaranlah debu kenangan itu. “uhuk-uhuk!” membuat aku terbatuk, lalu tersenyum sebentar. Ternyata sudah sekian lama lemari ini sudah kupaksa kunci dan hari inilah aku membukanya kembali. Membuka kenangan lalu yang telah terkunci rapat bahkan telah tertutup butiran debu penuh.
 Satu persatu kubuka lembar demi lembar album itu. masih asli, tergores keceriaan dan kebahagiaanku dulu sewaktu memakai seragam indah diseumur hidupku. Tersenyumku paksa. Ternyata begitu beruntungnya aku masih dapat merasakan kenangan laluku, meski telah terselimuti debu ini. aku pun merasa bahagia. Saat aku dan Riska berfoto berdua. Yaa ini adalah kali terakhirnya aku berfoto bersamanya. Untuk selanjutnya aku hanya bisa menatap Riska dan Sandi dari kejauhan berfoto ria. Setelah lembar terakhir aku buka. aku tatapi foto itu. foto aku dan Sandi, untuk kali terakhirnya kami berfoto berdua. Pas perpisahan dan tepat dihari itu juga, memakai baju itu aku jujur mengatakan kalo aku menyukai Sandi. Aku tertawa geli. Aku terpaku sejenak. Lalu fikirku melayang dengan santainya. Begitu lucunya aku, mencintai teman dekatku sendiri sampai saat ini. Riska kini telah tiada, namun bukan berarti aku leluasa untuk merebut cinta Sandi dari Riska. Namun aku akan mencoba mencarikan cinta baru untuk Sandi. Meski sebenarnya aku tau aku takkan pernah bisa mencarikannya itu. meski kenyataannya untuk bangkit berdiri menatap tegar Sandipun mungkin aku belum sanggup. Aku masih lemah. Namun aku yakin, dengan usaha dan demi Riska aku pasti bisa. Yaaahhh!! Aku akan lebih bisa melupakan Sandi, karna aku mempunyai kehidupan sendiri disini!!
 “dek” suara mama memecah lamunanku.
 “iy-iy-yaa ma?” aku memalingkan wajahku kearah mama.
 “ada orang didepan, nyariin kamu! Keluar gih!”
Langkah ku terhenti setelah aku lihat orang yang ada dihadapanku ini adalah.. “sandi?” aku mengerutkan kening.
Sandi tersenyum manis sekali. “ternyata Dunia itu sempit ya! buktinya kita bisa ketemu lagi!”
Aku Cuma menjawab dengan senyuman.
“kamu bersedia nemenin aku ?”
“ke?”
“makam Riska!”
Aku tersentak diam. Rasanya seperti ada yang menarikku untuk ikut kesana.

