2

Teruntuk Kekasih Hati Bernama Luka


    Semenjak kepergianmu waktu itu, tiada yang lebih bermakna selain sepi, tiapa yang lebih terasa ada selain sendiri, tiada yang mengisi selain hampa...
Aku tidak tau lebih pantas kusebut apa ini. Tertawa sendiri dalam gelap malam, menangis sejadi-jadinya dalam diam sendiri, dan tersenyum lega ketika hati tak lagi mampu berbohong. Aku mencintai sepi yang sedari dulu menemani hari, tapi aku lebih mencintai tawa ketika cinta mengusir sendiri, ya, itu semenjak ada dirimu....

    Semenjak kepergianmu waktu itu, bibirku seolah fasih berkata sambil lalu, "aku takkan bisa tanpamu", terus seperti itu. Lalu apa yang kamu jawab? dengan cuma-cuma kamu menjawab, "kamu pasti bisa". Sadarkah itu bukan sebuah dukungan bagiku, melainkan sebuah kata penghancur tawa. Dan kamupun pergi....

    Semenjak kepergianmu waktu itu, aku terasa dekat dengan malam, sepipun menjadi teman penenang, kelam pun sebagai penyempurna sendiri. Aku kehilangan sosok bernama bahagia. Pada setiap malam dengan setianya aku menemuimu dalam mimpi-mimpi yang terasa indah dialam bawah sadar, namun terasa menyakitkan dalam nyatanya. Karna sedikitpun kamu takkan bisa kupeluk lagi. Hatimu sudah entah dimana dan cintaku tak kuasa membimbingmu kembali.

    Semenjak kepergianmu waktu itu, aku tau ada banyak yang hilang dari sini. Kurasakan berbagai perubahan yang dengan sendirinya terasa ada, dan aku hanya jadi penikmat perubahan yang hanya bisa diam ketika semua dengan sendirinya berubah. Namun kenapa tidak dengan rasaku? Rasaku yang sudah sedari dulu menenggelamkan benci yang sendirinya ada semenjak pertama mengenalmu. Perasaanku, sedikitpun tak melakukan perpindahan pada sosok lain yang benar-benar bernama bahagia, yang tidak dengan mudahnya meninggalkan cerita tulus sebagai permulaan rasa, yang dengan senantiasa berkata seadanya namun terealisasi dengan nyata. Tidak sepertimu. Tapi apa yang salah dengan rasaku ini? Tuhan ciptakan segenap rasa yang dengan kuatnya mampu mengalahkan benci padamu. Seolah-olah Tuhan hanya menciptakan perasaan cinta padamu, yang tidak dibuntuti rasa benci dibelakangnya.

    Semenjak kepergianmu kekasih hati, aku merasakan tiada guna lagi menyimpan rapat-rapat rasa ini. Menguburnya lalu ketika ada saat yang tepat akan aku umbar kuat-kuat, aku rasa cukup! Cukup sampai disini, sampai pada saat ini, dimana aku merasakan itu sia-sia saja. Hingga kucoba menenggelamkan perasaan yang hanya tertuju padamu ini, aku gagal dan gagal selalu. Aku seperti menjadi perempuan malang yang menuntut untuk dikasihani olehmu.

    Semenjak kepergianmu kekasih hati, apakah tidak ada lagi niatmu membuka lembar demi lembar kertas yang menjadi pengikat cinta kita waktu itu, yang dengan bangganya kamu memiliki perempuan tulus bernama aku, yang dengan ukiran kata-katamu yang sanggup menyayat keraguan dihatiku? Apakah tidak ada hal lain yang mampu mendorongmu memutar balik kesini, kebelakangmu, kearahku, wajahku, yang tersenyum basi sambil berkata, "akulah tempatmu"?

     Semenjak kepergianmu kekasih hati, ada yang hilang juga ada yang membuat diri ini sadar. Entahlah ini benar adanya atau hanya firasat semata. Kepergianmu, atau bahkan bisa disebut kebalikkan buatku, itu karna aku harus bnyak belajar dari kepergianmu, dari perasaan besar yang sedari lama ada. Semenjak kehadiran cinta padamu, aku selalu menyebutnya itu adalah kebahagiaan, kamu adalah bahagiaku. Namun tidak untuk sekarang, seakan disetiap malam aku dibumbuhi fikiran-fikiran yang entah dari mana iru, bahwa sebenarnya namamu bukanlah kebahagiaan, melainkan luka.

