I'll Go, Although You're Gone First

I know this life isn't just about you and me.
About the love that speaks of wounds or happy.
I know the pain of grasping tightly to the love that should be released with a friendly smile...

And I know, it feel like loving someone that finally just gave the wound.
As for the other things that more harm is silent,
when he close to go with the rest without you...

The circumstances forced me to understand that all.
Your presence, I, love and the wounds are for I know that I better go and opening my self to much better than you...

I know that oneday, we will meet and tell each other,
only through the gaze of the eye.
I'll show you a sweet smile that once was the cry and shall know that I'm much happier without you.
This's started now.
I'll go, although you're gone first!

Don't be afraid!
I'll forget you, now!
You know? Everythings fine!

You can gone! And don't care about me!
Ya, I'm still loving you,
but, it's okay. That's my problem.

Go!!!
0

Teruntuk Dua Jiwa Tercinta, Ayah, Bunda

Kadang, banyak hal yang bisa membuat kalian tersenyum dan tertawa. Rasanya itu terlihat bahagia sekali disorot pandangku yang diam-diam meneliti kalian jeli. Kalian pun tak pernah sadar ketika retina ini tengah mencoba mengeja pelan lewat mata yang tengah menyembunyikan pedih yang kerap kali kalian rasakan. Rasanya sakit sekali, tau bahwa pedih itu dnegan sengaja kalian campur lebur dengan gembira. Kalian membuat sedemikian rupa tak ada beban, maka tertawa lepaslah ditengah beban berat yang selalu kalian tanggung...

Hadirnya aku, entah itu anugerah atau beban semata. Aku tidak tau, pribahasa darimana yang mengatakan bahwa aku adalah anugerah dari Tuhan untuk kalian. Aku bahkan belum terbayang raut wajah penyambuttan yang serempak kalian tunjukkan kala aku menangis namun kalian malah tersenyum. Dari penjelasan kalimat itupun aku belum benar-benar merasakan tegang haru bahagianya kallian kala itu. Kala bunda siap menerima resiko pahit yang bisa saja merenggut nyawanya atau nyawaku. Kala tangisku meramaikan suasana rumah. kala harumku memberi rasa nyaman. Kala jemari-jemariku hanya muat menggenggam satu jemari kalian, betapa mungilnya aku. Ketika ditengah orang lain tertidur, kalian malah siap mengurusi tubuh mungilku yang menggeliat ingin digendong. Kalian malah memperdulikan aku dibanding istirahat...

Ketika tangis dan sakitku menjadi waspada bagi kalian. Ketika aku jatuh dari belajar berjalan, lalu aku menangis dan kalian langsung menggendongku sambil mengucap kata, "oooo sayang, nak. Sayang". Ketika aku sakit, kalian siap tidak tidur demi menjagaku. Siap siaga kala aku terjaga merengek minta digendong. Kalian begitu takut aku terkena demam tinggi. Kalian takut sekali aku dinakali orang-orang. Seluruh kasih dan sayang kalian luapkan untukku. Kalian belikan ini itu untuk memuaskan rengekkan tak penting dariku, kalian belikan aku makannan dan buah untuk menjaga tumbuh kembangku. Kalian begitu takut aku kenapa-kenapa...

Sekarang, aku sudah besar. Sudah menjadi putri atau putra ayah dan bunda yang dewasa. Sudah banyak mendengar cerita tentang ayah dan bunda juga melihat rasanya menjadi ayah dan bunda lewat tante dan om. Tak banyak yang bisa aku pelajari, aku paham rasanya, namun sepertinya rasa itu tak benar-benar sempurna jika bukan aku yang merasakannya sendiri. Aku sudah mulai belajar membantu pekerjaan rumah, membantu mengasuh adik sepupu dan lain sebagainya.. Aku mulai mengerti besarnya peran ayah juga bunda dalam hidupku.

Aku sudah besar, permiintaanku mulai macam-macam. Tadinya hanya diminta beli berbie atau boneka, sekarang beralih meminta tas, sepatu, baju, make up, gadget dan lain sebagainya. Belum lagi jajan-jajan makanan yang cenderung lebih besar dibanding jajan-jajan aaak kecil. Belum lagi untuk biaya refreshing, nonton, jalan dan banyak lagi. Biaya pendidikan yang semakin melunjak, juga biaya buku tebal untuk kuliah. Aku sadar besarnya pengeluaranku dibanding kecilku...

