0

Melupakan, Namun Tak Berpindah Part 1 (Cerbung)

Aku buru-buru memasuki Caffe tempat biasa aku dan sahabatku ketika SMA menghabiskan waktu hanya untuk ngopi bareng dan cerita-cerita, Caffe Blueberry. Dengan membawa segumpal rindu, aku menyebarluaskan aroma sedap rindu dan berjalan seperti dikejar para fans yang membuntut dibelakang. Aku baru merasakan rasanya jauh dari perempuan cerewet bernama Vlora ketika kami berdua sama-sama memutuskan untuk saling meninggalkan semenjak menyandang status mahasiswa. Dan aku pun begitu yakin Vlora baru menyadari ketidak adaan sahabat baik bernama Dearine. Aku.

Dan wow.... Perempuan cerewet itu sekarang berada didepanku. Spontan kami berdua menjerit dan menyebut nama satu sama lain sambil berlari mendekat layaknya pemeran film india, itulah cara kami melepas rindu. Semenjak kuliah, aku dan Vlora sangat jarang bertemu, 6 bulan sekali tepatnya kami baru bisa saling berbagi satu sama lain. Menceritakan hal-hal kecil dan besar yang kami berdua lalui semenjak menjadi mahasiswa. Sedang asyik bercerita ini itu, aku pun terhenti pada salah satu pertanyaan Vlora.

    "masih?" Vlora bertanya dengan lirih, kutangkap ada rasa kecemasan dari raut wajahnya.
Aku diam dan mengalihkan pandangku keluar jendela. Sembari menatap alun-alun jalanan yang dipenuhi kendaraan, ada yang terlintas dibenakku saat itu. Vlora begitu tau bagaimana peraasaanku, bahkan ketika sudah menginjak bangku kuliahpun dia masih sangat hapal bahwa sahabatnya ini masih menyimpan rasa pada sosok tanda kutip. Mungkin Vlora bisa membaca tulisan transparan didahiku, mungkin.
    "De, ngapain sih kamu betah-betahhin perasaan itu?" Vlora berkata pelan. Ada perubahan yang aku tangkap dari ucapan Vlora itu. Calm.
    "apaan si, Vlor?" Tanyaku sambil bergaya seolah ngga ngerti sama sekali. Vlor adalah panggilanku pada Vlora semenjak kami saling mengenal, rasanya malas ketika harus menambahkan 1 huruf setelah r dari kata Vlora.Sama halnya dengan Vlora yang selalu memanggilku dengan dua huruf D-E, De.
    "Move, De! Kamu ikhlas sakit-sakitan terus gini?"
Move, iya move. Satu kata itulah yang sering sampai ketelingaku walau bukan untuk aku, dan hari ini, saat ini justru akulah yang menjadi fokus untuk mendengarkan baik baik kata MOVE. "siapa yang sakit Vlor? aku sehat kok, nggak liat aku bisa ketawa lepas gini? becandaan mulu siihh"
    "Siapa sih temen kamu yang tau betul kamu itu ada kenapa-kenapanya? 3 tahun loh De, 3 tahun bukan waktu yang singkat untuk aku kenal kamu. Dan 3 tahun itu juga bukan waktu yang singkat buat....." Vlora seketika diem. "buat kamu bertahan, De!"
Aku diem, seolah-olah saat itu Vlora menjadi hakim yang sedang berbicara dan aku menjadi orang yang dihakimi yang hanya berhak diam dan mendengarkan.
      "Hidup itu tentang perubahan De! kamu masih ngga ngerti konsep itu?"
Aku terdiam basi mendengar kata-kata Vlora yang terdengar lembut. Iya, aku mengakui bahwa aku memang masih menyimpan perasaan untuk seseorang ketika aku memasuki SMA, bersamaan ketika aku mengenal Vlora. Saat itu, aku hanya berani menyimpan perasaan itu dan menceritakan lewat kata pada Vlora meski Vlora sangat sulit mengerti bahwa aku mencintai sosok lelaki dalam tanda kutip tersebut. Menginjak tahun ke-2 aku menyimpan perasaan itu, rasaku masih sama. Ada lelaki yang mendekat, namun yang kurasa aku tak merasakan hal yang sama dengan lelaki lain itu.
     "aku ngga bisa, Vlor!" aku membuka omongan.
     "karna kamu ngga pernah nyoba, De!"
     "karna kamu ngga pernah lihat usaha aku untuk nyoba ngelupain dia, makanya kamu bilang aku ngga pernah nyoba, Vlor"
     "nggak ada yang harus kamu usahain, ngelupain dia itu bukan suatu usaha De, tapi suatu keharusan!" Vlora ngga mau kalah.
      "kamu sadar Vlor? kamu bicara gini karna kamu ngga pernah ada diposisi aku!" Aku tersenyum simpul.
Vlora diem sebentar. "3 tahun De, 3 tahun kamu mendem perasaan itu sampe akhirnya dia tau kalo kamu punya perasaan itu tapi apa yang bisa dia lakuin? dia cuma senyum-senyum kaya orang begok dan dengan bangga hati membiarkan perasaan kamu. Kamu sadar De? hal yang kamu lakuin ini, tetep mendem perasaan ke dia itu bakal bikin kamu sakit sendiri. Kamu tau, orang pertama yang salah? itu kamu De! Sekarang aku tanya, apa latar belakang kamu tetep nyimpen perasaan ini De? Lelaki diluar sana banyak De, jauh lebih baik dari dia!"
      "Rio, Vlor. Cuma Rio yang bisa bikin aku bener-bener ngerasa sempurna. Kamu tau? ngebaca pesan singkatnya bikin aku senyum-senyum sendiri, ngebayangin dia pas aku mau tidur dan ngimpiin dia, ngeliat dia dari kejauhan, nyimpen perasaan ini diem-diem. Kamu tau gimana rasanya? aku seneng Vlor".
      "Dan apakah itu cukup buat kamu seneng, De?"
Vlora berhasil membuat aku seakan terpojok, kadang omongan Vlora masuk akal, tapi bandelnya hatiku tetap saja bertahan dengan perasaan ini.
      "Denger De, kamu ngga kasian sama hati kamu, sama diri kamu sendiri, kamu ngga ngasih kesempatan untuk merasakan seneng dengan lelaki lain yang bukan bernama Rio? Move De!"