    Teruntuk kamu, kekasih hati bernama luka, aku mencintaimu biarpun namamu adalah luka, biarpun kamu mengukir luka, biarpun dengan mudahnya kamu menyayat luka. Teruntuk kamu kekasih yang pergi, kekasih hati bernama luka, semenjak kepergianmu kekasih aku seakan semakin terluka. Lukaku yang dulu adalah bahagia lalu bandingkanlah lukaku yang sekarang! Bahagia yang bersembunyi dibalik luka ini adalah bahagia palsu yang siap menenggelamkan sejuta tanya. Aku berpura-pura bahagia, sayang. Aku bahagia jika aku bersanding dengan luka, seandainya luka adalah kamu. Dan itu dulu, saat kamu masih disini, sayang.

    Teruntuk kamu, kekasih hati yang pergi, kekasih hati bernama luka....
Semenjam kepergianmu, aku juga seakan kehilanhan luka yang biasa aku rasa bersamaan dengan bahagia. Aku semakin binbung, kusebut apa harusnya kamu?
Aku tidak pernah sesedih ini ketika mencintai orang dan tiada pernah sebahagia waktu itu ketika mencinta. Ahh iya, aku lupa, dalam cinta tiada yang salah soal sedih dan bahagia, soal tangia dan tawa. Semua itu seakan sudah menyatu dan tidak bisa dipisahkan.
Aku mencintaimu, kekasih hati bahkan saat kamu sudah pergi seperti ini. Aku mencintaimu kekasih hati bernama luka. Aku mencintaimu biarpun aku harus terus terluka, kekasih hati...
0

Teruntuk Sahabat di Pulau Sebrang, Lombok. (Part II)


        Kamu masih ingat? Ketika kita sama-sama saling mengingatkan untuk sholat? Ketika kamu bercanda akan mengimamkan aku dari kejauhkan yang tiada bisa ditrawang oleh mataku? Aku masih ingat hingga saat ini, kawan. Terkadang aku tersenyum menertawakan tingkahku yang dengan gelinya mengkhayalkan kamu saat ini berada tepat dihadapanku. Kuyakinkan diriku aku tiada bisa berbuat apapun selain tersipu malu dan tertunduk kaku. Salah tingkah.

Kamu masih ingat? Ketika kita mengkhayalkan dan membicarakan pertemuan-pertemuan kedua kita? Bercerita satu sama lain dan aku tak segan menceritakan seseorang yang tiada pernah kamu mengenalnya. Ya, orang itu adalah dia, yang sedari awal tertulis diatas. Orang itu adalah dia, yang berhasil membuat rasaku menjadi istimewa. Hingga kamu pun hadir, dia masih saja bertengger sesuka hati direlung ini. Aku senang kamu bersikap sebagai pendengar yang luar biasa baik dan penasihat yang bijak, padahal kita bukanlah teman yang sudah sedari sana akrab untuk menceritakan satu sama lain. Sebut saja kita benar-benar saling mengenal lewat sosmed.

Terkadang aku bisa merasakan getaran yang berbeda ketika membaca pesan-pesanmu, pesan-pesan penuh makna untukku. Dan ketika itu, aku bisa sejenak lupa padanya, memfokuskan diri dan berbangga hati bahwa aku memiliki kamu dari kejauhan meski dunia mencatatnya kamu hanyalah sebatas teman, sahabat yang tak sengaja Tuhan pertemukan.

