Heyy.. Aku terfokus diam pada malam-malam dimana kita biasa
dipertemukan. Pada keheningan malam yang menyatukan kita, memulai
perbincangan hingga kita sama-sama terpejam tak sadar.
Aku
menemukanmu disudut malam yang berbeda, bayanganmu yang sudah tidak
bisa aku dekap lagi, suara serakmu dan nyanyian konyol dengan suara
khasmu yang membuat aku tertawa ketika mendengar lagu demi lagu kau
nyanyikan bersama temanmu, lantunan gitar yang kau akui itu adalah
petikan jemarimu, khayalan-khayalan masa depan kita, cerita-cerita
panjang pengalamanmu disana yang kadang aku hanya mengiyakan tanpa paham
makna yang tersimpan dalam teori-teorimu yang sebenarnya membosankan
untuk aku dengarkan karna itu bukan jurusanku untuk tau semua teori-teoi
yang kau dapatkan selama kamu kuliah disana. Kasarnya, itu bukan
urusanku untuk tau materi-materi perkuliahanmu yang tidak ingin aku
pahami, namun masih kudengarkan.
Terkadang
aku terdiam dan kebingungan menghantuiku untuk memulai membahas topik
lain, tapi kamulah yang mudah mencari topik baru hingga obrolan kita tak
terasa basi. Aku mulai tersipu malu ketika kamu bahas tentang coretan
panjangku pada buku yang aku berikan padamu, pada pengakuanku selama
beberapa tahun menyimpan rahasia besar selama SMA dan akhirnya
keberanianku terkumpul hingga kukirimkan sebuah buku cerita yang aku
tulis dengan tanganku sendiri. Berulang kali kubaca dan berulang kali
kupandangi foto-foto yang sengaja kutempel disana, aku merasa bosan jika
terus menerus menyimpan sampah bukti perasaan ini dalam lemariku.
Hingga mungkin suatu waktu akan kuputuskan untuk membakarnya sama
seperti kamu yang dengan mudah membakarku dalam ingatanmu, setahuku.
Namun kuurungkan dan kuputuskan untuk menyerahkan pengakuan besarku
meski berharap kamu membakarnya dan menginginkan cerita baru yang aku
tulis. Aku dan kamu, KITA.
Malam yang
beda, aku tak sengaja terjaga. Mungkin bukan tak sengaja, ada yang
mendorongku untuk terjaga dan aku terenyak diam sambil meraba-raba
mencari keberadaan handphoneku. Ahhh, aku merasakan hal yang sama
seperti setelah kita sama-sama saling meninggalkan. Sebenarnya aku yang
lebih dulu memutuskan untuk menjadikan cerita kita sebagai sebuah
kenangan. Kamu tau? itu karna kamu yang lebih dulu membuat aku lelah
memperjuangkan cinta yang tak kunjung kau pahami jalannya. Kamu lebih
banyak diam dan tidak balik memperjuangkan. Aku menyerah dan satu hal
yang bisa kamu lakukan, hanyalah "pergi" ucapmu tanpa kejelasan apapun.
Aku
terdiam, dan kudapati mataku sudah penuh oleh linangnya. Semakin
kuresapi dan kubiarkan ia menjadi-jadi hingga kutangkap air mataku pun
jatuh pula. Pipiku basah. Kuraih sejumput kain yang membatasi pandangku
pada kegelapan diluar sana. Kupasati dalam-dalam dan aku terenyak jauh
teringat obrolan kali pertama kita, kudapati saat itu aku duduk diam
menatap keluar jendela dan tersenyum kecil mendengar serak suaramu
ditelingaku. Kegelapan yang sama, jam yang sama dibeberapa bulan yang
lalu aku sedang menikmati perbinjangan panjang kita. Sekarang? Aku
sendiri.
Aku meraih handphoneku dan
mencari kontakmu, rasaku ingin menghubungimu dan mengungkapkan kata
rindu. Tapi kenyataanya, mengungkapkan kata rindu tak sesederhana
menikmati rasanya, mencintai sakitnya menahan rindu, ditambah lagi aku
dan kamu bukanlah sebuah kata KITA melainkan aku dan kamu sekarang dalam
dimensi yang berbeda. Aku minus kamu.
Pilihan
yang tepat saat itu adalah menghapus kontakmu dan mengurungkan niat
untuk menghubungimu. Itu lebih sakit dari yang aku bayangkan, menghapus
kontakmu itu tandanya aku takkan menemukan namamu dalam ponselku dan
takkan bisa menghubungimu. Right! itu memang pilihan yang tepat. Cinta
tak cukup mencintai, cinta butuh untuk merelakan dan melepaskan itulah
mengapa cinta selalu dihubung-hubungkan dengan pengorbanan. Ahh, aku
memang pandai jika berbicara soal ini, faktanya memproyeksikannya dalam
diriku sendiri saja sulit aku lakukan.
Lima
jemariku menghapus air mata yang masih deras jatuhnya, dengan sengaja
kusisakan jejak-jejak air mataku yang terasa lengket dipipi. Kuraih
dompetku dan kuhentikan jemariku pada sebuah foto yang dengan manisnya
bertengger disana. Wajahku dan wajahmu, memasang raut luar biasa
manisnya. Mampu menutupi perasaan masing-masing yang entah apakah kamu
senang berlaga tersenyum berdampingan berdua denganku difoto itu. Aku
tersenyum simpul dan kembali lagi imajinasiku memainkan hal-hal yang
pernah kita lalui, dulu.
Tak terbendung
lagi, gerimis kecil dimataku tumpah lagi. Kali ini aku berusaha berkedip
agar tak terjatuh, terlambat, pipiku sekarang basah lagi. Sebenarnya
aku sulit mengungkapkannya bagaimana tiba-tiba malam bisa membangunkanku
yang sudah terlelap sejak sore hingga kamu dengan mudahnya bertengger
dalam pikiranku dan membawaku kemasa lalu. Bagaimanapun aku
mengungkapkannya siapapun tidak akan bisa merasakan pedihnya kecuali
mengalaminya sendiri. Iya, merindukan seseorang dimalam kelam dan tak
didapati siapapun disana yang bisa menjadi sandaran untuk menumpahkan
kerinduan itu.
Dengan sisa-sisa cerita yang bisa kusebut
kenangan, dengan bodohnya aku merindukanmu malam itu, dengan diam-diam
kutemukan wajahmu pada malam itu. Malam perbincangan panjang kita,
dimana kutuangkan kerinduanku pada sosok jauh dirimu disana. Ruang
rindu.
Heyy.. Kamu kemana? Aku merindukanmu, bodoh.
0
Langganan:
Komentar (Atom)
Diposting oleh