“satu hal yang selalu ngebuat aku inget dengan Riska, yaitu kamu. Dan satu lah yang selalu ngebuat aku inget dengan kamu, yaitu Riska”. Ucab Sandi setelah sampai didepan makam Riska.
Aku terdiam menatap Sandi dalam. Seketika gugup datang, aku melayangkan tatapanku kesegala arah disekitarku. “jangan pernah samakan aku dengan Riska! Karna sesungguhnya kami sangat berbeda!” ucabku tegas.
“sama. Sama-sama bahagiaku. kamu ingat dengan pesan-pesan terakhirku dulu?”
Aku diam lagi nggak ngejawab.
“aku bilang aku menunggu kamu kembali kesini, ke Bandung. Lama aku menunggu kamu, tapi ternyata penantianku itu sia-sia. Kau tak pernah kembali!”
“…..”
“disaat itulah aku sangat tau bagaimana rasanya menunggu, lelah”
Aku masih saja mengunci mulutku untuk tidak bicara sedikitpun.
“kamu masih ingat bahwa dulu ada satu hal yang ingin aku katakan ke kamu?”
“…..”
“aku tau kamu nggak bakal ingat itu, kamu udah terlalu lelah mengenal aku…”
Aku menghela nafas panjang. “lalu kamu fikirkan sekarang! Bagaimana bisa semudah itu aku lupa dengan kamu! Dengan kehidupanku dulu bersama kamu. Dengan semua perngorbananku menunggu kamu. Bagaimana bisa, San!” aku mulai membuka mulut.
“lalu kanapa kamu menghilang begitu saja?”
“segenap rasa ini begitu menyiksa aku San. Aku nggak tau harus bagaimana caranya lagi agar aku tetap bertahan dalam kondisi yang sulit untuk aku pertahankan. Yaitu mencintai kamu, menunggu kamu. Sulit! Aku pikir dengan jaraknya yang membentang antara kita akan sangat mudah membuat aku lupa akan kamu, tapi sayangnya bayanganmu itu selalu hadir dalam hariku. Aku pikir dengan caraku menghilang begitu saja akan sangat cepat membantu proses melupakan kamu, namun ternyata itu malah membuat keadaan semakin sulit. Barulah saat ini aku menyadari, semua yang aku lakukan ini sia-sia”.
Sandi terdiam sejenak, dia menatapku dalam. “lalu kenapa tidak kamu tanyakan kepastiannya kepadaku?”
“kepastian ? kepastian apa?” aku mengerutkan kening. “kamu sadar nggak? Kamu sedikitpun nggak pernah menyukai aku. Dan-dan bagaimana bisa aku menanyakan kepastian sedangkan kenyataanya kamu menjalin hubungan dengan Riska! Lebih baik aku menyingkir!”
“bukankah dalam tulisanmu dulu kamu bertanya ‘bolehkah kamu bagi sedikit aku cintamu untukku?’ bukankah itu keinginanmu? Jikalau aku tau itu keinginanmu, akan aku penuhi segera!”
PLAK!!!! Tanganku melayang kepipi kanan Sandi. “kamu tau, itu tulisan bodoh! Tulisan yang hanya dipenuhi dengan nafsu ingin memiliki kamu! Kamu sadar nggak? Secara perlahan kamu ngancurin perasaan Riska dan dalam hal ini aku juga akan terlibat ngancurin perasaan Riska. Kamu sadar nggak, kamu akan menyakiti 2 perasaan wanita sekaligus!” nada suaraku meninggi.
Sandi memegang pipinya itu. “kamu nggak pernah peka dengan aku sebelumnya!”
 “Sudahlah San! Kita telah berlalu! Kita udah jauh beda, kita udah dewasa. Baiknya kita jalanin kehidupan kita sendiri-sendiri! Aku pikir ini adalah keputusan yang bijak!”
 Hening….
 “aku harus pulang! Ini jamnya aku harus kerja!” aku melangkah menjauhi makam Riska. “Riska aku pamit ya! maafkan aku!”
 “aku menyukaimu lebih dulu dibanding Riska”
 Langkahku terhenti.
 “itu yang ingin aku katakan langsung ke kamu! Nyaliku mudah ciut saat itu”.
 Aku menoleh keSandi.
 “aku menyukaimu lebih dulu dibanding Riska”. Ulangnya. “saat aku ingin menyatakannya padamu, terdengar kabar kamu menyukai Imam. Dengan segala cara aku pun melupakan kamu, hingga hadirlah Riska dalam hidupku”.
 Aku diam.. “Imam? Dia nggak berarti apa-apa. Kamu tau? dia hanyalah pelampiasan rasaku untuk kamu. Namun setelah aku coba? perasaanku ke kamu begitu besar San! Nggak mampu dikalahkan semua cara yang udah aku perbuat”.
 “hee…” Sandi tersenyum sinis. “ternyata keadaan yang salah mengartikan semuanya! Ternyata kita salah mengartikan semuanya”.
 “sudahlah! Kita sudah berlalu San! Kita jalani hidup kita dengan sendirinya! Sekali lagi aku lelah berurusan dengan kamu!” ucabku sambil lalu.
 “tunggu!!” Sandi menarik tanganku. “kamu ingat dengan surat Riska ke kamu? Riska minta kamu ngejagain aku. Maksudnya Riska minta kamu untuk ngegantiin Riska! Kamu ngertikan?”
 Aku masih membelakangi Sandi.“nggak!! Aku nggak ngerti itu! aku nggak mau ngerti semuanya itu. Bagiku cukup menjagamu dengan menjadi teman seperti dulu saja! cukup!!”
 “tapi aku nggak mau itu!”
 “tolonglah!” aku menarik nafas sebentar. “aku minta kamu berhenti untuk maksain kehendakmu ke aku! Dan…. Sudahlah! Kita udah berlalu” aku melepas genggaman tangan Sandi!”
 “Syifa…..” suara Sandi tiba-tiba meninggi.  “aku tau kamu sangat mencintai aku! aku mohon jangan munafik! Kenapa disaat-saat aku ingin menghapus kesalahanku padamu, disaat-sat aku ingin mengulang kebersamaan bersamamu, kamu malah ingin menjauh dariku? Bukankah kamu sudah tau aku juga menyukaimu!”
 “kamu tau betapa sakitnya aku? kamu tau betapa tersiksanya aku ? dan kamu tau betapa tersinggungnya aku? setelah akhirnya Riska udah nggak ada kamu malah ke aku! kenapa tidak dari dulu saja?” aku terhenti sejenak “kamu lelaki atau bukan?” suaraku juga meninggi.
 “oke maaf!!!” teriak Sandi. “Syifa… Adakah kamu perasaan menghargai Riska? Adakah kamu mengerti bagaimana keadaan Riska saat itu? aku nggak akan mungkin melepaskan Riska dalam keadaan sakit! Dan kamu tau bagaimana perasaanku ke Riska? Saat itu sangat besar!”
 Aku terdiam sebentar. “bahkan caraku menghargai Riska pun nggak kamu ketahui” ucabku dalam hati.
 “Riska hanya minta waktu sebentar bersamaku. Apakah itu salah Fa? Sebelum akhirnya dia tidak akan pernah menginjakkan bumi, menghembuskan nafasnya lagi, memilikiku lagi dan menatapmu lagi.”
 “lalu bagaimana jika Riska sama sekali nggak sakit? Apa kamu tetap akan bersamanya?” tanyaku lirih meneteskan air mata.
 Sandi diam, mungkin disinilah dia bingung menentukan. Sandi menghela nafas. “Riska. Karna aku sudah terlanjur mencintai dia. Tapi aku nggak pernah bisa bohong, aku juga ingin bersamamu!”
 “Oke! Cuma itu yang aku butuhkan, jawaban yang sesungguhnya! Terima kasih! Aku tau satu hal yang tak pernah aku duga kamu juga memilikinya. Kamu sama!”
 “kenyataanya sudah beda kan Fa? Riskapun sudah merestui kita! Dan apa lagi yang kamu tunggu?”
 Aku diam lagi. “aku nungguin kamu, nungguin bayanganmu pergi dari hari-hariku! Itu saja!”
 “sekalipun aku berlutut didepan kamu mungkin nggak akan bisa ngebuat kamu memaafkan aku dan juga Riska!” ucab Sandi sambil berlalu.
 Aku tertunduk diam. Tiba-tiba saja aku menjadi lemas dan menjatuhkan badanku tepat didepan makam Riska. Berjuta tanya merasuk dalam fikirku. Rasanya ingin aku menanyakannya langsung kepada Risda. Namun jika keadaaanya seperti ini, siapa yang akan menjawab tanyaku ini? “Riska maafkan aku!!” aku terisak menatap makam Riska. Benar Riska nggak ngejawabnya.
 Lama aku tertunduk menangis. Lalu mataku seperti melihat sesosok didepan ku, didepan makam Riska juga.
 “aku yang seharusnya berada disini bukan kamu!” ternyata itu Sandi.
 Aku diam mendongak menghapus sisa-sisa air mataku dipipi.
 “pergilah! Bukankah kamu ingin menjalani hari-harimu tanpa aku? bukankah kamu marah padaku dan Riska?tempatmu bukan disini! Banyak orang yang ngebutuhin kamu disana!”
 Aku berdiri menatap Sandi tajam. “sedikitpun aku nggak pernah marah ke kamu. Apalagi ke Riska!”
 “ya! sudahlah!! Pergilah sekarang!!”
 Aku tertunduk lemah, meneteskan air mataku. Ternyata Sandi sudah mudah menyerah. Fikirku melayang-layang. Sesekali Riska ada difikirku sekarang. Riska seolah memaksa aku untuk tetap bertahan mencintai Sandi. Namun naluriku sudah teramat lelah, aku lelah selalu berurusan dengan perasaan yang tak pasti. Aku takut kelak Sandi nggak akan bisa ngebahagiain aku seperti halnya dia ngebahagiain Riska. Air mataku menetes lagi, aku menatap Sandi dalam-dalam. Setelah akhirnya aku berlalu.
 “makam Riska menjadi saksi, bahwa aku mencintaimu Syifa Anindhya” Sandi tertunduk.
 Mendengar itu semua, terhenti langkahku. Aku nggak sanggup lagi menahan ini. ini begitu menggebu-gebu dalam hatiku. Aku sudah lelah tetap menahan perasaan ini, sampai akhirnya sebagaimanapun aku meencoba menahan aku tetap tidak bisa. Perasaan ini begitu menggebu-gebu.
“aku benci kamu Sandi! Aku benci kamu tapi rasaku begitu besar. Rasaku cintaku begitu besar ke kamu! Sekalipun aku mencoba bohong, tapi ternyata nggak bisa Sandi! Rasaku tetap ke kamu!”  aku berbalik badan kearah Sandi.
Aku menatap Sandi dalam, berhadap langsung ke Sandi. Menatapnya lagi setelah sekian lama mataku tak menatap Sandi lagi. Bertahun-tahun aku menunggu tatapan ini. mataku berlinang, tak kuasa.
“terlalu lama aku menahan rasaku untuk meluk kamu” mataku tak kuasa menahan butiran air mata ini.
 Sandi tidak melakukan balasan. Sandi hanya diam terpaku menyusuri pandangnya kesekeliling makam ini. “aku nggak tau, harus aku apakan diriku ini! telah abaikan kamu dulu!”
 “harusnya kamu tanamkan lebih banyak lagi benih-benih cinta dihatimu teruntuk aku dan hanya untuk aku!” aku tersenyum.
 “maaf lama membuat kamu menunggu”.
 Hari itu menjadi penutup akhir cerita aku dan Sandi, cintaku terhadap Sandi, dan penyiksaan terhadap perasaan ini. Bayangan Sandi yang selalu saja berhasil mengisi hari-hariku, ternyata bukan akan menjadi bayangan semu. Bayangan semu ini adalah awal dari bayangan nyata akan diri Sandi. Aku memang tak pernah benar-benar melupakan Sandi, karna memang rasaku tak pernah bisa sanggup menghapus perasaan terindah yang pernah aku rasakan. Yaitu mencintai Sandi.
 Malam menyambutku dengan cerahnya. Bintang-bintang bertaburan melukiskan keindahan malam. Semerbak kesejukkan merasuk jauh dalam diriku. Aku tersenyum menatap ruang luar angkasa ini. Kutetapkan pandangku pada satu bintang disana. Teramat terang dari bintang-bintang yang lainnya. Senyumku melayang. Kukirimkan lewat angin yang mengibas helaian rambutku. Kukirimkan kerinduan yang begitu dalam, aku lantunkan ucapan terima kasihku untuk bintang paling terang disana. Riska, aku yakin itu Riska.
 “Makasih Riska. Kamu izinkan aku untuk bersama Sandi!” ucabku tersenyum. “dan maaf aku telah mencintai Sandi dibelakangmu!”
 Hening… Desah nafasku yang aku rasakan. Sunyi, nggak ada balasan. Aku pun teringat Riska nggak akan menjawab ucapanku tadi. Sekalipun aku menunggu dan menunggu. Riska telah ada disebuah alam yang dia akan kekal disana. Bersama kehidupan baru dan kebahagian baru.
 “Tuhan.. engkau memang adil. Memberikan kesempatan untuk Riska merasakan cinta Sandi. Setelah akhirnya engkau mengambilnya. Dan aku, kau berikan kesempatan untuk merasakan cinta Sandi setelah Riska. Makasih atas itu”
 Dalam detik jam yang terus akan berlalu. Aku menghitungnya, hingga mentari datang menjemput kebahagiaan kekalku. Esok, tiada lagi perasaan tak pasti, perasaan semu, penantian lama, dan penyiksaan batin. Semua yang aku kira adalah dosa yang begitu indah. Namun sekarang aku baru mengetahui semuanya, bahkan aku merasakan sendiri bagaimana dosa ini mengalun dalam hari-hariku. Saat ini, dosa yang sudah aku perbuat memanglah indah. Hingga akhirnya aku dapat memiliki Sandi setelah penantian panjangku.
 “Riska.. Aku dan Sandi akan menikah besok!” ucabku tersenyum sambil lalu masuk kekamarku.
0