Berjalannya waktu, tak urung Tuhan semakin mendekatkan juga membuat kita semakin jauh. Jarak mungkin memang sedikit mendekatkan kita, hanya saja komunikasi kita yang saat ini sudah tidak bisa dijamah lagi. Kamu kuliah di Jakarta, dan aku tau jarak kita sudah dimudahkan oleh Tuhan untuk bisa melakukan pertemuan singkat kedua. Tapi komunikasi? Kita bahkan sudah disibukkan dengan rutinitas sendiri-sendiri, bahkan aku pernah melupakanmu dan tidak menganggapmu ketika aku tau aku berbahagia disini dengan dia, dia yang sedari dulu melegakan hatiku. Mungkin kamu tak sadar, dan akulah yang kini sadar, aku bodoh dulu tidak begitu serius dengan kedekatan kita yang memang mungkin hanya sebatas sahabat menurutmu namun kuyakini kita lebih dari itu.

Kita melangkah sendiri-sendiri, bukan tidak saling mengenal hanya saling mendukung meski tak diperlihatkan, saling memperhatikan hanya disembunyikan, saling peduli hanya tak tampak, saling merindukan, ahh mungkin hanya aku yang begitu merindukan komunikasi kita yang bergitu lancar ketika di akhir-akhir di SMA tidak denganmu. Hingga suatu ketika, saat dimana aku menjadi milik dia, aku bisa sampai pada rasa kerinduanku padamu, mas. Iya, mas, aku biasa menyebutmu dengan panggilan mas Reyno. Entahlah, aku bisa menangkap hal yang berbeda darimu dan dirinya. Perbedaan yang jelas terlihat dengan mata dan rasa.

Menikmati kebahagiaanku dengan dirinya, kamupun hadir dalam sela-sela sendiriku yang terkadang aku merasa sepi, membutuhkan ruang untukku menumpahkan keluh kesahku, mungkin pada dirimulah orang yang tepat walaupun tiada benar-benar aku mengenalmu dengan nyata terlihat dalam hariku. Aku merasakan perbedaan itu, seakan kamulah yang lebih mengerti aku dibanding dirinya. Jelas terlihat dirinyalah yang lebih lama mengenalku dibanding dirimu, alhasil justru kamulah yang seolah mengerti dan menghargai aku sebagai seorang perempuan. Kasar mungkin aku berkata bahwa dia tidak menghargai aku sebagai perempuan, mungkin lebih tepatnya dia tidak bisa atau belum bisa menghargai aku sebagai perempuannya. Namun rasaku tetap sama, aku tetap mencintai rasa ini yang kutujukan hanya untuk dirinya. Aku terlanjur mencintai perasaan yang sudah sedari lama kupupuk dan tiada kuasa untuk mengubahnya sebatas teman belaka.

Dear kamu, Mas Reyno…
Aku terbiasa menikmati hariku sejak akhir SMA denganmu, meski tak terlihat dari sini aku merasa sudah merasa memilikimu dari kejauhan yang wajahmu tiada bisa kusimpan dengan jelas ketika kali pertama kita berjabat tangan tanda perpisahan. Terkadang, aku merasakan perasaan-perasaan aneh yang tiada bisa kujamah dengan jelas persisnya apa. Aku hanya kuasa mengartikan itu hanyalah suka belaka, tiada kekal adanya. Membawa-bawa namamu bercampur dalam hatiku, namun tetap tidak bisa menyamai posisi teratas dihatiku. Bukan menganggapmu sebagai pelarian atau pelampiasan, hanya saja aku bisa merasa special dan berbeda ketika aku tiada berputus komunikasi denganmu. Aku bisa merasa tenang, ketika kata demi kata yang bisa kamu rangkai dalam pesanmu itu, ketika suara tak pernah bermakna, dan katalah yang menjadi utama dalam perbincangan panjang kita. Kamu membuat aku istimewa dengan nasihat-nasihat indahmu itu.
Ketika aku terjatuh, entahlah hal apa yang bisa mendorongmu untuk bertanya hal yang terjadi padaku dan berhasil membuat aku tersenyum renyah ketika kamu berkata, “Vrila yang aku kenal, udah biasa dengan jatuh bangun kok”. Singkat memang, namun aku begitu bangga mempunyai seseorang dari kejauhan yang dengan mudahnya bisa memahami apa yang aku alami tanpa aku menuangkannya.
Kamu selalu berhasil membuat aku nyaman, ketika tiada tempat lain yang bisa mengukir kenyamanan dihatiku. Tapi sama seperti sebelumnya, rasaku tetap sama seperti dulu. Ada yang lama yang tetap mengisi hati dan seperti enggan berganti. Aku justru tiada bisa mengubahnya, menggantikan posisinya dengan dirimu yang seharusnya sudah sedari aku mengenalmu, sejak saat itu harusnya dirinya sudah kutegaskan aku gantikan dengan dirimu yang jauh lebih sempurna dan lebih bisa melukis kenyamanan nan indah.