Ayah, bunda, dalam diamku, dalam ketidaksadaranku, rasanya ingin sekali menjadi putri mungi kalian lagi. Tak banyak menanggung beban tugas kuliah, belum llagi dilemma-dilemma yang disebabkan teman kampus atau pemikiran-pemikiran yang dengan sendirinya siap mematungkanku dalam lamun. Lain dari itu, karna aku tak ingin membuat kalian semakin berat menanggung hidupku, menanggung biaya pendidikanku. Aku ingin menjadi putri mungil kalian, yang bisa diam dengan rengekan ketika disuguhi coklat atau permen. Simpel. Aku ingin seperti itu lagi. Merasakan kasih dan sayang kalian yang ditunjukkan dengan nyatanya....

Aku sudah besar. Kuliahku jauh dan harus bisa mengatur segala keperluanku sendiri tanpa kalian ditanah lahir. Aku hidup ditengah kehidupan yang keras, dan barulah aku merasakan benar adanya keras hidup. Aku harus bisa mengatur hidupku sendiri, diminta untuk belajar mandiri dan segala hal. Aku harus bisa mengontrol emosi dan lain sebagainya. Aku harus bisa menjaga diri sendiri dari hal-hal buruk yang selalu ayah dan bunda jaga. Menyuruhku tetap sholat dan mendoakan kalian dari kejauhan.

Sekarang aku sudah jauh darimu, yah, bun. Aku kuliah jauh, dan kasih sayang yang aku dapatkan semakin berkurang. Aku mulai terbiasa tidak mendapatkan perhatian luar biasa seperti dimasa sekolah. Aku hanya bisa melepas rindu lewat handphone semata. Mendapati pesan-pesan dari kalian berisikan nasihat untuk menjaga diriku dan tidak melupakan sholat 5 waktu. Kadang, tanpa kalian tau, ada butir bening yang siap tumpah dari retinaku ketika membaca dan mendegar suara kalian, namun kucegah agar tak malu yang kudapat ditengah teman-temanku. Aku hanya berusaha untuk tidak menjadi seperti anak kecil yang cengeng. Aku ingin kuat, tangguh, namun aku masih rapuh tanpa kalian, yah, bun...

Ayah, bunda...
Aku sering malu ketika harus menangis karena rindu pada kalian dari kejauhan ini.
Aku sering sekali mendoakan kalian dari kejauhan ini, aku sering sekali mendoakan kalian agar tetap sehat dan bisa mendampingiku ketika tiba saatnya aku diminta dengan hormat oleh seorang lelaki.
Aku sering meminta pada Tuhan untuk menjadikan aku anak yang soleha dan bisa memberi bahagia pada kalian.
Aku sering ingat kalian ketika sedang dikampus, ketika tiba saat dimana dilemma dan resah menghujamku. Aku ingat kalian selalu memberi aku semangat dan support. Aku ingat kalian tidak pernah membuat aku jatuh, tidak pernah membuat aku tersisihkan. Ketika aku sedang ada masalah di kampus dan rasanya aku ingin pulang, yah, bun.
Kalian selalu mengatakan yang baik-baik tentangku. Walaupun nyatanya aku selalu tau kalian tidak benar-benar jujur, namun demi aku kalian rela berbohong demi seutas senyum yang bisa aku layangkan.
Aku sering bercerita tentang ayah dan bunda pada teman-temanku. Aku selalu menceritakan yang baik-baik tentang kalian. Aku selalu mengatakan bahwa aku bangga dan bahagia memiliki orang tua seperti kalian. Aku selalu mengatakan aku sayang dengan kalian di depan teman-temanku. Bahkan tanpa malu aku, disetiap ujung semesteran aku selalu bilang rindu pada ayah dan bunda di depan temanku dan hendak pulang menemui kalian.
Aku sering ingat kalian ketika bertemu bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang bekerja keras dijalan.
Aku sering ingat betapa aku selalu dimanja, dibela, diberi ini dan itu.
Aku sering ingat, bahwa aku belum bisa memberikan kebahagiaan dan kebanggaan untuk kalian.
Aku sering marah pada diriku sendiri ketika aku merindukan kalian. Aku sering tidak paham dengan kehendak diriku sendiri kala sedang rindu pada kalian.
Aku sholat 5 waktu, sampai sholat sunnah dan juga puasa senin kamis untuk menenangkan hati dan fikiranku serta mendoakan kalian dari kejauhan.
Ayah dan Bunda selalu aku sebut dalam setiap akhir sujud di sajadahku.