Dosa ini begitu indah part 1

Dosa Ini Begitu Indah



 “poto bedua dong! Kenang-kenangan nih!!” ucab Sandi dengan keceriaannya merayakan kebahagiaan melepas seragam SMA.

 Dengan polos aku berfose poto ama Sandi bedua. Teramat dempet sekali. KRIK!!! Aku dan Sandi tersadar kalo posisi kami teramat dekat. Dengan senyum polos aku menatap Sandi. Sandi pun begitu. Kami berdua bertabrak pandang..

 “oouppss sori!” aku melangkah mundur.

 “nggak papa Fa! Ohh iya kita gabung kesana yuk!” Sandi memegang tanganku. Aku dengan pasrah mengikuti langkahnya menuju kerumunan ramai siswa-siswa yang lain.

 Diam, aku menatap Sandi dalam, sepertinya inilah saatnya. Saatnya aku menyatakan sesuatu yang semestinya tak perlu aku ungkapkan. Sesuatu yang semestinya aku biarkan saja menggumpal menjadi hiasan dalam hatiku. Sesuatu yang seharusnya aku pendam lebih lama lagi dari sebelumnya. Sesuatu yang memang  benar ini perasaan yang salah yang harus aku tahan lama lagi hingga waktunya tiba, hingga waktu tak tahan lagi menunggu aku mengucapkannya. Tapi ini sudah terlalu lama, cukup lama dan aku pun tidak tertahan lagi menahannya lagi-lagi dan lagi. Karna aku tau ini begitu menyakitkan. Berkali-kali aku harus tersiksa dengan perasaan yang menggantung ini, perasaan yang aku pun tak tau pasti apa ini. Aku tertunduk sebentar, menahan-nahan menunggu dan menunggu hingga Sandi menyatakan sesuatu dipenghujung SMA ini. Tapi hingga sekarang pun Sandi tak menyatakan itu. Selalu aku membiasakan hatiku berprasangka baik terhadap Sandi. Selalu pula aku menegaskan dengan diriku sendiri kalo Sandi juga menyukaiku. Namun itu salah besar, sepertinya Sandi tidak menyukaiku sama sekali.

 “Sandi!!” aku balas menarik tangan Sandi pelan. Dengan terpaksa aku harus mengatakannya sekarang juga! Setelah aku mengatakannya terserah dengan Sandi ingin berbuat apa dengan perasaanku ini. Karna memang aku tersiksa dengan perasaan yang menggumpal penuh ini.