Atas perasaan-perasaan yang terasa basi disini, direlung hati, atas dasar perasaan aku bisa mengistimewakan yang sederhana dan menyederhanakan yang terlihat istimewa. Aku bisa menyeimbangkan dimana harus kutaruhkan dirimu dan dimana harus kusimpan dirinya. Aku sudah bisa menyeimbangkan semua rasa yang bermula terombang-ambing dalam balutan asa. Semenjak aku tau ada rasa yang istimewa dihatimu, semenjak aku memahami perasaan terdalam yang aku miliki dengan dirinya yang kusebut bintang direlung, semenjak aku mengerti ada cinta terdalam yang kau pupuk sedari dulu dalam bisunya bibirmu, semenjak cinta yang menjadikan rasa yang dimiliki hati kita masin-masing terlihat istimewa, semenjak saat itu aku tau aku tetap mencintainya dan mengistimewakan kamu. Bersamaan dengan itu, akupun mulai memahami ada cinta yang tersirat dalam diam yang tak mampu kujamah sejauh jarak yang memisah teruntuk dia, wanita sederhana yang begitu kamu cinta. Semenjak itulah aku mulai berani memanggilmu sahabat, sebatas sahabat dimana jarak menjadi istimewa.

0

Teruntuk Sahabat di Pulau Sebrang, Lombok (Part I)


        Aku merasa basi dengan perasaan yang kukenali kali pertama menginjak bangku SMP. Sampai pada rasa yang sudah kuanggap mati, ku akui aku gagal untuk jatuh cinta lagi. Mencintai sosok lelaki yang entah siapapun yang saat itu berhasil membuat hati ini bergetar sejadi-jadinya. Aku mulai membenci perasaan yang kucintai dulu, kuanggap istimewa sejak rasa menjadi pemeran utama didalamnya. Hingga kuberjalan bersamaan dengan arus, aku tetap mencintai satu rasa yang sama. Dia, perasaan yang sudah lama bahkan enggan aku menghapusnya. Kadang kubiarkan rasa ini menjadi-jadi sampai titik tertinggi, bersamaan dengan itu rasa itupun lelah dan memutuskan untuk mengurangi sedikit demi sedikit rasa dan memupuk asa dalam diam. Sama halnya dengan ketika kita melemparkan bola kelangit, saat ia mencapai titik tertinggi, ia akan berhenti sejenak lalu memutuskan untuk jatuh kebawah mengurangi sedikit demi sedikit ketinggian.

Singkat saja, aku bertemu denganmu. Entah bagaimana Tuhan menunjukkan jalan, peta, arah, ahh entahlah apapun itu, Tuhan mempertemukan kita dalam ruang dan waktu, sekejab saja. Tentang bagaimana perasaan yang pernah ada, yang tertulis sempurna dihati ini, yang jalannya tiada enggan kuhapus, rasa ini masih sama. Bahkan ketika kita sama-sama bertemu dan menyorot jauh pada pandangan yang penuh makna. Kita berkenalan lewat sebuah kompetisi nasional. Kita? Ahh tidak, mungkin kita hanya tidak sengaja berkenalan disana. Kita sama-sama beradu kompetisi disana, tapi tidak saling mengenal. Hanya sebatas aku finalis dan kamu lawanku sebagai finalis pula. Sebatas gue-elo.

