Kepada rindu yang tak pernah aku hiraukan lagi, aku menemukanmu pada barisan debu yang kujejerkan dalam sebuah kotak lusuh. Senyummu nampak masih dalam balutan rasa yang kamu pamerkan pada aku sang penikmat kenangan itu. Tak ada yang bisa aku lakukan disini, selain menikmati senyummu yang kaku dan berdebu sejak 2 tahun lamanya kita tidak pernah bertemu.
Entah memang kita yang saling menjauh atau hanya kamu yang menjauh. Tanpa kuminta, kenangan itu semakin memudar walau masih samar bisa kubayangkan. Wajahmu yang dulu masih bisa aku pandang dengan retina terkasih. Sekarang, semelekat apapun kamu dalam ingatanku, inderaku semakin sulit membuat kamu nyata dalam ruang khayalku.
Tak ada yang bisa aku lakukan sebagai perempuan lemah yang mencinta dengan sangat lelakinya. Kita berada dalam zona yang membentang jarak tempu tinggi untuk menemukan atau bertemu. Aku tidak bisa menemukanmu dalam hari-hari khusus dimana kamu biasa pulang dan menghubungiku untuk sekedar bertemu. Sekarang, untuk bertemu denganmu saja aku tidak tau alasan apa yang bisa aku bawa.
Sejauh waktu membawaku ke tahun ini, tanpa aku sadari bahwa setiap hari aku selalu menunggu telfonmu di dini hari. Kamu yang lebih dulu membawaku masuk dalam celotehan malam sebagai ungkapan rindu yang tak pernah kamu ungkapkan. Sampai aku menjadikan hal itu sebagai suatu kebiasaan di tengah malam, semacam rutinitas yang aku buat sendiri.
Aku terlalu sering diteror di malam-malam yang tak tentu. Ia selalu bercerita tentangmu, tentang kita dalam penjam mataku. Hingga aku terjaga, semua lenyap seperti ludah yang biasa kita telan, hilang. Kamu masih berdiri dalam kaku dan bisu di kotak itu. Ternyata, aku terlalu sering memimpikanmu dengan ketidakinginanku kamu hadir di tengah aku sedang melepas lelap. Hingga nanti akan ada saatnya kamu benar-benar datang walau sekedar bertanya kabar.
Sampai saat dimana aku harus tetap melukiskan coretan dalam setiap hariku, aku masih tetap memikirkanmu walau sepersekian detik dan kamu hilang kemudian datang lagi. Semelekat itukah kamu dalam ingatanku? dan sebegitu mudahnya aku tidak melekat dalam hidupmu lagi?
Mungkin saja aku hanya rindu atau bahkan aku memang rindu atau benar-benar merindukanmu. Menginginkamu untuk menyapa di setiap malam seperti dulu lagi, mengisi cemburu, tangis dan tawa yang sempat hadir secara bersamaan saat bersama denganmu. Mungkin semua karena rindu. Sampai tertatih aku menunggu rindu ini dipertemukan pada pemilik rinduku, saat itu pula aku menanti pemilik rinduku mampu melepas rindu yang menggumpal dalam ungkapan yang tak tergambarkan.
Tersebab rindu, kamulah rindu itu.
Diposting oleh






0 komentar:
Posting Komentar