 “ya?”  Sandi menghentikan langkahnya.

 Aku menghela nafas panjang. Sorot mataku pun melayang-layang kekiri kanan dan keatas bawah. Aku berpikir sejenak. Lalu aku tertunduk. “ini terakhirnya kita bisa ketemu!” karna memang aku kuliah diluar kota dan kedua orangtuaku pun ikut aku pindah kesana.

 “oohh iya ya! Kalo gitu kita puas-puassin poto dong!” ucab Sandi sama sekali tidak mengerti ucapanku itu. Jujur aku sengaja mancing Sandi biar Sandi nyatain sesuatu sebelum tiba saatnya aku harus kembali ke kota asalku.

 Aku senyum terpaksa. “maksud aku….. Kamu nggak mau ngelakuin sesuatu gitu? Atau ngomong apa kek buat terakhir kaliny!” terdengar suaraku tidak beraturan lagi.

 “hmmmm… Apa ya?”

 “……”

 “ohh iya ada!” Sandi diam sebentar. “aku pasti bakallan kangen banget ama kamu! Jangan lupa ya ama aku!!” lanjutnya dengan senyum manis.

 Rasa tegang dalam hatiku pun hilang, sirna. Sekarang aku menyadari kalo Sandi memang tidak merasakan sesuatu sedikitpun dengan aku. Sandi tidak menyukaiku. Segenap tenaga aku luapkan, aku menjerit pean dalam hati “SANDI TIDAK SUKA KAMU SYIFA!!”

 Sesegera mungkin aku melepas tangan Sandi, dan melepas genggaman Sandi. Aku menatap sekelilingku mencoba mencari celah biar raut wajahku yang penuh kecewa ini tak terbaca oleh Sandi.

 Sandi menatapku heran. “kamu nggak ngejawab nih! Apa artinya kamu bakal lupa ama kita semua disini Fa? Jangan dong!” raut wajah Sandi penuh tanya.

 “eeehhmmm” sesekali aku senyum kepaksa ama Sandi. “yaa.. Enggak mungkinlah!”

 “ya uda deh! Yuk kita gabung kesana!” ajak Sandi lagi, karna memang kami berdua keliling-keliling kelas dan itu jauh dari kerumunan siswa yang lain.

 Tak tertahan lagi.. Perasaan ini sudah tak bisa aku tahan lagi. Aku lelah menahan-nahan dan menunggu-nunggu perasaan ini. Lalu apa arti dari semuanya ini San? Aku tak mengerti, kau seolah menyukaiku tapi kenapa? Kenapa malah kau sama sekali tidak menyukaiku? Batinku memaksa mengatakan sesuatu sekarang dan ini nggak boleh ditunda lagi. Ini sudah lama menggumpal jauh dari sebelum aku dekat dengan Sandi. Lama sebelum Sandi mengenalku. Dan ini saatnya aku mengatakannya. Perasaan ini pun sudah lelah bercampur dalam hariku, bercampur dengan prasangka-prasangka buruk akan Sandi. Aku lelahh!! Aku ingin mengatakannya sekarang juga! Dengan segenap keberanian yang sudah aku pupuk dari lama-lama, aku berucap pelan..

 “dari dulu,, aku nungguin kamu bilang suka ke aku San!” ucab aku pelan menatap Sandi.

 Langkah Sandi terhenti dan menoleh kebelakang, kearah aku tegak diam menatapnya dari belakang. Aku tertunduk, Sandi mendekat ketempat aku tertegak mematung.

 “Syifa? Ngomong apa kamu?”nada suara Sandi meninggi.

 “sudah lama semestinya aku berkata ini! tapi nyaliku cukup kecil untuk menyatakannya! Aku selalu nunggu kamu!”

 “Fa… Ngomong apa kamu?” Sandi sepertinya tidak mengerti.

 “aku hargai, perasaanmu sebatas teman dengan aku. Tapi aku minta kamu juga hargai perasaanku yang lebih dari sebatas teman!!” ucabku tertunduk kaku.

 “tapi Fa…..”

 “sekali lagi, aku menyukaimu Sandi Putra Adilla!” ucabku pelan lagi namun sama sekali aku tak berani menatap mata Sandi. “maaf!”

 “Sayang!!” Tiba-tiba Ariska pacar Sandi datang dari belakangku. Mataku tak mampu untuk menahan tatapan kearahnya. Riska merangkul lengan Sandi. Aku sama sekali tidak menyukai tindakan Riska itu. Karna semestinya akulah yang berada diposisinya, akulah yang sepantasnya merangkul lengan Sandi. Diam… Hening….. Sunyi…. Selalu saja perasaan ini mampu ngalahin kenyataan, kenyataannya Sandi ada yang memiliki.

 Lagi-lagi aku diam, Sandi pun diam menatapku dalam, Riska pun begitu. Tak mampu lagi aku melanjutkan kata-kata busuk dariku, kata-kata yang sangat dosa jika aku meneruskannya lagi. Yang sangat salah jika aku membiarkan dan memanjakan hati ini terus berada dalam cinta yang salah, yang sesat. Cinta yang semestinya tak pernah ada dan tak perlu ada antara aku dan Sandi. Riska baik, ramah dan perhatian. Dia lebih dari aku. Wajar kalau Sandi milih dia. Bukan masalah perbedaan tapi cinta… Aku sadar, nggak ada yang bisa nyalahin perasaan. Begitupun aku, aku nggak sewajarnya menyalahin perasaan Sandi yang teramat besar ke Riska. Begitupun Sandi dan Riska, mereka nggak patut nyalahin perasaanku ke Sandi. Karna memang CINTA itu milik semua orang dan nggak ada yang bisa ngelarangnya.

 Riska tersenyum. “sayang, kesana yuk!” ajak Riska manja. “ohh iya Fa! Kesana juga yuk! Kita poto bareng, kamu kan mau keluar kota! Yuk!!”ajaknya lagi ke aku.

 Aku termenung mendengar ajakan ramah Riska. Riska nggak pernah curiga ataupun cemburu sedikitpun dengan cewek yang lagi bedua ama Sandi. Bukannya nggak sayang atau apa, tapi memang Riska pengertian.  Dan selalu menganggap semua teman Sandi adalah bagian dari diri Sandi.