Sayangnya, aku tak seberuntung kamu, yang dengan bangga bisa pulang membawa medali emas, yang dengan senyum sumringah bisa dijadikan oleh-oleh untuk kedua orangtuamu dan sekolahmu. Aku sebatas peraih penghargaan bukan pembawa medali emas untuk sekolahku. Tak apalah, dengan bangga hati aku bisa berdiri tegak disini, berjejer dengan para penerus bangsa, para peneliti-peneliti muda yang berhasil menyabet peraih penghargaan, sepuluh besar dari 30 finalis lainnya. Paling tidak aku tau, dengan cara ini Tuhan mempertemukan aku dan kamu.

Kamu masih ingat? Ucapan terakhirmu waktu itu? Kita memang tidak saling mengenal, hanya sebatas tau kalo kita sama-sama finalis dalam lomba itu. Namun hari terakhir disana kita berjabat tangan tanda perpisahan.
“Pamit pulang ya, hati-hati” Lisanmu dibarengi dengan senyum manis yang melukis wajahmu dan membuat aku terpesona seketika. Jelas sekali aku balas jabat tangan, tak lupa dengan lengkung bibir diwajahku.

Kita sama-sama meninggalkan satu sama lain, bukan sama-sama pergi dan tidak berkomunikasi, hanya sama-sama meninggalkan dan menemui sanak saudara yang menanti dikampung halaman kita masing-masing, menanti senyum sumringah tanda keberhasilan kita berdiri mengalahkan ribuan peserta lomba penelitian dan berjejer dideretan sepuluh besar. Betapa bangganya ayah dan ibumu, terlebih lagi sekolahmu, Reyno.

Sisa-sisa kesegaran yang kubawa sampai kekampung halamanku, sisa-sisa suasana dan tawa yang kupupuk beberapa hari saat berada disana, saat kita hanya dibatasi dinding dan mampu bertegur sama meski lewat pandangan nyata, aku merasakannya kembali disini, kampung halamanku. Barulah ketika kita sudah pulang, kita diberi kesempatan untuk saling mengenal dibatasi jarak yang membuntut sebagai penghalang pandangan nyata.

Berawal dari group facebook, group perkumpulan finalis perlombaan kita, hingga sampai nomor handphone. Kita bertegur sapa, menyapa kabar dan mengenal lebih jauh. Dan sejak saat itu, aku dan kamu barulah benar-benar mengenal satu sama lain, bukan hanya sebatas sama-sama finalis, sebatas gue-elo. Kini aku dan kamu adalah sahabat sebatas jarak sebagai pemisah. Semenjak perkenalan kita yang bisa kubilang terlambat itu, semenjak saat itu aku merasa bahagia memilki seseorang yang luar biasa peduli dibentang jarak dan ruang waktu yang berbeda. Terkadang, kala malam datang, kita sama-sama menatap langit, menikmati pancaran bintang yang sengaja Tuhan ukir, sebagai pembuktian bahwa kita sebenarnya berada dalam dimensi yang sama, hanya jarak pelengkap untuk mengukir asa agar kita bercita untuk merencanakan pertemuan kedua.
0

Cinta Tak Cukup Sampai Disini


Cinta, setelah kepergianmu yang tak pernah mau aku pahami jalannya, yang tak bisa aku mengerti mengapa, aku hanya bisa diam. Terhipnotis pada kesendirianku, sama seperti dulu ketika aku tidak sama sekali mengenalmu, menjumpaimu pada malam-malam sepi dihiasi angan.

Sudah kukatakan, aku terbiasa sendiri (lagi) disetiap malam-malam kelam. Tak apa, jawabku sendiri. Aku sudah belajar banyak hal dulu sebelum kisah kita kutulis, ketika aku hanya berani menyimpanmu rapat dalam relung. Aku sudah membiasakan diri menomer duakan kamu setelah kesibukkanku yang bisa membuat aku tenang ketika kenyataannya aku hanya menjadi perempuan yang mencintamu dalam diam. Sekarang aku kembali, menjadi yang dulu lagi. Memprioritaskan kesibukkanku dan menomer duakan kamu.

Sepertinya berlaga bahagia didepan semua orang didunia lebih membuat aku tertantang untuk menjadi perempuan yang tegar, kuat. Berlaga melukiskan senyum palsu yang semua orang hanya paham itu adalah bahagia, tanpa tau apa dibalik senyum palsu itu. Buktinya, sudah ada saja yang kagum pada ketegaranku, dan saat itu aku tau aku berhasil terlihat tegar didepan semua orang.