Aku terdiam, bersamaan itu Vlora juga membuntut diam sambil menyeruput coffe manis yang sedari tadi samar-samar aroma wanginya. Kami sama-sama terdiam dan tenggelam dalam keheningan.Sementara Vlora mencari kata-kata untuk dirangkai lagi, aku bergeming dan terfokus pada sosok Rio yang sedari tadi seolah ingin dideskripsikan walau hanya lewat lamunan.
Namanya Rio, teman satu sekolahku ketika di SMA, nggak ada yang spesial darinya, sikapnya bahkan nggak bisa aku nilai bahwa dia menganggap aku adalah seorang perempuan yang patut untuk dilindungi. Sama kayak dia merlakuin temen cewek lainnya. FLAT.
Yang paling aku inget pas kita sama-sama ikut olimpiade mewakili SMA, dia mengikuti olimpiade fisika dan aku olimpiade astronomi. Waktu itu dijam tambahan kami seluruh siswa yang mengikuti olimpiade diminta untuk keluar dari jam belajar dikelas dan memfokuskan diri belajar untuk olimpiade. Tepat saat itu, temanku tidak masuk sekolah dan entah bagaimana persisnya akhirnya aku dan Rio terjebak dalam satu ruangan yang sama, berdua. Bukannya belajar mengenai materi masing-masing, kami berdua malah asyik ngobrol hal-hal yang nggak penting sama sekali. Yaaaaa kaya nyeritain kejadian dia di asrama malam itu, karna kebetulan Rio tinggal diasrama. Dan apapun yang aku rasain saat itu yang paling aku mengerti adalah rasa gugup yang menggerogoti kepedeanku. Aku salting. 15 menit berlalu, hentakan suara kaki dari siswa-siswa yang lain semakin mendekat dan mereka semua mendapati aku dan Rio sedang duduk berdua didalam kelas. Ledekkan-ledekkan kata "ciyeeeee" semakin bikin aku gugup dan senyum-senyum. Mungkin jika aku sedang memegang cermin saat itu, kudapati pipiku merah merona.
Bel berbunyi dan kuputuskan untuk kembali kekelasku untuk mengambil tas dan peralatan sekolah lainnya baru  memutuskan untuk pulang kerumahku. Dan wow, Tuhan ternyata mendorong Rio untuk menemaniku mengambil tasku yang tertinggal diruang kelasku. Sedetik dari tawaran Rio itu, aku langsung mengiyakannya. Kamipun berjalan bersama menyusuri kelas yang sudah mulai kosong dan tiada bersua. Aku tersenyum sumringah.