 “ahh nggak usah deh Ka!” aku menatap Sandi dalam-dalam sekali. Butiran air mataku sudah menggumpal penuh di kelopak mataku. Sudah tak tertahankan lagi rasanya. Aku menunduk menahan air mata ini yang aku sangat yakin akan menetes didepan Sandi dan Riska. Aku berbalik badan, menghapus air mataku yang secepat itu sudah menetes dipipiku. “aku musti balik cepat, sore ini aku musti berangkat keluar kota! Semoga langgeng ya hubungan kalian!” air mataku menetes lagi, aku melangkah pelan. Berharap Sandi menghampiriku dan memeluk aku, sekali saja.

 “wahh,, calon buk dokter UI. Selamat kuliah disana ya! Makasih ni atas doanya!” ucab Riska ramah sekali.

 Aku hanya diam mendengar ucapan Riska itu. bibirku pun dengan kepaksa tersenyum kecil. Tapi aku masih menunggu dan berharap Sandi melepas rangkulan Riska lalu menghampiriku, memeluk aku hanya sekali ini saja. Sekali ini dan untuk terakhir kalinya.

 “Ta.. Tapi Fa!!”

 “sayang, kalo mau ngampirin Syifa ya udah gih!! ntar sore dia mau pergi! Ini terakhir kali kamu bisa ketemu ama dia. Secara temen deket kamu, gitu!!” Riska memberi kebebasan ke Sandi, karna emang Sandi itu adalah temen deket aku.

 “aku cinta kamu sayang!” ucab Sandi menatap Riska.

 Aku mendengar itu, sungguh aku terbuai dalam kebaikan Riska. Nggak mungkin aku membalas kebaikan Riska itu dengan menusuknya dari belakang! Nggak! Alangkah jahatnya aku kalo aku sampe bersikap gitu dengan Riska. Akupun mempercepat langkahku kearah gerbang sekolah. Dengan susah payah aku menjauh dari Sandi dan Riska. Karna niat baik Riska lah yang membuat aku sadar, Sandi nggak mungkin suka dan membalas suka ke aku! Karna Riska lebih dari segala-galanya . aku melepas sepatu hak, aku berlari sekuatnya menuju taksi yang sudah banyak berjejer didepan gerbang.

 “Syifa!!!” teriak Sandi.

 Aku tetap berlari, karna aku nggak mau perasaan ini semakin menggebu ke Sandi. Aku takut dosa atas perasaan ini, aku takut Riska marah kalo dia tau ini.

 “SANDI” jerit seseorang lagi… “Riska pingsan sembari kamu berlari !!!”

 Sandi terhenti, aku pun juga ikut terhenti. Namun aku nggak berani menoleh kebelakang. Aku ngerasa bersalah atas ini. Aku dosa, dosa besar udah narik Sandi buat ngejar aku. Namun apa daya, semua udah terjadi. Aku sempat khawatir dengan teriakan dari orang itu. Aku khawatir dengan Riska, ada apa dengan Riska. Aku pun hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Bertanya-tanya yang entah siapa yang akan menjawabnya ini.

 “Sori Riska…” ucabku merasa bersalah, tetap dalam tegak diam ku.

 “Tuhan….. Sadarkan Riska dari pingsannya itu! sembuhkan ia jika ia ada penyakit!”  aku melanjutkan langkah ku lagi. Namun kali ini aku tak pernah berharap lagi Sandi akan mengejar ku, karna aku yakin dia sudah jauh dibelakang sana melihat Riska dengan tampang yang begitu khawatir. Aku pun sama sekali nggak bisa ngelarang Sandi untuk melakukan hal yang benar. Yaitu lebih mementingkan Riska dibanding aku.

 Sorepun telah datang. Aku sudah sangat siap dengan ini semua. Dengan kenyataan bahwa aku hanya bisa berharap dan berharap. Dan aku pun tidak akan menyalahkan siapapun begitupun perasaan, aku nggak akan pernah menyalahkan perasaan ini. Hanya waktulah yang salah, mempertemukan aku dan Sandi di saat yang sangat tidak tepat. Aku tersenyum mendengar ucapan tegasku itu. Dengan semangat aku mencoba membuka lembaran baru, dengan semangat aku siap berkata jika aku punya dunia baru, dunia baru di Jakarta yang sudah menunggu aku. Tanpa Sandi juga tanpa Riska, dan satu lagi, tanpa cinta yang keliru, tanpa perasaan yang menggumpal.

 “Dek!! Udah siap kan? Yok kita berangkat!” panggil mama dari bawah.

 Aku tersenyum. Namun tak lama, aku kembali lagi meneteskan air mata. Aku kembali lagi harus sadar kalo aku harus segera ninggalin semua kenangan disini. Sandi, aku harus ninggalin dia. Meskipun aku tau Sandi merasa sangat biasa-biasa saja atas kepergianku ini.  “tuhan tolonglah aku! Buang perasaan ini. Ini cinta yang salah, ini cinta yang penuh dengan dosa. Aku mohon!! Bantu aku lupa dengan perasaann yang sesat ini!” ucabku dalam hati. Lagi-lagi mata ini tak sanggup menahan butiran air mata yang memang sudah tidak bisa aku bending lagi.

 “Syifa!! Ayo nak!! Ntar kita ketinggalan pesawat!” panggil mama lagi.

 Suara mama membuat aku terpaksa melakukan gerak kaget dan menghusap air mataku. “ahh iya ma!” jawabku segera bangkit dari diamku. Dari tangisku yang takkan mungkin bisa mengubah semua seperti semula. Aku beranjak mempercepat langkahku turun kebawah. Mencari-cari kesibukkan agar sejenak lupa dengan apa yang sudah aku pikirkan sedari tadi. Aku mengecek semua bawang-barang penting dan menjadi bagian dari hari-hariku. Tak lupa aku mengecek berulang kali foto yang akan segera kusam. Foto aku dan Sandi saat kami lagi belajar kelompok dirumahku. Foto yang nantinya hanya akan menjadi kenangan dan hanya kenangan.  LENGKAP sudah!!