Kalian tau? Itu yang selalu aku lakukan dan aku rasakan....
Aku sedih ketika harus memendam perasaan cinta ini tanpa bisa mengungkapkannya langsung di depan kalian yah, bun. 

Ayah, bunda, tak ada yang bisa aku katakan dan ungkapkan sebagai tanpa sayang dan cinta yang biasa aku utarakan pada teman dan orang lain.
Ayah dan bunda tetaplah menjadi satu-satunya yang aku cinta dan sayang di dunia ini.
Memang, tak banyak yang bisa aku ucapkan.

Bunda, tak ada yang lebih baik darimu. Kasih, cinta, pelukan, rasa nyaman yang aku dapat darimu tak pernah aku temukan dari orang lain dimanapun. Aku memang bertemu teman-teman banyak, banyak menghabiskan waktu dengan teman, bercerita sana sini, tapi tak ada nasihat yang paling  bijak yang aku dapat selain itu darimu. Dari semua teman-temanku yang aku sayangi, pasti ada yang selalu diam-diam menikamku dan menyayangku tak setulusmu, bun.
Bukan karna syurga ada ditelapak kakimu, bun. Bukan karna itu aku menyayangimu. Karna benar pernyataan yang mengatakan jatuh cinta itu tak perlu alasan.
Ketahuilah, tak ada yang membuat aku jatuh cinta dan merasa benar-benar kehilangan kecuali bunda. 
Aku terlalu menyayangmu, bun. Tanpa bunda, entah jadi apalah aku ini?

 
Ayah, memang aku tak pernah bisa membaca sikap sedih di mata ayah. Tapi aku tau, ayah selalu sedih kala aku tidak menuruti perintah ayah. Sering tidak sesuai dengan keinginan ayah. Aku tau, aku tak cukup baik sebagai putri ayah yang selalu ayah banggakan dan jaga mati-matian.
Aku tau, ada kekuatan maha dahsyat dari Tuhan untuk ayah agar selalu menjagaku dan melindungiku sampai kelak aku menjadi perempuan baik-baik. Aku selalu ingat, kalimat yang ayah ucapkan, "ayah mendidikmu menjadi perempuan baik agar kelak kamu dipertemukan dengan lelaki baik-baik, nak".
Aku memang kelak akan meninggalkan ayah dan mencintai lelaki baru yang akan menjadi imamku. Tapi ayah perlu tau, cuma ayah lelaki yang berhasil membuat aku jatuh cinta dengan sempurna, cuma ayah yang menjadi lelaki idamanku, pahlawanku.
Ayah, aku selalu meminta pada Tuhan untuk memberikan aku lelaki baik sepertimu. Mengapa? Karna ketika saatnya ayah pergi menemui Tuhan, aku ingin ayah tetap ada walau kulihat dirupa yang berbeda. Aku ingin menemukan lelaki seperti ayah agar bisa mencintaiku dengan sempurna seperti ayah.

Teruntuk dua jiwa tercintaku, ayah dan bunda....
0

Maybe, I Love You, Miss You, and Thats My Problem.

This is story bout me and tou.
Ans everything that we bbeen through.
This ain't no fairytale kind a story, baby.
This is real...
Never thought that one day I'd be able to tell you how I feel.
Don't you remember, that night. That thrusday night.
You took ny hand and it felt so right.
I was waiting till january, and I'd see your face but in that moment I knew it was over.
And remember that day, you moved away. Every little bit of my heart just sank.
Now, I'm standing alone in a crowded room and we're not speaking.
And I'm dying to know is it killing you like it's killing me?
I'm scared to see the ending why are we pretending this is nothing?
I'd tell you I miss you but I don't know how, I've never heard silence quite rhis laud.
Hey, I know, I miss you so much, I need and really love you baby. But I also know that's my problem...
0

Mungkin Kita Keliru, Tentang Melupakan dan Mencintai

Aku hanya tidak tau bagaimana ini semua bermula. Kita bertemu, mencinta, lalu aku harus menjalani siklus hidup tersulit disejauh aku menikmati hidup. Melupakan; melupakanmu tepatnya.