    "aku yakin saat ini pun kamu lagi ngebayangin Rio. Iya kan De?" pertanyaan Vlora memecah lamunanku.
Buru-buru aku mengernyitkan kening dan tersenyum sinis pada Vlora. Aku diam.
    "Gini deh De, aku tanya deh sama kamu, sampe kapan kamu bakal nungguin dia? sampe dia selesai kuliah disana lalu balik kesini dan menggandeng kamu, gitu?"
Aku nggak ngejawab sedikitpun.
    "Trus apa yang terjadi kalo ternyata sepulang dia nyari ilmu disana, 4 tahun dia bakal balik lagi kesini dia udah nggandeng cewek dan udah mutusin bakal nikah sama cewek itu. Apa yang kamu dapat De? selembar undangan yang tertulis lengkap nama dia dan perempuannya." Tegas Vlora.
Aku masih membungkam.
    "Bisa nggak jangan jawab pertanyaan aku dengan bisu, De? aku serius! Hal buruk yang kemungkinan bakal terjadi, pertama dia 4 tahun kuliah disana, mustahil dia nggakk punya cewek atau gebetan. Kedua, dia lulus dan dia balik kesini tapi sudah menyandang seorang cewek yang teramat dia cinta. Ketiga dia bakal menetap disana dan ambil kerja disana. Dan terakhir, setelah dia menetap disana, kamu bakal jadi orang yang terlupakan, De!" Kali ini suara Vlora mulai memuncak.
    "aku nggak tau, Vlor" aku tertunduk dengan linangan air mata yang sedari tadi ingin kujatuhkan.
Vlora mendesis kecewa. "sekarang kamu lihat diri kamu sendiri De, kamu rela nangisin dia, sedih karna dia, tetep mikirin dan nyimpen perasaan kedia sedang dia disana, kita nggak pernah tau dia disana kaya apa, Bogor De, jauh dari pandangan kamu. Jarak kalian itu jauh, dan nggak akan mungkin bisa menumbuhkan benih cinta dihati dia. Oke deh kalo kalian tetep kontakkan dan berharap dia menjadikan kamu temen perempuan terdekat atau bahkan bisa jadi lebih, tapi kamu nggak tau kan ada berapa banyak cewek yang nongkrong di inboxnya? nggak kan?"
Spontan kuangkat wajahku dan menatap lurus kemata Vlora.
   "Maaf" Satu kata menyusul dari mulut Vlora.
Kutundukkan lagi wajahku, sekarang yang aku rasa linangan air mata dikelopakku terasa penuh dan akan segera terjatuh. buru-buru kutundukkan dan mengedip-ngedipkannya beberapa kali agar tidak jadi terjatuh. Terlambat, air itu perlahan menetes.
   "Tuh kan, netes". Vlora manyun.
Aku menghela nafas panjang dan... "Gini deh Vlor, kamu percaya cinta sejati?"
Vlora mengangkat bahu dan aku menyepakati bahwa Vlora tak begitu mempercayai itu.
   "Tuhan udah punya rencana lain buat aku, Vlor"
   "Lah terus?"
   "Rasa sakit ini misal, suatu saat akan dibalas dengan senyum yang berlimpah. Aku percaya Rio itu cinta sejati aku"
   "cinta? bullshit!" Vlora mengucapkannya dengan lantang, sedetik kemudian berpasang-pasang mata dari sudut kiri, kanan memerhatikan kami dengan kening berlipat. Aku dan Vlora saling memandang dan membalas satu persatu sorotan tajam para penikmat Caffe lalu kembali saling memandang, terdiam. Dua detik kemudian, kami memecah suara dengan cekikikkan besar yang seolah terlihat konyol dengan sisa-sisa jejak air mata yang masih membekas dippiku. "huahahahhahhaha"

TO BE CONTINUED.......
   
0

Mencinta Tanpa Batas Waktu

Aku belajar banyak hal dari hubungan kita, dari ketersalahan hubungan yang tidak seharusnya ada, kita. Aku menyadari hal-hal yang seharusnya tidak pernah aku inginkan sebelumnya. Aku menyadari, semua apa yang aku anggap bahagia ketika memilikimu itu seharusnya tidak perlu, aku tau aku sudah bahagia sebelum menemukan cinta didalam dirimu. Betapa bodohnya aku, merasakan bahagia bersamamu, bahagia dimiliki olehmu yang hanya sementara waktu itu.

Aku memberimu ruang untuk merasakan gejolak cinta yang aku miliki, aku bodoh bukan? Iya, aku sadari itu. Hingga akhirnya kamu sampai pada titik dimana kamu lupa cintamu yang kau taruh dihatimu untukku yang entah disebelah mana itu. Dan memutuskan untuk meninggalkan hubungan kita yang saling mencinta. Ahh tidak, hanya akulah yang mencinta, tidak denganmu.

Kau sadar, hingga saati ini aku masih mencintaimu namun kuputuskan untuk mengabaikan sisa-sisa perasaan hingga meninggalkan kamu yang sudah lebih dulu meninggalkan aku.
Aku sebut aku sebagai tahanan, yang melarikan diri dan tidak bertanggung jawab atas perasaan-perasaan yang sudah aku pupuk dan kubiarkan menjadi-jadi ini. Hingga kini pun, aku menyadari tiada yang salah soal cinta. Cinta membuat aku merasakan dua hal sekaligus secara bersamaan, bahagia dan sedih. Dan ketika aku terluka karna cinta, luka memaksa aku untuk menjadi sosok yang dewasa. Aku tau hal inilah yang terjadi padaku.