 Dalam perjalanann menuju bandara. Mataku tak henti-hentinya melirik handphone yang tergeletak tak bersuara. Aku menunggu dan menunggu saatnya tiba. Aku menunggu Sandi sms. Atau bahkan aku masih berharap Sandi ada dibandara itu sekedar mengucap selamat tinggal. Lama mataku melirik, tak ada tanda-tanda Sandi sms. Namun aku masih ada satu harapan lagi. Aku berharap Sandi ada dipintu masuk bandara. Yaa itu harapan aku terakhir kalinya. Dengan langkah gontai aku mendekat ke pintu masuk bandara. Dengan perasaan deg-deggan aku menoleh ke kiri dan kanan. Mencari-cari celah akan bertatap pandang dengan Sandi lagi. Mencari-cari celah dimana aku bisa melihat Sandi untuk terakhir kalinya. Karna aku pun tak pernah tau kapan aku bisa bertemu dengan dia lagi. Melainkan memang tuhan mengizinkan kami bertemu lagi dilain waktu. KOSONG!! Aku nggak menemukan Sandi sama sekali. Mataku tetap menatap setiap sudut didepan bandara itu tapi hasilnya nihil. Aku nggak nemuin Sandi sama sekali. Tertunduk aku diam. “ahh sudahlahh ! memang Sandi nggak akan datang kesini!!” ucabku murung.

 “dek! Kita harus segera masuk kedalam! Nggak ada yang mau kamu tunggu kan?” ucab papa ramah sekali.

 Aku semakin termenung! Hatiku berkata beda-beda. Masih sempatnya aku beprasangka baik dengan Sandi. Masih berbaik hati aku member dia toleransi. Mungkin saja dia sebentar lagi datang! “ma, pa! Syifa masih nunggu temen! Bentar aja pa, nggak papa kan?” pintaku dengan tampang memelas.

 Papa dan mama hanya mengangguk.

 Aku berjalan gontai menyusuri pintu awal bandara yang cukup luas ini. Mataku tak henti-hentinya menyusuri setiap sudut bandara. Mencari-cari sosok yang selalu aku nanti hadirnya. Menanti sosok yang hanya terkhir kalinya saja aku ingin melihatnya. Sekali ini saja, hanya terakhir ini saja. Aku ingin memeluknya. “Tuhan… Dosakah aku? Salahkan aku?” Cepat-cepat aku membuang perasaan jelek ini. cepat-cepat aku kembali konsentrasi mencari-cari sosok yang sudah teramat aku mengenalnya. Sudah kenal akan bau harumnya, sudah sangat hafal dengan hembusan nafasnya. Huhh,, begitu dalamnya aku mengenal sosok itu. Namun, sangat disayangkan. Dia sama sekali tidak mengenal aku sedalam itu. Konsentrasiku buyar seketika, saat aku menyusuri semua pandangku namun kosong. Diujung mataku memandang namun hampa. Aku tak melihat sosoknya lagi. Apa mungkin aku bisu akan semuanya tentang dirinya. Apa iya aku mati rasa dengan kehadirannya disini? Ahhh benarkah aku sudah mati terhadap dirinya? Benarkan karna perasaan yang mencampur ini aku menjadi tidak mengenal dirinya sama sekali. Bahkan sosoknya pun tidak aku lihat disini, bau harumnya pun tidak aku cium semerbaknya. Yaaa aku benar-benar bisu akan dirinya, aku mati rasa akan kehadirannya.

 Suara handphoneku tiba-tiba bunyi. Dengan semangat aku lagi-lagi berprasangka baik. Sandi yang menelpon aku. Dengan semangat aku rogoh kantung celana jinsku. Mataku berbinar-binar menatap layar handphoneku. ‘Mom memanggil’ dengan tampang melesu aku mengabaikan telpon mama. Karna aku pun sudah tau, mama menyuruhku untuk segera datang menemuinya. Dengan langah gontai aku berjalan menuju tempat mama dan papa berdiri. Dalam perjalanan kesana, lagi-lagi handphone ku bunyi, tanpa aku lihat lagi aku sudah sangat yakin kalo itu mama yang nelpon. Dengan cepat aku melangkah kepintu bandara masang tampang cemberut. Sandi nggak datang!

 Sesampainya didalam pesawat. Dengan tampang muak dan kesal aku menyerahkan handphone ke mama. “Mama aja yang pegang handphone Syifa ya!”

 “dek, ada panggilan tak terjawab nih!” mama menyerahkan handphoneku.

 “iya udah tau ma! Langsung matiin aja deh ma!”



 Aku terdiam lagi. Menatap kedepan dengan tatapan kosong. Hampa… Sepi yang ada. Aku merasa sangat asing dengan tempat ini, Jakarta. Aku asing dengan kota ini. aku tidak mengenalnya sama sekali. Jiwaku begitu dekat dengan Bandung. Aku begitu cinta Bandung dan suasananya disana. Aku merasa sangat dekat dengan semuanya di Bandung. Sedangkan disini, apa yang aku kenal? Apa yang aku ketahui? Apa yang dekat dengan aku? Huh.. Hanya bangunan tinggi yang aku kenal, hanya bangunan penuh dengan kemunafikkan yang aku tahu, dan hanya sepi yang dekat denganku sekarang ini. Aku sudah mati rasa akan kota dan suasana disini. Aku nggak akan bisa hidup disini! Perasaan ini begitu menyatu dalam hatiku, dan ini nggak akan pernah bisa aku pisahkan.

 “dek..” suara mama memecah lamunan kecilku disudut jendela kamar baruku. “kamu beresin semuanya ya! udah gitu kita makan keluar!”

 Aku nggak menjawab. Aku hanya memalingkan muka kearah mama dan menunduk lesu.

 “ohh iya!” sepeninggal mama akan beranjak keluar dari kamarku. “ini handphone kamu!”

 Aku terdiam menatap mama kosong. Pikiranku melayang-layang, aku terpikir Sandi lagi. “Mungkinkah panggilan tak terjawab tadi adalah Sandi? Mungkinkah ia? Tapi… Sudahlah!! Jangan pernah berprasangka baik lagi dengan keadaan yang selalu aku tujukan ke Sandi!! Seharusnya perasaan ini telah mati, bersamaan pula dengan matinya sikap baik Sandi ke aku!! Yaaa!!” ucabku dalam hati.

 “heii !! ini!!!” mama menyerahkan handphone ketanganku. Mama menatapku dengan teramat heran. Dengan sikap yang sebentar-bentar melamun.

 Rasaku tak mampu menahan ini, sedemikian mungkin aku menahan prasangka baik ini tapi semakin aku ingin tau yang sebenarnya. Aku semakin ingin tau apa jawaban dari tanya kecilku dalam hati tadi. Aku nggak sabar ingin melihat handphoneku, perasaan menggebu hadir lagi. Dengan buru-buru aku langsung mengaktifkan handphoneku ini. Dan LAMA!!