Semuanya berjalan begitu cepat, ketika aku sadar bahwa aku sudah harus berbenah hati dan meninggalkan kamu yang sudah cukup lama tertidur didalam hatiku. Entah kamu yang enggan pergi dari hatiku atau malah aku yang selalu menahanmu. Aku tak memintamu percaya bahwa kamu masih dihati ini, karna aku tau hatimu begitu dingin untuk kusentuh dengan hatiku yang tidak beralaskan kain penghapus luka. 

Sampai pada titik ini, aku jenuh dengan rasaku. 3 tahun berasa sangat singat buatku untuk berhenti mencintaimu, Teman. Aku masih ingin mencintaimu, ahh bukan masih ingin, tapi aku hanya ingin mencintamu. Entah dimana kau taruhkan hatimu yang keras itu, entah dimana kau letakkan bayanganku sampai-sampai membuat bayanganku terlintas sedetik dibenakmu pun sulit aku lakukan. Kau begitu sibuk dengan dunia-dunia barumu, mungkin. Boleh aku tanya satu hal? Bisakah kamu fokus pada perempuan yang sedari lama memfokuskan hatinya untuk kamu lihat dengan cinta? Tidak. Ahh iya, kamu takkan pernah bisa. Aku sudah tau itu. Entah aku yang begitu tolol karna terlalu mencintaimu atau kamu yang begitu tolol karna tidak pernah memahami cinta yang sesungguhnya aku perlihatkan diam-diam dari kejauhan.

Aku benar-benar lelah, sayang. Rasanya aku ingin tidur dan bangun dalam keadaan tidak mengenalmu sama sekali. Tapi bagaimana bisa aku lakukan, jika ternyata alam bawah sadarku saja masih begitu dekat denganmu. Bagaimana bisa aku melupakanmu? Jika sebenarnya dalam retinaku aku masih melihat bayanganmu walau sudah mulai pudar.

Aku terlalu jauh untuk sabar dan memaklumi kekerasan hatimu, sampai saat ini pun akulah yang masih menikmati perasaan cinta yang sudah membosankan namun masih ingin aku rasakan. Kamu begitu jauh untuk aku dekap, dan kamu begitu dekat untuk aku lupakan. Lalu apa yang bisa aku lakukan?

Apakah aku begitu tidak ada artinya dimatamu? Hingga sikapmu seolah menyuruhku untuk segera melupakanmu, walau itu dengan cara lembut. Jika memang iya, maka tak apalah. Atas itu aku memaafkanmu, jauh sebelum kamu merasa kamu bersalah. Aku tau kamu hanya keliru dimana saatnya kamu menghargai perasaan orang lain dan dimana saatnya kamu menghargai perasaanmu sendiri. Dan aku tau aku juga keliru dalam melupakanmu yang justru membuat aku semakin jauh untuk mencapai target sempurna dalam melupakanmu.

Entahlah, mungkin memang benar, kamu begitu berarti, hingga kamu pun lupa bagaimana mengartikan seseorang pencintamu bahwa sesungguhnya ia jauh lebih berarti untuk sekedar kamu abaikan. Dan mungkin suatu saat, kamu akan berbalik mengatakan bahwa sesungguhnya yang saat ini sedang berusaha melupakanmu adalah yang akan kamu berartikan dihidupmu suatu saat nanti. Adalah aku.


0

Cinta Tak Cukup Sampai Disini

Cinta, setelah kepergianmu yang tak pernah mau aku pahami jalannya, yang tak bisa aku mengerti mengapa, aku hanya bisa diam. Terhipnotis pada kesendirianku, sama seperti dulu ketika aku tidak sama sekali mengenalmu, menjumpaimu pada malam-malam sepi dihiasi angan.

Sudah kukatakan, aku terbiasa sendiri (lagi) disetiap malam-malam kelam. Tak apa, jawabku sendiri. Aku sudah belajar banyak hal dulu sebelum kisah kita kutulis, ketika aku hanya berani menyimpanmu rapat dalam relung. Aku sudah membiasakan diri menomer duakan kamu setelah kesibukkanku yang bisa membuat aku tenang ketika kenyataannya aku hanya menjadi perempuan yang mencintamu dalam diam. Sekarang aku kembali, menjadi yang dulu lagi. Memprioritaskan kesibukkanku dan menomer duakan kamu.