Aku ingin memilikimu dengan sederhana, aku ingin memilikimu dengan sisa-sisa perasaan yang kukubur semenjak kita sama-sama saling meninggalkan meski kamu yang lebih dulu. Aku ingin mencintaimu dan memilikimu tanpa batas waktu. Hinggaku tetap membiarkanmu hadir disisa-sisa cerita malam sendiriku. Aku membiarkanmu tetap melukis kebersamaan kita yang kini sulit kurengkuh (lagi). Kubiarkan cinta tetap hadir dihatiku, kubiarkan cintaku tiada usai. Karna buatku, tiada yang salah soal cinta. Cinta menyadari aku bersikap sabar hingga saatnya tiba aku akan memiliki sosok lelaki, sampai aku menyatu dengan tanah, meski bukan kamu.

Jika lelaki itu benar bukan kamu, beberapa tahun yang akan datang, akan kulihat diriku dicermin dan bayanganmu membuntut dibelakangku dimana aku sedang menggandeng lengan seorang lelaki yang akan kucintai tanpa batas waktu namun hingga akhir waktu dan kita saling membalas senyum. Mencinta tanpa batas waktu, aku bahagia...
0

Meninggalkanku yang Sedang Cintanya, Kamu. TEGA?

Malam itu, kuputuskan untuk menghubungimu lagi. Setelah tiada kutemukan hadirmu disudut ruanganku, tiada kutemukan namamu dilayar handphoneku, dan setelah tiada kurasakan desah suaramu melekat dipendengaranku. Aku kehilanganmu.

Berjarak beberapa hari setelah malam yang memecah bahagia yang biasa kita rajut bersama, semenjak saat itu aku merasakan ada yang benar-benar hilang. Malam yang biasa kita gunakan untuk merangkai tawa kini berbalas sepi sendiri. Tidak lagi kutemukan hadirmu disudut malamku. Kamu menghilang dan seolah tiada ingat dengan khayalan besar kita berdua. Kamu dan aku menjadi KITA. Kamu ingat itu?

Namun, yang kudapatkan hanya kosong. Kehampaan yang menggambarkan tanda tanya, takku temukan jawaban atas semua tanyaku. Seketika itu, kamu seolah menjadi lelaki bisu yang hanya bisa menatapku tanpa bisa melakukan apapun itu. Bodoh! Hanya satu kata yang kutangkap dari raut wajahmu itu, "Maaf". Ahh sudahlah, aku tak benar benar yakin kamu meminta maaf atas kesalahanmu ini. Iya, ini semua salahmu!

Kamu tetap diam, dan seolah berkata "aku akan pergi tanpa penjelasan". Hey! Kamu fikir kamu ini siapa? semudah itu datang dan pergi sesuka hati. Kamu ingat bahwa ini adalah hati, bukan persimpangan jalan yang bisa kapan saja kamu lewati. Kamu tau???!

Kamu, kamu tinggalkan dimana sebuah cinta yang dulu pernah kita ukir dalam jarak yang memeluk kita erat, dalam ceritamu yang melukiskan seorang perempuan tulus bernama aku? Kamu masih ingat dimana kamu meletakkan cinta untukkku? Disudut hatimu yang mana? Ingatkah?

Hanya satu kata saja, "pergi". Iya, itu memang hanya satu kata. Tak serumit rumus matematika, tak sepusing rumus fisika yang diturunkan, tak sedalam puisi-puisi sastra. Mudah bukan? Ya, Iya. Berlaku juga untuk yang ditinggalkan? Tidak! Kamu pergi dariku dan aku harus menata ulang semua perasaan-perasaan ini yang bahkan aku sudah lupa dimana kuletakkan perasaan sebatas teman untukmu. Aku sudah terbiasa dengan perasaan-perasaan yang mungkin salah ini, aku sudah terbiasa memilikinya dan diawali beberapa tahun yang lalu. Aku memilihmu untuk menghuni hati.

Heyy... Rasanya aku ingin bertanya baik-baik lagi denganmu mengenai masalah ini, mengenai kita. Aku ingin menatapmu saat ini juga dan mengumbarnya tepat didepan matamu. Aku ingin mendengar bahwa kamu benar-benar tidak peduli denganku (lagi). Kamu tau kenapa? Aku hanya ingin hatiku jera dan memutuskan untuk pergi pula meninggalkan kamu yang sudah lebih dulu meninggalkan aku.

Aku mencintaimu, semenjak mataku buta akan lelaki lain. Aku mencintaimu, semenjak aku tau aku seakan menjadi perempuan yang kamu sayang karna perasaan teramat dalam milikku ini. Aku mencintaimu, semenjak kata tak lagi bermakna. Aku mencintaimu, semenjak rasa menjadi sangat istimewa. Aku mencintaimu, semenjak malam terasa siang dan siang terasa malam. Aku mencintaimu, semenjak membawa namamu didalam bukuku. Aku mencintaimu, semenjak mengadukanmu pada Tuhan. Aku mencintaimu, semenjak aku sadar bahwa aku perempuan biasa dan ingin menjadi sempurna ketika dicintai olehmu, cinta. Aku mencitaimu, semenjak malam yang tiada henti memutarmu dalam lelapku. Aku mencintaimu, semenjak aku membawa-bawa bayangmu dalam hariku. Aku mencintaimu, semenjak kuputuskan hanya kamu yang akan aku perkenalkan dengan ayahku. Aku mencintaimu, semenjak aku tau bahwa aku mencintaimu. Aku mencintaimu tanpa tanda tanya, tapi aku mencintaimu dengan penuh kejelasan. Kamu paham?