 “ma, siapa panggilan tak terjawab tadi?” perasaan penasaran itu semakin menggebu.

 “kalo nggak salah….” Mama berhenti sebentar sambil mengkerutkan keningnya. Aku berdebar, disini aku mulai lagi berharap kalo emang Sandilah orangnya. “Sandi deh!” ucab mama sambil lalu.

 Sontak mataku menatap mama tajam. Dengan cepat aku membuka handphoneku, dan ternyata benar. Sandi tadi nelpon aku. Tuhann!!!! Aku terduduk lemas, aku ternyata bodoh. Saat aku pikir itu mama yang nelpon ternyata itu adalah Sandi. Itu bukan mama. Bodohnya aku!!

 5 pesan diterima

 From  :  Sandi

 To  :  Syifa

 “hati-hati Syifaku! Aku yakin dilain waktu kita akan bertemu lagi! Selamat menempuh hidup barumu disana. Selamat menjadi dokter, rawat aku ya kalo aku sakit nanti! Kuliah yang bener ya, calon buk dokter. Percayalah aku merindukanmu disini!! Kapan-kapan main lagi ya keBandung! Aku tau jiwamu disini Fa!! Salam Sandi ”

 3 pesan isinnya sama, dan 2 pesan lainnya isinya beda.

 From  :  Sani

 To :  Syifa

 “kata-kata menyukai. Apakah benar itu? benarkah kamu ? Syifa, maaf. Mungkin kamu selama ini merasa terabaikan. Tapi ketahuilah aku selalu mencoba jadi yang terbaik untuk kamu. Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku katakan jujur dengan kamu. Dan sebenarnya pula aku ingin mengatakannya ini langsung bertatap muka dengan kamu. Tapi apa daya, semua sudah terlambat. Kamu udah pergi disana. Dan aku sangat yakin kita bakallan bertemu lagi. Karna aku percaya takdir tuhan. Tunggulah saatnya aku mengatakan sesuatu itu ya Fa! Bukan maksud aku ingin menyiksa kamu untuk menunggu dan menunggu lagi aku mengatakannya ke kamu. Aahh Sudahlah!! Kini kita berbeda tempat. Jalani semuanya dengan senyum ya Syifaku. Aku yakin kita bisa kok!! Sampai bertemu lagi suatu saat nanti. AKU SELALU MERINDUKANMU DAN AKU MENUNGGU KAMU KEMBALI KESINI. Salam Sandi”

 From :  Sandi

 To  :  Syifa

 “aku datang. Hanya saja waktu nggak memberi aku kesempatan menatap kamu tadi. Maaf, semua salahku. Selamat jalan Syifa! Aku akan merindukanmu”.

 Lima pesan itu berhasil membuat aku tertegun dan semakin tertegun jauh.  Ternyata Sandi datang. Aku diam dalam kesunyian dan kehampaan. Lagi-lagi aku mengeluarkan butiran air mata yang tak sepatutnya aku keluarkan. Karna aku begitu cengeng. Aku begitu lemah. Baru baca pesan dari Sandi aja aku udah mulai luluh lagi. Padahal seharusnya aku tau, Sandi udah bikin aku lebih tersiksa menunggu dan selalu menunggu satu kata yang tak pasti dari dirinya. Sampai sekarang pun aku tak pernah mendengar satu kata itu. Aku tuli akan satu kata itu. “selamat tinggal Sandi. Aku disini akan lebih merindukan kamu. Tapi ketahuilah aku nggak akan terus memendam perasaan ini. Aku lelah San! Aku capek dengan semua yang udah kamu lakuin ke aku. Menggantung semua perasaan ini. Aku akan melupakan kamu!!!Yaahh ! itu lebih baik daripada aku terus memendam dan memendam perasaan ini lebih lama lagi. Selamat tinggal cintaku!” ucabku lirih sambil meneteskan air mata. Aku mengeluarkan kartu handphoneku dan secepat mungkin aku mematahkan kartu itu. “Ini adalah akhir dari dosa yang udah aku perbuat ke Riska dan kamu San! Aku akan menjalani hari-hariku tanpa kamu San! Tanpa kamu dan tanpa kamu!! Namun begitu indah dosa ini untuk dihilangkan San”



 Malam ini, tak seperti biasanya. Bintang yang biasanya aku masih melihat kecerahannya namun malam ini hilang tanpa berbekas. Semuanya hilang, seiring dengan hilangnya aku dari Bandung. Lamunanku kini datang lagi, aku termenung sejenak sambil menatapi ruang kamarku, hening yang aku dapat. Tatapan kosong yang aku lihat. Aku melangkah menuju ruang luar angkasa. Aku beranjak menatapi langit-langit diatas sana. Bintang yang biasanya aku temui dijam-jam seperti ini namun malam ini sama sekali tidak tampak kecerahannya. Bahkan keramaian bintang pun nggak aku lihat disisi manapun dilangit. Langit terlihat tampak bersih malam ini. Sepi…. Aku merasakan kesepian yang teramat dalam malam ini. Sejenak aku biarkan memoriku memutar dengan sendirinya didalam fikirku. Rasanya aku ingin terus mendengar dan mengingat kejadian tadi siang. Aku terlalu terbawa dengan kejadian itu. Aku terlalu mendalam akan kejadian singkat itu. aku terlalu meresapi.

 Heningnya malam ini memaksa aku lagi membuka semua album foto yang sudah aku simpan dalam lemariku, yang sudah aku biarkan untuk berdebu. Perlahan namun pasti aku membuka setiap lembar poto itu. Terlihat jelas keceriaan-keceriaan saat aku masih berada disana bersama Sandi. Namun kini, aku harus bangkit dari keterpurukanku, dari tegak berpakuku menunggu dirinya. Aku harus mengenyahkan dirinya dari hidupku. Karna aku tak mampu lagi dengan kondisi yang sangat sulit aku mempertahankannya.

Lagi-lagi aku menatap poto Sandi yang masih terbingkai rapi dimeja belajarku. Ku pandangi dengan seksama. Terlihat keceriaan dari dirinya. Aku tersenyum simpul. “Untuk terakhir kalinya aku menatap potomu ini San, selanjutnya akan aku simpan didalam lemari dan akan aku biarkan itu berdebu. Karna memang semestinya perasaan ini biarlah berdebu dan tertutupi dengan tebal  lalu akan menghilang dengan sendirinya.” Ucabku serius. “Sandi, cinta ini adalah dosa, namun dosa ini begitu indah San!!”  aku tersenyum sinis menatap poto Sandi yang tersenyum manis.  “begitu indah untuk dilupakan, karna cinta ini telah terlanjur tertuju ke kamu. Indah namun ini tetap saja dosa!”