Sepertinya berlaga bahagia didepan semua orang didunia lebih membuat aku tertantang untuk menjadi perempuan yang tegar, kuat. Berlaga melukiskan senyum palsu yang semua orang hanya paham itu adalah bahagia, tanpa tau apa dibalik senyum palsu itu. Buktinya, sudah ada saja yang kagum pada ketegaranku, dan saat itu aku tau aku berhasil terlihat tegar didepan semua orang.

Setelah kepergianmu, kita melangkah sendiri-sendiri. Khayalan-khayalan kita yang pernah ingin kita lakukan berdua, masa depan kita, semua cukup sampai disitu. Sampai pada sebuah titik dimana kita sama-sama jenuh dengan keadaan, pada jarak yang memisah. Sebenarnya aku bisa saja mempertahankan kamu, namun rasaku tak cukup sampai disini, bahagiaku tak cukup sampai pada aku menjadi milikmu dan kamu menjadi milikku. Aku butuh kamu, hati kamu yang melirikku tak setengah seperti ini. Cinta, itu bahagiaku! Kamu paham?

Setelah kepergianmu, aku mulai menata kembali tiang-tiang perasaan yang sempat roboh dan remuk tak tertata rapi. Sisa-sisa perasaan yang sulit aku jelaskan dengan kata, tapi bisa kulukiskan dengan rasa. Malam-malam dimana kita terbiasa memulai perbincangan panjang, sebenarnya saat itu, aku sudah memelukmu, memeluk erat bayangmu dari kejauhan. Dalam jarak sejauh itu, aku bisa merasakan kehadiranmu melekat disampingku. Aku terbiasa memelukmu pada saat bintang mulai bertaburan. Dan apakah yang bisa aku lakukan setelah kepergianmu? aku tertunduk lemas menatap langit-langit kamarku dan seolah membuat bayanganmu sendiri disana. Terkadang aku tersenyum basi saat itu, dan meyakinkan diriku, menguatkan diriku sendiri, "sudahlah"

Setelah kepergianmu, aku kira semua akan berakhir, hilang begitu saja dimakan waktu dan kesibukkanku. Tapi, semakin kesini, semakin jauh kita, semakin mengarah pada perasaan ingin melupakan, aku malah ingin mengangkat tangan tanda tak mampu. Aku menyerah. Aku kira cinta cukup sampai disini. Sampai pada titik dimana kita sama sama meninggalkan, meski kamu yang lebih dulu. Aku kira cinta cukup sampai disini, cukup sampai pada saat dimana kamu benar-benar melupakanku. Aku kira, cinta cukup sampai disini, sampai pada saat aku menyerah mempertahankanmu. Namun cintaku ini apa? Apa layak disebut cinta? Cinta sejati misal, apakah kamu cinta sejatiku? Pantaskah aku berbicara soal cinta, tanpa paham betul konsep cinta dan mencinta.

Setelah kepergianmu, setelah cinta tak cukup sampai disini, setelah tangis malam-malam kelamku, setelah saat itu aku paham, aku seperti ini hanya karna aku mencintaimu. Cinta tak cukup sampai disini, sampai pada semua berakhir cinta masih bisa saja dipupuk atau tak sengaja terpupuk hingga masih menjadi-jadi dalam hati. Cinta tak cukup sampai disini, sampai pada titik dimana aku ingin melupakanmu. Aku bisa saja nelupakanmu dalam hari-hariku, namun aku tak kan bisa sampai disitu. Aku hanya akan sampai pada titik dimana aku akan berusaha melupakanmu, tapi tidak melupakan. Bagiku cinta ini adalah kamu. Bagaimana bisa aku berlaga cinta cukup sampai disini sedang aku masih cinta-cintanya?

Aku mencintaimu, dan cinta tak cukup sampai disini. Sampai kita berakhir bahkan aku bisa saja merindukanmu dan menyimpanmu rapat-rapat (lagi) dihati, hingga suatu hari Tuhan memberi jawaban bahwa aku tercipta hanya untukmu, dan kamu tercipta untuk memberi cinta dan membuat bahagia dihariku. Cinta tak cukup sampai disini, sayang. Cinta akan berakhir ketika Tuhan mengajakku untuk berpindah tempat dan mempertemukanku pada sosok lain disana. Dan saat itu kamu akan merasakan bagaimana cintaku cukup sampai disini.
Back to Top