Hingga akhirnya, kamu memutuskan untuk meninggalkan perempuan seperti aku, perempuan yang hanya bisa mengatakan mencintaimu namun kamu abaikan. Dengan puing-puing perasaan ini, harus kubawa kemana sisa-sisa perasaan yang masih cantik dan enggan beranjak pergi? Harus kubuang kemana sedang akupun masih menginginkannya tetap tinggal. Kamu meninggalkanku? Meninggalkan aku, perempuan yang pernah kamu cinta atas dasar ketulusan. TEGA?
0

Lalu, Bagaimana dengan Perempuan Tulus Bernama AKU?



Dan waktu pun berjalan selayaknya, aku menyadari bahwa cinta ini tak cukup untuk dipendam semata. Beberapa tahun lamanya, ia masih saja tetata rapi dalam balutan kasih. Entahlah, aku tak pernah tau bahwa hatiku punya resep rahasia menjaga cinta ini hingga saat ini dan aku mulai berani mengumbarnya lewat sebuah buku yang sengaja aku coret dengan tanganku berisikan tentang cinta, tentang aku dan kamu, tentang perasaanku, tentang kesedihan dan kebahagiaan akan cinta yang aku miliki ini.Sejak saat itu, aku tau bahwa waktu sedang berpihak padaku, pada cinta milikku. Kau melirikku setengah mencinta, dan aku tau itu.
Aku milikmu, mulai saat itu. Lengkung bibirku sumringah membawa aku merasakan berjuta rasa yang begitu sulit untuk aku ungkapkan dengan kata. Lihat! Seharusnya saat itu kamu bisa melihat wajahku, semestinya kamu bisa melihat betapa aku merasakan sesuatu hal yang entah harus aku sebut apa. Taukah kamu, dalam hari-hariku sebelumnya, aku tiada lelah membawa-bawa namamu dalam ceritaku pada Tuhan. Dalam setiap sujudku, bibirku seolah tak pernah lupa untuk menyebut 1 nama, bernama kamu. Tuhan pun tak pernah bosan mendengarkan setiap doa-doa yang aku lantunkan. Dan aku tau, Tuhan mengabulkannya saat ini.
Tak beberapa lama dari itu, aku menangkap hal aneh yang bisa aku baca dari sikapmu itu. Iya, sikap yang kau tunjukkan padaku beberapa waktu yang lalu dengan saat ini, berbeda. Aku bisa membaca itu, dan kamu tidak pernah memahami bahwa aku jauh lebih peka darimu.
Tidakkah kamu ingat, semua ucapan-ucapan yang sengaja kamu lontarkan meski lewat sebuah telpon genggam. Dari sini, meskipun kamu tak yakin bahwa aku begitu ingat smuanya dan mengharapkan sebuah tindakan yang kamu janjikan. Aku mengingat itu dan ingin sekali menagihnya sekarang. Ingatkah kamu pada perempuan yang kamu puji dengan sebuah ketulusannya? Ingatkah kamu pada perempuan yang menulis sebuah cerita nyata berisi perasaannya? Ingatkah kamu pada perempuan yang terlihat maya dari sana tapi terlihat nyata ketika kamu baca kata demi kata pada sebuah buku itu? Ingatkah kamu pada perempuan yang kamu cinta atas dasar sebuah ketulusan? Ingatkah kamu pada perempuan yang kamu bilang dia tak pantas menjadi pacar tetapi lebih pantas menjadi seorang istri bagimu? Ingatkah bahwa perempuan itu adalah aku? Ingat?
Aku merasakan satu persatu kata itu mulai hilang. Kata-kata kamu menyayangi aku dan mencintai aku sudah hilang sejak saat itu, yaa sejak saat kamu mulai mengabaikan semua perasaanku. Meski hal itu sudah perlahan luntur, tidakkah kamu tau, aku masih saja membawa namamu dalam perbincangan panjangku pada Tuhan. Aku masih memintanya pada Tuhan. Kamu tidak sadar?
Bukankah, aku sudah memperingatkan bahwa sebenarnya aku tidak berniat bersamamu! Lalu mengapa godaan itu ada saja datang dan memaksa aku untuk meng-IYAkan pertanyaanmu waktu itu. Konsekwensinya aku rasakan saat ini, hey. Pernah kuucapkan bahwa aku tak ingin bersamamu, bukan, bukan karna aku tak mencinta. Aku bilang aku hanya takut suatu saat waktu merampasmu secara paksa dariku sedang aku lagi cinta-cintanya padamu. Bukankah itu hal yang paling-paling menyakitkan?
Dan inilah yang aku rasakan, aku mulai muak dengan perasaanku ini. Aku mulai menikmati gerimis kecil yang aku cipta ketika malam kelam datang. Aku mulai terbiasa menghiasi malamku dengan sepi tanpa kehadiranmu di layar handphoneku. Aku mulai membiasakan diriku sendiri kala sepinya malam yang hanya bisa diobati oleh kamu. Sadarkah kamu hal itu? Rasanya, sakit.
Kamupun pergi ketika aku sedang cinta-cintanya. Tidakkah kamu menyadari sisa sisa perasaan yang masih menggunung dalam hatiku. Ia masih tertata rapi disini, dan kamu pergi menyisakan tangis yang mendalam. Aku tertegun pada malam-malam dimana kita terbiasa memulai percakapan panjang tentang khayalan-khayalan masa depan kita nanti. Aku membisu dengan kata yang sulit aku lontarkan, dengan mata terpenuhi genangan. Kamu merasakan apa yang aku rasakan?
Inilah yang selalu aku takutkan, kepergianmu. Aku tidak tau akan menjadi seperti apa rasa-rasa yang terbiasa aku simpan selama beberapa tahun belakangan ini. Aku tidak tau akan ku bawa kemana semua rasa yang mungkin salah bagimu ini. Aku tidak tau akan jadi seperti apa aku yang tidak pernah bisa melupakanmu semenjak aku mencintamu beberapa tahun yang lalu. Karna yang aku tau, aku tetap bisa menjaga perasaan ini hingga tahun ke 3 semenjak aku mencintaimu dalam diamku.