Setelah kepergianmu, kita melangkah sendiri-sendiri. Khayalan-khayalan kita yang pernah ingin kita lakukan berdua, masa depan kita, semua cukup sampai disitu. Sampai pada sebuah titik dimana kita sama-sama jenuh dengan keadaan, pada jarak yang memisah. Sebenarnya aku bisa saja mempertahankan kamu, namun rasaku tak cukup sampai disini, bahagiaku tak cukup sampai pada aku menjadi milikmu dan kamu menjadi milikku. Aku butuh kamu, hati kamu yang melirikmu tak setengah seperti ini. Cinta, itu bahagiaku! Kamu paham?

Setelah kepergianmu, aku mulai menata kembali tiang-tiang perasaan yang sempat roboh dan remuk tak tertata rapi. Sisa-sisa perasaan yang sulit aku jelaskan dengan kata, tapi bisa kulukiskan dengan rasa. Malam-malam dimana kita terbiasa memulai perbincangan panjang, sebenarnya saat itu, aku sudah memelukmu, memeluk erat bayangmu dari kejauhan. Dalam jarak sejauh itu, aku bisa merasakan kehadiranmu melekat disampingku. Aku terbiasa memelukmu pada saat bintang mulai bertaburan. Dan apakah yang bisa aku lakukan setelah kepergianmu? aku tertunduk lemas menatap langit-langit kamarku dan seolah membuat bayanganmu sendiri disana. Terkadang aku tersenyum basi saat itu, dan meyakinkan diriku, menguatkan diriku sendiri, "sudahlah"

Setelah kepergianmu, aku kira semua akan berakhir, hilang begitu saja dimakan waktu dan kesibukkanku. Tapi, semakin kesini, semakin jauh kita, semakin mengarah pada perasaan ingin melupakan, aku malah ingin mengangkat tangan tanda tak mampu. Aku menyerah. Aku kira cinta cukup sampai disini. Sampai pada titik dimana kita sama sama meninggalkan, meski kamu yang lebih dulu. Aku kira cinta cukup sampai disini, cukup sampai pada saat dimana kamu benar-benar melupakanku. Aku kira, cinta cukup sampai disini, sampai pada saat aku menyerah mempertahankanmu. Namun cintaku ini apa? Apa layak disebut cinta? Cinta sejati misal, apakah kamu cinta sejatiku? Pantaskah aku berbicara soal cinta, tanpa paham betul konsep cinta dan mencinta.

Setelah kepergianmu, setelah cinta tak cukup sampai disini, setelah tangis malam-malam kelamku, setelah saat itu aku paham, aku seperti ini hanya karna aku mencintaimu. Cinta tak cukup sampai disini, sampai pada semua berakhir cinta masih bisa saja dipupuk atau tak sengaja terpupuk hingga masih menjadi-jadi dalam hati. Cinta tak cukup sampai disini, sampai pada titik dimana aku ingin melupakanmu. Aku bisa saja nelupakanmu dalam hari-hariku, namun aku tak kan bisa sampai disitu. Aku hanya akan sampai pada titik dimana aku akan berusaha melupakanmu, tapi tidak melupakan. Bagiku cinta ini adalah kamu. Bagaimana bisa aku berlaga cinta cukup sampai disini sedang aku masih cinta-cintanya?

Aku mencintaimu, dan cinta tak cukup sampai disini. Sampai kita berakhir bahkan aku bisa saja merindukanmu dan menyimpanmu rapat-rapat (lagi) dihati, hingga suatu hari Tuhan memberi jawaban bahwa aku tercipta hanya untukmu, dan kamu tercipta untuk memberi cinta dan membuat bahagia dihariku. Cinta tak cukup sampai disini, sayang. Cinta akan berakhir ketika Tuhan mengajakku untuk berpindah tempat dan mempertemukanku pada sosok lain disana. Dan saat itu kamu akan merasakan bagaimana cintaku cukup sampai disini.
Back to Top