Kini izinkan aku melepas semua tentangmu Sandi! Biarkan aku membuka semua lembaran baru dalam hidup baruku ini. Dan jangan pernah ganggu aku lagi dengan ketidakpastianmu itu. karna aku terlalu lemah dan mudah lelah dengan kondisi ini. Kondisi yang sangat sulit ini. Aku mencintaimu Sandi, namun sekarang akan aku hapus perasaan ini. Akan aku biarkan ini semua berlalu dan menjadi butiran air yang tak berdaya lagi. Hingga lama kelamaan butiran itu hilang dengan sendirinya. Harusnya dulu kamu pergi dari fikirku San, jangan pernah maksa aku buat ngilangin kamu. Karna aku sudah tau akhir dari usahaku ini, aku akan dapat hasil akhirnya NOL. Namun kini aku tau, aku bertahan menunggu kamu pun aku bisa. Dan sekarang aku yakin aku sangat bisa menghilangkan segenap rasa yang masih menggumpal menjadi darah dalam tubuhku. Aku akan melupakan kamu. Walaupun sekali lagi, semua ini adalah dosa. Namun ini adalah dosa yang begitu indah.

 


















0

Aku melihatmu :)

Aku melihatmu hari ini.. Entah berapa banyak waktu aku lewatkan tanpa melihatnya.. Berjuta harap, aku torehkan dalam kertas suci. Tapi masih saja itu kosong, bahkan sampai kertas itu menjadi kusam berdebu Aku melihatmu hari ini, untuk kesekian lamanya aku menunggu saat ini Aku menanti waktu ini, untuk melihat kamu lagi. Setelah malam berganti siang, dan siang berganti malam secara berterus. Kamu tetap tak aku lihat disudut kota yang biasanya aku bisa melihat kamu tersenyum Disudut kelas kita dulu, yang biasa aku lewati dan ada kamu disitu Disudut kelas ku dulu, yang biasanya kamu datang sekedar untuk memenuhi kewajibanmu Kamu ada disitu.. Aku melihatmu hari ini… Disudut kota kosong yang tiada terucap kata Aku melihatmu hari ini, Dengan tampang membisu, tiada senyum Kamu melihatku hari ini, Dengan raut penuh keasingan.. Kamu melihatku hari ini Kamu melihatku, namun kamu seolah-olah hanya melihat dirinya disudut penglihatanmu Perlu kamu tau ! Dalam berjalannya waktu Aku selalu melihat kamu, Disudut ruangan luas, dimana kita pernah menyaksikan film bersama Aku melihatmu waktu itu, Disebuah gedung bekas kita berjalan Aku melihatmu waktu itu, Di sebuah tempat ramai yang menurutku kisah ini berawal dari situ Aku melihatmu waktu itu, Disetiap layar handphoneku yang berisi penuh pesan berkata indah menurutku lagi.. Aku melihatmu waktu itu, Disudut jalan dekat rumahmu. Aku melihatmu waktu itu, Lewat pendengaranku dari semua orang yang membuat aku mengingat kamu, Lewat pendengaranku, tentang omongan-omongan film itu, Tentang tempat indah yang kamu ubah sikapmu Tentang pegangan tanganmu.. aku mengingat jelas itu lewat pendengaranku Aku melihatmu waktu itu, Dalam sebuah kota kosong yang terukir jelas wajah kamu Aku melihatmu waktu itu, Aku melihatmu waktu itu… Tapi kamu tak melihatku lagi waktu itu…. Aku melihatmu kini, disudut mataku yang jelas terlukis wajahmu Aku melihatmu kini, dalam benak ku bertengker wajah dan sikapmu ke aku Aku melihatmu kini, bersama seseorang disana.. Aku melihatmu selalu, dalam foto yang tak pernah kau mau untuk menyimpannya Aku melihatmu selalu, dalam jelas memoriku sewaktu itu Aku melihatmu selalu.. dalam diamnya diriku menatap masa lalu indahku Aku melihatmu… Disetiap malamku Aku melihatmu dalam malam panjangku Aku melihatmu, Dalam aktifitasku dengan menghubungkan semuanya kepadamu Aku melihat kamu selalu.. Sungguh Aku lelah selalu melihat kamu, Tapi entah akankah kamu juga melihat diriku Aku lelah dengan ini, aku lelah dengan sebuah ketidak jelasan kamu dengan ini Aku lelah sayang….. Boleh aku panggil kamu sayang, dalam setiap mataku melihat kamu? Boleh?? Aku memanggil itu dengan kenyataan yang sangat kecil Itu mimpi… Dalam setiap hariku, Kutorehkan harapan dengan mengharap akan ada keajaiban Untuk suatu saat nanti aku tetap akan melihatmu dengan ketidakjelasan ini, dengan semua kelelahan ini, dengan semua kehampaan ini, dengan semua khayalan ini,… Untuk bisa melihat kamu lagi, lagi dan lagi. Untuk bisa melihat saat nantinya aku ditakdirkan lagi untuk tidak dapat melihat apapun, termasuk kamu Maka inilah mengapa aku ingin terus dapat melihat, Melihat kamu, Semua tentang kamu, Melihat pendengaranku yang sedang memutar semua kisah kita. Aku ingin tetap melihat……… kamu
0

puisi fisika izzah


Cintaku tetap statis terhadapmu
Oleh Izah Nurhidayah

setiap harinya aku melakukan gerak translasi
dimana hanya bergesek dengan kesepian
berbanding lurus dengan kerinduan
dan bertolakbelakang dengan keindahan

sepi yang kubiarkan tergenang layak fluida statis
rindu yang entah harus aku refleksikan pada cermin sosok lelaki
lalu keindahan cinta yang hanya bergetar tanpa menimbulkan rambatan
aku tetap merasakan gelombang cinta padamu

cintaku tetap statis terhadapmu dulu dan saat ini
medan magnet apapun itu tak menimbulkan momentum cintaku
banyaknya garis medan listrik cinta yang menembus permukaan hatiku
mencapai titik tertingggi cinta dihatiku

peluru cinta yang seakan ditembakkan olehmu dulu
bertegangan maksimum dengan arus perasaaan yang maksimum
menimbulkan hambatan pada cinta yang lain
hingga aku rabun akan cinta yang bukan kamu.....
Back to Top