Harus seperti apa perempuan biasa seperti aku? ketika kamu memilih pergi darinya dan memutuskan untuk tidak kembali lagi? Harus seperti apa perempuan itu, hingga sedemikian rupa ia bisa lupa dalam sekejab semua tentangmu, tentang janji-janjimu, tentang khayalan-khayalan yang sudah terlanjur?
Kamu memilih pergi karna satu hal yang sulit aku pahami, kamu memilih sendiri dan tak ingin bersama siapapun kecuali dia. Iya, dia perempuan lamamu. Bagaimana aku tak sulit memahamimu, karna seharusnya kamu bersamaku disini, merangkai bahagia dan mulai melupakan dia. Karna aku tau, ada aku disini. Perempuan yang kamu bilang adalah perempuan yang tulus.

Kamu pergi dengan diam dan tiada kata yang bisa kamu ucapkan sebagai pesan terakhir. Seolah kamu tak ingin kebahagiaan mendekatiku, kamu pergi dengan menciptakan raut yang membuat aku merasa kamu membenci aku. Perempuan yang begitu kamu puji dengan ketulusannya dan saat ini kamu membencinya. Iya, dia adalah aku. Salahku apa?
Kamu terlihat bahagia disana, berbeda dengan aku, aku terlalu terbiasa dengan perasaan-perasaan yang sulit aku hilangkan ini. Aku terbiasa mencintamu walau dalam diam. Aku terbiasa memiliki perasaan yang sudah berusia panjang ini. Aku terbiasa mencintaimu dan sudah terbiasa tidak mencintai lelaki lain selain kamu selama beberapa tahun ini. Dan kamu malah memilih pergi meninggalkan aku?
Lalu bagaimana dengan perempuan tulus bernama aku????

0

Tegar, namun Masih Ada

Derai linangan air mata..
penuh... menutup pandangan,,
menetes, basahi tetes demi tetes
 tergenang dalam gumpalan kesedihan..
tertatih..
terluka..
gelisah..
Rasa kehampaan
juga..
meraung dalam kesendirian,,
bukan tanpa cinta
bukan tanpa sosok kekasih
 namunn penuh kecewaa.....
Terkurung dalam keterpurukan
Kerapuhan,,
terjatuh, jauuuuuuuuhhhh....
dalam jurang kesedihann..
hanya hampa,,
meskii mengangkat muka dengan senyum indah,,
meski seolah berkata bahagia
namun masih ada.......
0

Hantu Bayang

Semalam, itu datang lagi
Aku tanya pada siapa
Tak menjawab..
Diam dalam hening
Malam ini itu datang lagi
Tak sisakan banyak apa
Lalu aku tanya lagi pada siapa
Lagi-lagi diam dalam sapa
Saling bertatap malam ini
Hitam kelam menusuk
Putihnya terangi
Tajam dalam bisu
Cerah bayangnya
Hantui kelam menuju fajar
 Lambaikan langkahnya
Menuju Petang hingga datang lagi kelam
0

Bayang Sesalku

Bayangmu hadir lagi
mengisi malamku, tiada waktu terhenti
mungkin tak sengaja terbentuk
dari halusinasiku tentang kamu

disana seolha berbisik merdu
tersenyum dalam bisunya bayangmu
namuun.. Kuingat dulu
ini hanya menyesatkan ku jatuh
menyesak.. Menggebu anganku
tak terungkap, tak terjawab hatiku juga olehmu

waktu bercerita dan beralun
tak apalah, biarlah in berlalu
kini aku berpangku sesal
sesak mengenalmu
lara hati penuh kamu
remuk aku dalam bayang sesal

biarlah.. Rasa ini sampai mati
biar.. Menggumpal tak tertahan
terkuburlah kau bayang sesal ini
tak terungkap, juga tak terjawab
0

Ku Lelah Menggebu dalam Bisumu

Tabrakan waktu itu
merangkai kisah kita
bukanlah tabrakan maut
tabrakan berkesan lewat indra..
Bibir bentuk setengah lingkar
menatapmu tenang layak air dlm genangan
hatipun mengata
lewat mata kukenal dalam..
Tubuhku tegak berpaku
terpesona akan wajahmu
namun.. Lelah mataku
tatap kamu, kamupun membisu...
Dicerminan masa depan ini
kita beranjak sendiri sendiri
aku dsana n km disini
namun aku kembali lelah
dalam kondisi terpisah..
Diwaktu lain, tak sengaja aku berpulang hanya sekedar melihat dikau betapapun aku menggebu
tapi kulihat kamu masih membisu...
0

Mengenalmu, Ada Rasa yang Sulit Aku Artikan

Hayy…. Iya kamu, kamu yang tiba-tiba tiada bisa aku pungkiri begitu saja hadir dalam setiap hariku. Bagaimana tidak, kita saling mengenal semenjak satu sekolah dan aku pun mulai benar-benar mengenalmu semenjak saat itu. Iya, saat kita dipaksa saling mengenal atas dasar pertemanan temanku. Aku tak begitu mengenalmu ketika awal masuk sekolah, justru aku tidak menghiraukanmu sedikitpun. Tapi hanya karna kamu adalah temannya temanku, akupun mulai mengenalmu mungkin bisa dikatakan lebih jauh.

Semenjak saat itu, ada hal berbeda yang aku tangkap dari sorot matamu. Ahh, entahlah apapun itu, aku sudah bisa mengartikan dari setiap sorot matamu yang memandangku. Dalam setiap pandang dimana kita tak sengaja bertabrak pandang, aku bisa merasakan hal yang berbeda. Matamu menatap tajam kedalam mataku, dan aku tau disitu tersirat sebuah makna yang sulit untuk dijelaskan. Entahlah, akupun saat itu malas untuk menjelaskannya pada bayanganku sendiri ketika aku bercermin dan tak sengaja mengingatmu kala itu. Seakan bayangmu menghantui pada setiap malam dimana akulah tokoh yang tersisksa selalu teringat bayangmu yang maya itu.

Yaaa, semakin hari semakin yakin bahwa kamu selalu menjadi-jadi dalam setiap malamku, aku menyimpanmu dalam setiap malam sepiku, walau secara berterus aku selalu berusaha mengubris semua bayanganmu itu. Tapi yang kudapatkan, kamu justru semakin menguat dalam pikiranku. Ahh, tak apalah pikirku, mungkin ini hal biasa dan seiring waktu berjalan semua akan hilang. Akupun mengizinkanmu mengobrak-abrik pikiranku dengan semua bayanganmu, kamu berhasil menguasai pikiranku dan membuat aku tak berdaya dengan semua bayangmu yang benar-benar terasa penat disana, dihatiku.

Kudapati kamu berhasil masuk kehatiku, tanpa bisa mengelaknya akupun membiarkan hal itu terjadi. Entahlah semua ini datang begitu saja, begitu sulit aku menjelaskannya. Dan aku sempat mengelak dengan mengatakan bahwa aku tidak sama sekali mempedulikan rasa ini. Tapi berjalannya waktu, rasa itu semakin menjadi-jadi dan membuat aku merasa benar-benar tersiksa atas ini. Kamu berhasil berkuasa didalam hatiku.

Memang, sejak awal berjumpa, ada hal yang sulit aku jelaskan. Bukan, bukan soal rasa tapi hal lain yang entahlah artinya apa. Hingga sampai saat ini akupun tak mengerti, mengapa waktu membawaku hingga mengenalmu lebih jauh seperti ini. Secuil pun, tak pernah aku meminta untuk mengenalmu seperti ini. Kamu tau kenapa? Aku hanya takut menjadi sakit seperti perempuan selayaknya. Aku takut mengenalmu dalam dengan alasan aku takut sakit. Bukankah itu masih manusiawi?

Semenjak mengenalmu, berbeda dengan mengenal lelaki lain sebelumnya. Ada hal aneh yang tersirat disini, dihatiku. Setiap kita bertabrak pandang, sedetik kemudian yang aku rasakan didadaku adalah detakan jantungku yang berdetak cepat. Setiap kita tak sengaja saling berpapasan, aku selalu menunggu lengkung bibirmu menyapaku dan membuat aku tersenyum pula. Ahh, kamu memang tak pernah bisa mengartikan pandanganku yang berpusat padamu. Kala dari kejauhan, mataku berkeliaran panjang menelusuri pandangku pada setiap sorot yang bisa dijangkau mataku. Aku mencarimu kala itu, mataku asyik bermain-main dengan bolanya menyeleksi wajah yang ketika pandangku terhenti padamu takkan kubiarkan melirik hal lain apapun disekitarku. Aku berpusat padamu.

Kamu tak seperti aku, yang mudah saja peka dengan semua apa yang ada didekatku. Terkadang, aku membatin dan memintamu untuk bisa sedikit saja peka dengan apa yang aku rasakan. Tapi, ahh sudahlah mungkin memang akulah yang diminta Tuhan untuk memiliki perasaan aneh seperti ini. Hingga aku tetap membiarkan perasaan ini tetap tumbuh dan menjadi sejadi-jadinya.
Harusnya aku tak pernah mengenalmu jika seperti ini akhirnya, harusnya dari awal kita tak pernah saling mengenal jika hanya aku yang benar-benar merasakan hal ini, seharusnya hanya Tuhan yang tau dan menyimpan rahasia besar ini, hanya Tuhan harusnya yang bisa mengartikan perasaan aneh ini. Dalam kelemahanku ini pun aku masih sempat mengatakan dan meminta Tuhan untuk mencabut perasaan yang tak pernah aku undang ini. Aku meminta Tuhan mengambilnya secara paksa dariku, aku meminta Tuhan menyingkirkannya dari hatiku. Karna buatku, aku sudah lelah dengan rasa ini, aku lelah dengan rasa yang tidak jelas ini, aku hanya ingin merasakan perasaan yang sewajarnya saja. Dan menurutku, rasa ini sudah tidak wajar. Rasa ini menggerogoti hati ini dan membuat aku benar-benar lemah.

Taukah? Pada setiap malam, ada hal yang tak pernah aku inginkan. Bayangmu. Aku tak menginginkan hal itu mengganggu tidurku, sekalipun aku tertidur tak jarang kamu merasuk dan mengusik tidur lelapku dan aku terganggu akan itu. Semudah itu, kamu menghantui aku. Atas nama perasaan, lalu kamu seenaknya saja menjadi-jadi dalam fikiranku. Memangnya kamu itu siapa? Bisakah sedikit saja jangan menggangguku, karna aku ingin tenang dengan perasaan sebatas teman saja, bukan perasaan selain teman. Sebenarnya, aku ingin mengenalmu hanya sebatas teman. Teman. Tapi ternyata, perasaan lain lebih dulu datang dibanding perasaan sebatas teman tadi. Dan tiada perasaan lain yang bisa mengalahkan perasaan sebatas teman selain CINTA. Aku mencintaimu, teman.
0

Ketika Kuminta Kau Jangan Pergi

Tak pernah seperti ini sebelumnya, mampu bertahan selama itu dengan perasaan yang masih sama. Tak pernah kuminta bahkan. Smua mengalun seperti halnya harus berjalan. Berjuta gerimis kecil yang ada dimata, tertahan hingga suatu ketika ada masanya menggumpal dan tak tertahan hingga menetes. Itulah hal yang bisa aku lakukan ketika kuat pun tak mampu kurengkuh. Aku terjatuh dalam dan rasanya enggan mengobatinya. Aku tertahan pada suatu masa dimana kutemukan cinta yang membuat hariku berwarna. Salahku memang, tak pernah mencoba membuka hati hingga akhirnya aku tak temukan yang lebih dari ini. Hingga akhirnya aku masih terpaku pada sosok ini dan enggan menemukan yang lain.

Aku, perempuan yang mengulum khayalan dan harapan yang begitu besar serta menahan pedihnya rasa. Itulah aku, bertahan dengan berjuta rasa yang menyeruak menggerogoti kekuatan hati hingga tak sempurna lagi. Aku lemah. Aku merasa sendiri.

Satu kata terakhir yang benar-benar aku ingat darimu adalah, “pergi”

Setelah banyak tanya yang aku lontarkan dan hanya dengan 1 kata itu kamu menjawabnya.

Aku diam, dan mulai lagi gerimis kecil dimataku muncul dan tak tertahan hingga menetes. Terkumpul sebuah perasaan dan harapan yang enggan terucap dengan jelas dimulutku. Aku tetap diam, dan meresapi tetessan air mata ini. Entahlah apalagi yang bisa aku lakukan selain menikmati kesedihan dan kesakitan ini? Selain diam dan menyesali cinta yang sudah kujaga sejauh ini. Rasaku ingin menahanmu tuk tetap tinggal disini, mengisi hariku lagi. Rasaku ingin menahanmu tuk menikmati cintaku lagi. Rasaku ingin menahanmu tuk tetap tinggal direlung hati dan memintamu untuk jangan pergi.

Tertatih ku rangkai kata demi kata dalam hatiku sambil menahan sesakku. “Bolehkan kuminta kau jangan pernah pergi?!”
Back to Top